Nikmatnya Sejarah Bersama 3 Sejarawan UI Pada Seminar Nasional Jejak Sang Bima dan Majapahit

Kota Bima, Kahaba.- Ternyata Sejarah itu tidak hanya ilmiah, penting, dan unik. Tetapi juga seni, menarik, mengasyikan dan sangat mengagumkan bagi para pecinta dan penikmatnya. 3 sejarawan Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Titik Pudjiastuti, Tommy Christomy, Ph.D, dan Prof Dr Agus Aris Munandar menjelaskan tentang sejarah dengan ilmiah dan sangat menarik. (Baca. Peneliti UI Ungkap Pengalaman Unik Tentang Naskah Kuno Bima)

Acara seminar nasional jejak Sang Bima dan Majapahit. Foto: Yadien

Ratusan peserta terkesima dan benar-benar menikmati uraian para sejarawan di Seminar Nasional Jejak Sang Bima dan Majapahit yang digelar di Museum ASI Mbojo, Kamis kemarin. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan rasanya ingin terus dilanjutkan, kalau panitia tidak membatasinya hingga jam 16.00 Wita. (Baca. Agus: Setelah Penaklukan Dompu, Majapahit Mendirikan Bima)

Prof Dr Titik, menjelaskan tentang pentingnya naskah atau manuskrip atau teks atau tulisan tangan dari para penulis hebat pada zamannya yang berisikan tentang hal-hal istimewa, seperti agama, politik, kepemimpinan, keteladanan, filsafat, silsilah, perjalanan, koresponden, obat, kuliner, busana, keperkasaan, hingga kecantikan.

Katanya, naskah bima sangat kaya secara kuantitas dan kualitas. Oleh karena itu harus diselamatkan dan dilestarikan dengan tiga hal, yaitu dengan aturan, dengan cara manual dan dengan teknologi digital yang kemudian disimpan dalam DVD R agar lebih awet dan mudah dimanfaatkan.

Sementara Pak Tommy Christomy, Ph.D menjelaskan tentang “Pentingnya Filologi untuk Menguak Isi Naskah”. Kata dia, untuk mengetahui masa lalu, salah satunya melalui naskah. Bangsa atau daerah yang kehilangan Naskah atau tidak menarasikan teks, ibaratnya seperti “Pohon Tanpa Akar”. Dengan kata lain, seperti daerah yang tidak memiliki identitas yang aktif atau masyarakat yang tidak memiliki memory kolektif yang aktif. Masa lalu hanya bisa dihadirkan dengan teks dan prasasti. Kalau kita tak merawat Naskah, tidak bisa membaca prasasti, tidak mau membaca teks, dan tidak juga membaca narasi sejarah, maka ini adalah ciri masyarakat yang terbelakang dan sulit mengalami kemajuan.

Nah, yang sangat menarik dalam Seminar Nasional ini adalah penjelasan Prof Dr Agus Aris Munandar Tentang “Hubungan Bima dengan Majapahit” Telaah berdasarkan Prasasti, Naskah, dan Data Arkeologi. Kesimpulan Studinya adalah bahwa Sang Bima itu merupakan Gadjah Mada. Beliau meyakini bahwa nama Bima sebagai sebuah nama salah satu daerah di NTB itu adalah sangat berhubungan dengan Mahpati Gadjah Mada pada Kerajaan Majapahit.

Lahirnya Kesimpulan dan keyakinan ini, setelah beliau mengkaji begitu mendalam terhadap ‘Para Raton, Negarakartagama dan Prasasti-Prasasti seperti ‘Wadu Pa’a’, Wadu Tunti, dan Arca-Arca yang ada di Trowulan sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit. Beliau mengatakan bahwa Situs Wadu Pa’a adalah salah satu situs yang paling berharga yang dimiliki oleh masyarakat Bima atau NTB bahkan Indonesia, karena merupakan ‘Multi Component Situs’.

Penjelasan Prof Agus tentang Sang Bima adalah Gadjah Mada beserta penguasaannya terhadap data dan sejarah Indonesia membuat sebagian besar peserta tercengang dan sekaligus terkagum-kagum. Ketika masuk sesi tanya jawab, para peserta lebih banyak yang tidak setuju dan bersemangat untuk membantahnya.

Ada banyak argumentasi dari para peserta yang menolak hasil kajian dan tafsiran pak Prof Agus tersebut dengan sumber sekunder atau hasil bacaan dari buku atau media. Tetapi semua bantahan itu dijelaskan dengan gamblang dan ilmiah. Beliau benar-benar sejarawan sejati dan sangat luas wawasannya.

Lebih lanjut, Prof mengatakan bahwa sejarah itu dinamis dan sama seperti ilmu yang lain juga terus berkembang dan bersifat relative. Katanya, kalau hasil kajian dan tafsirannya ada yang mau bantah, maka bantahlah dengan data yang lebih otentik dan lebih tinggi peringkatnya. Dalam sejarah, bahwa data atau sumber sejarah itu ada peringkatnya.

Data yang memiliki peringkat pertama adalah Prasasti yang ditulis pada zamannya, yang kedua Naskah yang ditulis pada zamannya, ketiga, prasasti dan naskah yang ditulis setelah zamannya, keempat buku atau teks yang ditulis setelah jamannya dan terakhir adalah data atau teks seperti mitos, legenda, dan semacamnya. Pesannya, kalau mau bantah atau kritik karrya ilmiah seseorang, maka bantahlah dengan karya ilmiah juga.

Salah seorang peserta mengatakan, bahwa Bima sedang krisis sejarawan, filolog, dan arkeolog. Para pecinta sejarah banyak, tetapi yang benar-benar sejarawan sangat sedikit kalau tidak dikatakan tidak ada. Daerah ini mestinya memiliki beberapa sejarawan, antropolog, filolog, budayawan, dan arkelog; agar daerah ini dapat menarasikan naskah atau teks yang menjadi warisan yang paling berharga dari generasi sebelumnya.

Dengan cara inilah daerah ini dapat mempertahankan dan melestarikan identitas kebanggaan dan kebesarannya. Nah, Pemerintah mesti berani menyediakan anggaran untuk merawat identitasnya. Dalam sambutannya, Bupati sangat mendukung untuk melestarikan budaya dan sejarah Dana Mbojo.

*Penulis: Damhuji, MPd Dosen STKIP Taman Siswa Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *