5 Permainan Anak Khas Bima Jaman Dulu

Potret Bima, Kahaba.- Dunia anak adalah dunia bermain, demikian orang mengatakannya. Bagaimana tidak, dalam masa pertumbuhan anak imajinasi dan kecakapannya (skill) diasah dalam beragam aktivitas yang menyenangkan. Namun tahukah anda, sejumlah permainan anak tradisional Suku Mbojo (Bima) akhir-akhir ini semakin sulit ditemukan?

Pada jaman dulu, khususnya di era sebelum hiburan dan komunikasi mengglobal seperti sekarang ini, anak-anak Bima senang meluangkan waktunya dengan bermain. Pada sore dan terkadang malam setelah menjalankan sholat Isya, mereka biasanya berkumpul dengan teman sebaya di halaman rumah maupun tanah lapang. Kebersamaan dan keakraban terjalin erat dengan melakoni berbagai macam permainan anak tradisional hingga mereka kecapekan atau dijemput pulang oleh orang tua mereka.

Namun pengalaman bermain permainan anak tradisional kini tidak lagi sama seperti pada era 80 sampai 90an. Beragam mainan modern semakin mudah didapatkan. Berbeda dengan permainan tradisional yang lebih banyak menonjolkan kerjasama tim dan sarat akan nilai-nilai edukasi, permainan modern seperti playstation dan aneka game online lainnya lebih banyak mengajarkan anak untuk menikmati waktu sendiri tanpa harus berinteraksi dengan sebayanya di luar rumah.

Untuk menyegarkan ingatan pembaca, berikut Kahaba.net hadirkan lima permainan tradisional Bima yang kini makin lekang dimakan jaman:

  1. Mpa’a Ncimi Kolo

Mpa’a Ncimi Kolo biasa juga dikenal dengan nama Jaga Pan, atau dalam bahasa Indonesia disebut petak umpet. Permainan ini memiliki banyak varian. Yang sering penulis mainkan, Ncimi Kolo merupakan permainan beregu yang masing-masing regu berjumlah 4-8 orang.

Dalam satu sesi bermain, satu regu akan bertugas sebagai jaga yaitu harus mencari anggota regu lain yang bersembunyi. Tentunya terlebih dahulu para pemain menyepakati batasan area persembunyian misalnya dalam lingkup satu RT. Apabila seluruh pemain lawan sudah ditemukan, maka akan ada pergantian tugas antara kedua regu.

  1. Mpa’a Lewa Pehe

Permainan ini pada prinsipnya sama dengan Mpa’a Ncimi kolo, namun bedanya kedua regu sama-sama bersembunyi layaknya dua pasukan yang sedang berperang. Senjatanya adalah teriakkan. Ya, anggota regu yang pertama kali menemukan lawan akan meneriakan nama lawan ibaratnya sedang menembakkan pistolnya. Lawan yang sudah ‘ditembak’ itu dinyatakan ‘mati’, tidak aktif lagi dalam permainan karena dikeluarkan dari permainan.

Mainan senapan yang terbuat dari pelepah daun pisang. Foto: Kaskus.co.id

Mainan senapan yang terbuat dari pelepah daun pisang. Foto: Kaskus.co.id

Walaupun lebih sering dimainkan tanpa alat, namun untuk menambah sensasi seru dalam bermain maka para pemain terlebih dahulu membuat sendiri pistol atau senapan dari bahan pelepah pisang atau kayu.

Lewa pehe biasanya dimainkan di kebun atau di bukit dekat perkampungan. Tujuannya agar semakin banyak tempat bersembunyi sehingga sulit ditemukan oleh lawan. Tak jarang anak-anak membuat semacam camo suit dengan bahan dedaunan atau memanjat pohon agar tidak dengan mudah ditemukan. Unsur sportifitas tentunya harus dijunjung oleh pemain agar tidak ada pasukan yang tetap bermain walaupun sudah dinyatakan ‘mati’ oleh peraturan. Menarik bukan?

  1. Mpa’a Bente

Dalam permainan ini anak-anak dibagi menjadi dua regu. Masing masing regu akan mengambil jarak 10-15 meter. Tiap regu harus menjaga dua bua batu yang diletakkan sejajar dengan jarak sekitar empat meter. Batu pertama yang berfungsi sebagai benteng dan batu kedua yang berfungsi sebagai penjara.

Pada prinsipnya dalam mpa’a bente setiap pemain diharuskan merebut benteng lawan menangkap pemain lawan dengan cara menyentuh anggota tubuhnya. Pemain yang tertangkap akan ditempatkan di batu kedua yaitu penjara dan baru bisa bebas apabila teman seregu membebaskan dengan menyentuhnya.

Baik penjaga benteng maupun tawanan selama bermain harus menginjak batunya masing-masing. Sebagian penjaga benteng akan keluar benteng untuk merebut benteng lawan atau membebaskan kawan. Permainan hanya berakhir apabila pemain berhasil menginjak batu benteng atau menangkap seluruh pemain lawan.

  1. Mpa’a Tapa Gala
Arena dan aturan bermain Tapa Gala.

Arena dan aturan bermain Tapa Gala.

Permainan ini merupakan adopsi dari permainan gobak sodor di daerah Jawa. Dalam mpa’a tapa gala, dua regu akan bergiliran menjadi regu yang bermain maupun yang jaga.

Dimainkan oleh lima hingga enam orang tiap regu, tapa gala menggunakan arena berupa garis yang membentuk bidang kotak seperti pada gambar.

Permainan berakhir apabila seluruh pemain berhasil menyebrang hingga ke belakang arena lalu kembali ke titik asal dengan selamat atau juga ketika regu yang berjaga berhasil menangkap dengan menyentuh pemain lawan. Karena itu dalam permainan ini sangat dibutuhkan kelincahan bergerak agar dapat dengan mudah menangkap lawan atau lolos dari hadangan lawan.

  1. Mpa’a Kolo

Dalam permainan beregu ini, alat yang dibutuhkan adalah sebuah bola yang biasanya dibuat dari gulungan kertas yang diikat dengan gelang karet atau bisa juga berupa bola tenis. Selain itu juga dibutuhkan beberapa potongan genteng bekas yang disusun/ditumpuk dengan agak tinggi serupa bangunan kastil.

Mpa'a Kolo. Foto:arif.rahmawan.web.id

Mpa’a Kolo. Foto:arif.rahmawan.web.id

Cara bermainnya, pemain yang aktif pertama akan berusaha merobohkan kastil lawan dengan menggelindingkan bola dari jarak tertentu. Apabila kastil roboh, regu pemain akan bergegas berlarian karena regu yang berjaga akan menggunakan bola itu untuk melemparkannya kearah lawan. Pemain dinyatakan menang apabila mereka berhasil menyusun kembali puing-puing kastil yang mereka robohkan tanpa sekalipun terkena hantaman bola dari regu penjaga.

Permainan ini kendati sederhana tetapi sarat akan strategi bermain. Biasanya regu penjaga akan menyamarkan posisi bola agar pemain tidak mengetahui pada siapa bola berada.

Menarik bukan? Semoga sajian Kahaba.net kali ini bisa membawa memori pembaca akan kayanya berbagai ragam permainan masa lalu yang kini jarang ditemui lagi. Nantikan artikel berikutnya mengenai beragam jenis mainan anak tradisional Bima.

*Arief

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Rhara

    Widiiiw… jadi inget masa lalu. Dulu waktu kecil saya dan keluarga tinggal di Bima di kelurahan Rabangodu. Tiap sore suka maen petak umpet, pernah ada anak yang dicari gak ketemu. Pas hampir magrib baru ketemu, lagi tidur di pojok kolong rumah… hahahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *