Satgas Bima Jakarta Gelar Seminar Terorisme dan Stabilitas Daerah

Jakarta, Kahaba.- Satu Gagasan (SATGAS) Bima-Jakarta menyelenggarakan seminar Nasional di Hotel Grand Alia Cikini Jakarta. Acara tersebut dihadiri Tokoh Nasional seperti AM FATWA, Burhan Magenda, Umar Abduh Mantan Teroris dan Edi Mukhlis Anggota DPRD Kabupaten Bima.

Seminar Terorisme dan Stabilitas Daerah yang digelar Satgas Bima Jakarta. Foto: Dzulhijjah

Seminar Terorisme dan Stabilitas Daerah yang digelar Satgas Bima Jakarta. Foto: Dzulhijjah

Muslihun Yakub Staf khusus DPD RI sekaligus penanggung jawab pelaksana acara mengatakan, seminar dimaksudkan mengukur persepsi publik dan pandangan tokoh-tokoh Bima Jakarta, tentang Pengaruh Terorisme dan Radikalisme terhadap stabilitas wilayah secara regional, khususnya di Kabupaten Bima saat ini dan di masa datang.

“Menguatnya isu tiga tahun belakang ini yang menempatkan Bima sebagai Pusat Jaringan terorisme, sejatinya adalah komuditas politik yang mestinya harus dipangkas,” ujarnya.

Menurut dia, Bima Bukan Timur tengah yang tak pernah sepi dari konflik, Bima bukan ambon yang pernah menyisahkan sejarah konflik yang berakar dari gerakan radikalisme RMS, Bima bukan Aceh yang menyisahkan perang gerilya sipil bersenjata yang di sebut GAM, Bima bukan Papua yang selalu memberontak dengan gerakan OPM.

Masalahnya, daerah-daerah di tanah air yang memiliki kisah kelabu perlawanan terhadap NKRI tak tersebut dan tak terlibat sebagai pusat atau basis kebangkitan Radikalisme Islam, justru Poso menjadi biang yang di hakimi sebagai Markas aksi terorisme, dan dalam banyak hal Bima menjadi bagian dari peta jaringan POSO dibawah operasi Santoso dan Daeng Koroi yang sudah tewas tertembak oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri.

“Menempatkan Bima sebagai pusat reproduksi radikalisme adalah anggapan yang salah dan berlebihan, Bima tidak memiliki sejarah perlawanan terhadap Pemerintahan yang sah dalam sejarah bangsa ini,” tegasnya.

Atas kekeliruan mengalirnya persepsi yang salah tentang Bima, sambung Muslihun, menggugah kesadaran warga Bima Jakarta lewat Satgas Bima Jakarta, bahwa Bima sejatinya masyarakat yang beradab di bawah nilai-nilai dalam bingkai kerukunan hidup añtar satu sama lain dalam bingkai NKRI.

Muslihun Yakub

Muslihun Yakub

Tantangan Bima saat ini dan masa datang, bukan pada menguatkan isu terorisme, namun lebih pàda kemandekan Birokrasi sebagai tulang punggung Pembangunan Daerah. Kemandekan kerja birokrasi dan hilangkan sentifitas Parlemen lokal adalah embrio yang memicu potensi konflik di Daerah.

“Potensi konflik bisa lahir karena membengkaknya angka pengangguran, konflik bisa lahir dari meluasnya ketiadaan tertib sosial akibat penegakan hukum yang tak tuntas. Artinya potensi lokal bukan bersumber dari gerakan terorisme, sehingga mencoba mengsumsi isu terorisme yang menhantui masyarakat Mbojo adalah kesalahan dalam berfikir,” jelasnya.

Upaya mewujudkan Masyarakat Bima yang maju dan mandiri serta bebas dari konflik, kata dia, harus di mulai dari membangun Birokrasi yang profesional dari semua tingkatan, membangun tradisi politik lokal yang sehat, termasuk debat debat di Forum DPRD Kabupaten harus menggali isu isu strategis yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak.

Dengan demikian Satgas Bima Jakarta menyimpulkan, membangun masyarakat Bima yang bebas dari konflik harus di mulai dari pertama membangun birokrasi yang profesional dan handal sebagai tulang punggung pembangunan daerah, memudahkan lahirnya pelayanan Prima, kemudian DPRD Kabupaten Bima harus peka dan sinsitif mengapresiasi dan mendorong kepentingan masyarakat dalam rumusan kebijakn eksekutif.

“Masyarakat harus mampu membangun kemandirian tanpa perlu bersandar pada Pemerintah agar Pemerintahan bisa bekerja dalam skala prioritas dan fokus memajukan Daerah. Saat yang sama Pemerintah harus peka dan tangkap menjawab tantangan dan tuntutan perubahan sehingga Bima bisa sejajar dengan daerah daerah lain di tanah air,” tambahnya.

*Zulchijjah Djuwaid- Penulis juga anggota Satgas Bima-Jakarta

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Ahad, 24 Jumadil Akhir 1437 H/03 April 2016, “Satgas Bima Jakarta Gelar Seminar Terorisme dan Stabilitas Daerah“ NTB,
    Nara Sumber Prof. Burhan Magenda, Dr.(Hc) AM Fatwa, Umar Abduh, Dr. Sudhartha dan Edi Mukhlis (DPRD), dan dari Pemda Kabupaten Bima diwakilkan oleh Dr. Syamsuddin (Kadinas Kependudukan). Saya mendapat kesempatan untuk bertanya dan menyampaikan saran dan pendapat, pada kesempatan terbut saya katakan bahwa masyarakat Bima mayorita berama Islam (Masyarakat Islami), dan religius, menjadi benteng Krestenisasi dari Timur ke Barat, Bima hanyalah korban fitnah, dianggap radikal, pelarian teroris dan sarang ISIS. Saya jelaskan bahwa semua itu operasi intelejen, sekitar pada thn. 1984 Tuam Guru H. Gani Masykur, Maman Hs. dan kawan-kawan sejumlah 27 orang yang menghadiri pengajian Muhammadiyah dirumah kediaman TGK.H.Gani Masykur ditangkap dan dibawa ke KODIM Bima, mereka dituduh dikaitkan dengan peristiwa Talang Sari Lampung. Foto Tentara yang sedang berlatih Sondo Sia dikirim ke KOMKAMTIB jakarta dilaporkan bahwa mereka adalah kelompok orang-orang yang mau melawan pemerintah. mereka ditahan dan dipenjarakan, Muhammad Hendro Pryono telah datang ke Bima menemui TGK H.Gani Masykur dan meminta maaf. Dan saya ikut dalam konsoliadasi islakh Korban Talang Sari Lampung dan Bima. Saya juga singgung penyerbuan Ponpres Umar bin Khotab di Sondo oleh Densus 88 dituduh ada guru ngaji yang menjadi anggota
    Masyarakat Bima harus tetap bersemangat walaupun dijadikan korban fitnah, masyarakat Bima harus tetap bersemangat menegakkan kebenaran, melawan kemungkaran dan rezim penguasa pemerintah yang zolim, ( waktu terbatas). Dan saya titipkan tulisan saya tentang UU Terorisme, Islam Tidak Mengajarkan Terorisme dan Umat Islam Bukan Terorisme.

    .

  2. MUSMULIADIN PUTRADONGGO

    (KRITIKAN DAN ANCAMAN DARI GENERASI MBOJO IMBAS DARI KERISIHAN YANG TERJADI DIDAERAHNYA)
    Saya yakin dou mbojo bukanlah orang yang mudah dipermainkan dengan isu2 murahan seperti terorisme yang dbuat semata2 adalah kegiatan kaum radikalisme islam karna Bima merupakan muslim terkuat dan mayoritas. Saya menganggap itu semua adalah sebuah konsep yang saya rasa adalah bagian dari upaya memberikan stigmanisai terhadap orang bima yang memang selama ini daerah bima terkenal sebagai benteng dan tameng dari upaya politisasi dan kristenisasi yang coba di lancarkan oleh lintah2 perusak tatanan kehidupan yang kufur terhadap apa yang diberikan Tuhan.
    kami generasi Bima tentunya tidak akan tinggal diam dengan apa yang dibuat atau dikonsepkan dalam hal upaya untuk menjadikan bima adalah sasaran untuk target terselubung oleh kaum kepentingan.
    BIMA adalah daerah yang memunculkan generasi2 harapan bangsa bukan generasi yang dianggap sebagai pelopor perusak bangsa. cukuplah daerah yang lain adalah korban dari propaganda idiologi sempit yang perlu disadarkan.
    tapi, jangan sekali kali daerah Bima dibuat atau bagian dari sasaran operasi terselubung karna kami generasi selanjutnya tidak akan memberikan kesempatan untuk hal2 yang sifatnya mengobrak abrik tatanan hidup didaerah BIMA yang kami cintai bersama.
    mari kita tunjukan bahwa kita masyarakat bima yang seharusnya dan yang diharapkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *