La Hila Band, Metamorfosa Musik Pop Bima

Kabupaten Bima, Kahaba.- Single Sapa Moti Malingi kini membumi di Bima, lagu bergenre Pop Alternatif dalam bahasa Bima itu cukup meramaikan belantika musik anak muda di dana Mbojo Dana Mbari. La Hila Band, yang melantunkan lagu itu kini seolah menjadi patron generasi di daerah untuk bisa ngeband dan berkarya dengan syair syair berbahasa Bima.

La Hila Band

La Hila Band

Percaya diri dengan kemampuan yang dimiliki, La Hila Band yang awal terbentuk dari Jakarta, kini kembali melebarkan sayapnya ke Ibu Kota, untuk bertarung dari kerasnya persaingan pasar dalam berkarya dibidang musik. Tidak butuh waktu lama, Band tersebut pun punya jam terbang padat untuk beraksi dari panggung ke panggung.

La Hila Band terbentuk berawal dari ide Bassist Nico Manggila, di Jakarta 1 Januari 2010 lalu, bersama sang sahabat Apen Makese. Menurut Nico, La Hila diambil dari nama seorang putri di tanah Donggo, Bima NTB, yang terinspirasi karena pengorbanan, ketulusan dan kelembutannya dalam bersikap.

“Sengaja kami menamai Band kami dengan La Hila, karena ingin mengangkat pesan dan sejarah La Hila itu sendiri, melalui syair, lagu, dan nada yang bisa dimaknai oleh generasi-generasi muda yang akan datang,” ujar Nico.

Kata dia, Formasi awal berdirinya La Hila Band beranggotakan, Nico (Bassist), Jovan (Vocalist), Dika (Guitarist), Damanhuri (Keyboardist) dan Heri (Drummer). Pada formasi awal, tercipta 10 lagu pada Album Putri Yang Hilang (Indonesia). Di album perdana tersebut, banyak bercerita tentang cinta (true story) yang diangkat dari kisah dan perjalanan pribadi hidup personil.

Sepuluh lagu itu yakni, Cerita Cinta, Cintai Dengan Abadi, Tinggalah Kenangan, Nurani, Tersakiti Lagi, 1000 Tahun, Mungkin Yang Terbaik, Walau Dalam Mimpi, Putri Yang Hilang, Untukmu Ayahanda.

Seiring berjalannya waktu, terbentuklah formasi METAMORFOSA La Hila Band yang beranggotakan Ame (Vocalist), Ajie (Guitarist), Ilham (Keyboardist), Nico (Bassist) dan Imam (Drummer). Dalam perkembangannya pun,  La Hila mengalami evolusi. Jika awalnya bergenre Pop Melayu, seiring pendewasaan para personil dalam bermusik, warna musik La Hila Band merubah menjadi Genre Pop Alternatif.

La Hila Band Perform disalah satu acara di Jakarta

La Hila Band Perform disalah satu acara di Jakarta

“La Hila Band ingin membuat suatu karya yang tidak hanya bisa didengar, tapi juga bisa dirasakan dan dinikmati oleh kawan-kawan La Hila,” tutur Nico.

Tidak sekedar menyalurkan bakat dalam bermusik, La Hila juga ingin menyampaikan pesan awal dari munculnya nama band, yakni membumikan cerita dan kisah seorang wanita yang bernama La Hila kepada masyarakat (Donggo) Bima, Dompu, Sumbawa, Lombok (NTB) dan seluruh rakyat Indonesia. Tidak saja itu, juga menjaga dan memupuk makna atau pesan dari sikap La Hila yang telah mengajarkan bahwa keinginan diri tak akan memiliki arti apa-apa jika hanya ingin puaskan ambisi dan nafsu.

Menurut dia, mengangkat nama La Hila sebagai wanita yang menjadi simbol perdamaian (bagi daerah) ke permukaan menjadi bagian untuk mengembalikan kesadaran sejarah dan budaya bagi generasi yang telah berdiaspora dari identitas daerah. Dan La Hila ingin kembali mewujudkan identitas yang terlupa tersebut, melalui musik yang menghentakan kerinduan pada rahim sejarahnya.

“Semoga nada-nada yang akan mengalir saat ini, nanti, dan seterusnya akan terus bernyawa dan dapat bermakna serta menginspirasi bagi semua kawan-kawan La Hila. La Hila Band, dari Bima untuk Indonesia,” ucapnya.

Konsisten menempuh jalur musik, sejauh ini La Hila mengalami progress yang cukup signifikan. Berada kembali di pusat pasar Musik dan jam terbang dari panggung ke panggung yang terus di asah. La Hila Band banyak menerima tawaran, seperti tampil di acara MUSIKITA TVRI Nasional, PAPPRI Se-Provinsi Banten di Tangcity Mall Kota Tangerang, tampil di acara KFC Pangkalan Jati Kalimalang di Jakarta Timur, manggung di acara Parkir Musik Live Perform Streaming di Coffee Toffee Kalimalang, kemudian Parkir Musik Live Perform Streaming di Grand Charly Rawamangun Jakarta Timur.

Tidak saja itu, lanjut Nico, La Hila Band juga mengisi acara Silaturahmi Masyarakat NTB di Kediaman Kompol Ruslan, kemudian tampil pada acara FKMB di Mahkamah Konstitusi, Badan Musyawarah Masyarakat Bima (BMMB) di Kantor Walikota Jakarta Barat, tampil pada acara FOKKA di Taman Wiladatika Cibubur.

La Hila Band Perform di salah satu Mall di Jakarta

La Hila Band Perform di salah satu Mall di Jakarta

Dalam jangka waktu dekat ini, sambung pria berbadan bongsor ini, la hila band akan mempersiapkan album TRIBUTE TO DANA MBOJO, yang didalamnya berisi 5 lagu berbahasa Bima + Single yang sebelum nya sudah dikeluarkan yakni Sapa Moti Malingi. Lima judul lagu yang akan hadir di album Persembahan untuk Tanah Bima itu masing-masing Lemboade, Cengga Ade, Sinci ma Ncewi, Tana’o Mori dan Sapa Moti Malingi.

“La Hila Band juga sekarang sedang mempersiapkan diri semaksimal mungkin, untuk tour Pulang Kampung kami ke tanah Bima Tercinta. Semoga saja tidak ada halangan yang berarti,” pintanya.

Nico juga mengharapkan doa dan dukungan yang tulus untuk seluruh masyarakat Bima, demi kelancaran dan maksimalnya produksi dan penggarapan album mini tersebut. Besar harapannya selalu bisa menghadirkan warna music yang berbeda dan segar serta tetap meninggalkan pesan dan kesan bagi seluruh pendengar dari segala macam lapisan.

“Di bulan Desember nanti La Hila Band juga dipercaya mewakili NTB di Festival Music Nusantara, antar 34 Provinsi di Indonesia dan akan berkolaborasi dengan alat music daerah yang akan di kombinasikan dengan music kontemporer di TMII Jakarta,” ungkapnya.

Dia menambahkan, single Sapa Moti Malingi kini juga bisa dinikmati di akun-akun media sosial seperti Youtube dengan alamat link https://www.youtube.com/watch?v=W30A01XgrIA, dan dapat di request di Radio-Radio di Bima seperti Pelangi FM, Bima FM dan Citra FM.

*Bin

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *