Rentannya Kesehatan dan Keamanan Jemaah Haji Lansia

Citizen Journalist, Kahaba.- Pemberangkatan Jama’ah Calon Haji tahun ini telah di mulai. Jama’ah Calon Haji asal NTB sekarang sudah bisa langsung diberangkatkan melalui Bandara Internasional Lombok (BIL). Kloter CJH NTB tergabung sebagai kloter Lombok. Calon Jama’ah haji asal NTB yang berjumlah 4.563 orang jama’ah terbagi dalam 15 kloter yang langsung berangkat dari BIL menuju Jeddah.

Salah satu Jemaah Calon Haji (JCH) yang dalam kondisi lumpuh namun tetap bisa melakukan ibadah haji dengan pendamping khusus. Foto: Cen

Mayoritas dari jama’ah haji asal NTB masih di Dominasi oleh calon jama’ah haji lanjut usia (lansia). Secara keselurahan total jama’ah haji lansia lebih dari 50% dari total calon jama’ah haji yang diberangkatkan. Hal ini tentu saja membutuhkan perhatian khusus dari tim tenaga medis yang menangani kondisi kesehatan calon haji tersebut. Sejauh ini calon haji asal NTB yang meninggal dunia baru satu orang yakni Mursyid bin Amak Fatimah (60) asal Lombok Barat yang diperkirakan meninggal akibat kelelahan.

Selain kasus kesehatan tercatat bahwa calon haji lansia banyak menjadi korban dari kasus penipuan, pencurian dan penjambretan saat tiba di Jeddah dan di tanah suci Makkah dan Madinah. Hal ini merupakan efek domino diakibatkan oleh para calon haji yang kebingungan saat tersesat dan tingkat pendidikan yang rendah sehingga dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Ironinya pelaku adalah juga berasal dari Indonesia yang menggunakan bahasa dan dialek yang sama sehingga sangat meyakinkan bagi para jamaah haji yang membutuhkan pertolongan. Hal ini telah banyak terjadi dan para jamaah haji dituntut untut selalu berhati-hati dan waspada terhadap bantuan dari pihak asing yang tidak dikenal dengan baik.

Menurut Agung yang bertugas di Balai pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Daker Mekkah, kondisi di Tanah Suci yang bagi mereka (jamaah lansia) mungkin sulit untuk beradaptasi. Stres karena panas, stres karena harus menungu lama atau mengejar bus, ini memperburuk keadaan dan menyebabkan jamaah bisa terkena Dimensia atau Gangguan Mental Organik.

Akibatnya, jamaah lanjut usia semakin cepat bingung, linglung, berbicara tidak nyambung, sehingga akhirnya dianggap sebagai pengganggu jamaah lainnya. Menghadapi kondisi seperti itu, jamaah diminta tak meninggalkan mereka demi keselamatan bersama sebagai sesama jamaah haji. [Syarif Almubarak – Mataram]

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *