Ganz Marazo: Musik Itu Bahasa Jiwa

Musik, Kahaba.- Banyak pemaknaan berbeda tentang peran musik dalam kehidupan setiap orang. Ada yang menganggapnya sekedar bentuk hiburan pengisi waktu, ada pula yang memiliki pemaknaan lebih tentangnya.

Ganz Marazo. Foto: Arief

Salah satu punggawa dunia musik Kota Bima, Anas Ma’ruf atau yang lebih akrab disapa Ganz Marazo adalah sosok yang memiliki pandangan berbeda tentang posisi penting musik dalam kehidupan. Gitaris Marazo Band kelahiran tahun 1980 ini melihat musik sebagai sebuah bahasa universal yang dapat masuk pada tiap ranah kehidupan pendengarnya.

Musik juga bisa mengabarkan rasa dan jiwa pembuatnya, sehingga apapun kondisi perasaan sang pemusik bisa ditangkap dan dicerna dengan baik oleh penikmatnya. “Bahasa musik itu lebih dari kata-kata, lebih dari kalimat. Dia bisa membahasakan yang tak bisa disampaikan oleh keduanya,” ujarnya kepada Kahaba.

Bagi Ganz, pemaknaan itu pula yang mungkin membuatnya tetap konsisten bermusik. Marazo Band yang didirikan bersama Feri (vocal), Muy (gitar), Pak mas (bass), Joe (drumer) sejak tahun 2004 lalu hingga kini masih eksis dalam karya dan penampilan. Band yang mengusung genre Jazz, Top 41, Rock ‘N Roll, dan Blues ini selalu mendulang apresiasi dan diterima oleh pecinta musik khususnya untuk segmen pengunjung cafe dan event live perform.

Menurut Ganz, dunia musik di Bima sedikit terhambat perkembangannya jika dibandingkan dengan beberapa kota lain di Indonesia. Hal ini, berdasarkan penilaian pribadinya disebabkan karena kurangnya ruang berkreasi yang runtin bagi para musisi untuk menyalurkan kemampuannya.

“Selain tidak ter-manajemen dengan baik, banyak band lokal yang bertumbangan karena kurangnya ruang untuk berekspresi lewat ‘bahasa’ mereka,” ucapnya. Menurutnya kalangan tua di Bima masih berpikiran konservatif dengan tidak menganggap musik, khususnya aktifitas berkumpul dalam sebuah band sebagai hal yang positif. Bermusik bagi mereka dianggap sebagai biang kekacauan anak muda. Padahal menurutnya, musik adalah bentuk kreatifitas untuk menyalurkan potensi anak muda supaya mereka tidak salah arah dalam pergaulannya.

Selain itu, pemerintah juga terkesan tidak memberi kontribusi yang baik terhadap aktifitas bermusik anak muda.  Hal ini bisa dilihat dengan sulitnya perijinan untuk menggelar acara-acara pentas musik di kota Bima. Hal ini berbanding terbalik ketika pemerintah membutuhkan pemusik lokal untuk event-event resmi yang mereka gelar.

“Saya heran, kalau ngurus ijin festival atau perform musik itu sulitnya luar biasa, bahkan harus membayar dengan harga mahal. Tetapi pada saat mereka (pemerintah, red) butuh musisi dalam acara-acara resmi, terkesan mudah saja,” keluhnya.

Ganz sendiri, selain didaulat sebagai gitaris dan keyboard dalam bandnya, ia kerap menjadi juri dalam setiap kompetisi musik di kota Bima. Ia dan rekan bandnya juga hingga kini turut berkiprah mengasah talenta band-band dan pemusik lokal lewat studio musiknya yang berada di jalan Soekarno Hatta Kelurahan Pane, depan stadion Manggemaci.

Musik adalah bahasa jiwa bagi Ganz Marazo, apa arti musik bagimu? [BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. Efen Daeng Ramecy

    Terima kasih untuk rekan2 KAHABA yang telah memenuhi harapan pembaca setia seperti saya…rubrik ini adalah page yang fresh karena menjadi media untuk mengangkat dan membanggakan potensi putra-putri daerah…..mudah-mudahan liputan liputan yang berikutnya lebih hangat dan aktual…..sukses untuk KAHABA

  2. Yopi

    Apa yang dikatakan Ganz tentang sedikitnya ruang untuk berkreasi khususnya dalam hal bermusik itu benar….smg pemerintah setempat dapat lebih memperhatikan hal hal seperti ini,,,,,maju terus MARAZO…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *