Geliat Pembuatan Kapal Kayu Tradisional Sangiang

“Nenek moyangku seorang pelaut gemar mengarung laut samudera…“

Potret Bima, Kahaba.- penggalan lirik lagu tersebut menggambarkan kedigjayaan dunia maritim Nusantara yang sejak dulu berperan menjaga keamanan wilayah dan menjadi sarana transportasi andalan antar pulau. Sisa-sisa kejayaan teknologi bahari Indonesia dalam bentuk usaha pembuatan kapal tradisional salah satunya masih dapat kita lihat di Desa Sangiang.

Sentra pembuatan kapal tradisional Desa Sangiang. Foto: Jim

Desa Sangiang, desa di bagian utara Kecamatan Wera Kabupaten Bima, memiliki daya tarik tersendiri berupa aktivitas masyarakat yang erat dengan dunia bahari. Sejak dulu warga Sangiang dikenal sebagai pelaut ulung, di mana sebagaian besar warga menyandarkan hidupnya sebagai ABK (Anak Buah Kapal) dan beberapa kelompok masyarakat piawai dalam pembuat kapal. Proses pembuatan kapal kayu tersebut telah mereka lakukan secara turun-temurun dan masih bertahan hingga saat ini.

Hujrah (46) adalah salah seorang warga asli Sangiang yang berprofesi sebagai pembuat kapal. Ayah lima orang anak ini bercerita bahwa pembuatan kapal di Sangiang mulai marak lagi sejak tahun 2011. Sebelumnya, pada tahun 2004 terjadi penurunan volume pembuatan kapal produksi Sangiang karena maraknya penangkapan kapal kayu oleh pihak keamanan laut  akibat pengetatan kebijakan illegal logging. “Bila tertangkap, ABK akan dipenjara dan kapal tersebut akan disita, kemudian dibawa ke Surabaya untuk dilelang oleh Negara,” tuturnya.

Para pembuat perahu kayu tradisional Sangiang mampu mebuat kapal dengan ukuran tonase yang beragam, mulai dari 20 ton hingga 700 ton. Biaya yang mereka keluarkan  untuk membuat kapal dengan tonase 200 ton berkisar pada angka Rp 250 juta. Ini untuk membayar tenaga kerja yang digaji Rp 125 ribu per hari dengan jam kerja mulai pukul 7 pagi sampai jam 5 sore.  Karena tingginya biaya pembuatan satu unit kapal, maka biasanya mereka membuat kapal berdasarkan pesanan konsumen.

Hujrah mengungkapkan, lama waktu pembuatan kapal bergantung pada ketersediaan bahan baku pembuatan kapal yaitu  kayu yang mampu tahan terhadap korosi air laut dan panas. Kayu dengan spesifikasi seperti itu bisa ditemui pada kayu ulin serta kayu yang dalam istilah lokal disebut sebagai haju sambi dan haju loa. Apabila persediaan kayu melimpah, dalam satu tahun para pengerajin kapal kayu tradisional di Desa Sangiang dapat memproduksi dua hingga lima kapal dengan tonase lebih dari 200 ton. Dengan maraknya penangkapan kapal kayu dan semakin sulitnya mendapatkan bahan baku, praktis geliat pembuatan kapal menurun. Kini panggita (tukang pembuat perahu) Sangiang hanya mampu menghasilkan 1 buah kapal dalam jangka waktu 2 tahun.

Pembuat kapal yang masih melakukan dengan cara tradisional, di Desa Sangiang, Kecamatan Wera. Foto: Jim

Pria bersahaja ini mengaku, Ia memperoleh keahlian membuat kapal dari orang tuanya yang diwariskan secara turun-temurun. Untuk membuat sebuah kapal, pengerajin kapal kayu tradisional Sangiang tidak memiliki gambar kerja layaknya perusahaan galangan modern. Pengalamanlah yang menjadi acuan utama mereka dalam membuat sarana transportasi laut itu. Dengan keterbatasan mereka, banyak kapal yang telah mereka hasilkan menjadi bukti bahwa kapal-kapal kayu produksi Sangiang diminati pembeli.

Salah satu sosok pengusaha yang konsisten menggunakan kapal hasil produksi masyarakat Sangiang adalah H. Adlan (42). Pak haji yang juga memelihara ratusan ekor  sapi ini memiliki 5 unit  kapal kayu mulai dari tonase 50 ton sampai dengan tonase 500 ton.

Beliau memaparkan, suka duka bagi mereka yang menjalani usaha ini adalah minimnya ketersediaan kayu ulin. Kayu jenis ini harus didatangakan dari Kendari (Sulawesi Tenggara) yang tentunya membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Namun bila kapal telah dioperasikan maka keuntungan yang besar akan segera di raih. Kapal dengan tonase besar biasanya dimanfaatkan sebagai pengangkut kayu antar pulau di Indonesia.

Ditulis: Muhammad Akbar, S.Pt
Disunting: Arief

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *