Abhy Ninetynine: Saya Cinta Jazz, Dangdut Juga

Musik, Kahaba.- Hobi dan Profesi terkadang merupakan dua buah hal yang sulit diselaraskan. Begitu pula yang pernah dirasakan pada awal karir Abhy Ninetynine, vokalis muda yang berdarah Bima. Namun pada akhirnya itu bukan masalah besar bagi pecinta jazz dan dangdut dengan segudang prestasi ini. Dalam kesempatan wawancara dengan Kahaba di Yuank Caffe beberapa bulan yang lalu, Abhy membagi kisah suksesnya.

Abhy Nintenine / foto: istimewa

Bakat menyanyi Abhy jelas terlihat ketika dia masih dibangku sekolah, hanya saja kedua orang tua tak memberi restu padanya untuk mengikuti berbagai kompetisi bernyanyi di Kota Bima. Minat dan bakatnya mendapatkan tentangan dari keluarga yang menganggap menyanyi akan mengganggu aktivitas belajar.

Angin segar pun didapatkan ketika penyanyi dengan nama lengkap M. Habib Salim ini melanjutkan pendidikan tingginya di Universitas Mataram. Hidup terpisah dengan keluarga, membuat Abhy seakan mendapat ruang baru untuk mengeksplorasi lagi kemampuannya dengan mengikuti berbagai kejuaraan olah vokal baik di dalam maupun di luar lingkungan kampus.

Sederet pencapaian telah ia catat dalam buku hidupnya, diantaranya pada bulan Februari 2007, tanpa memberitahu keluarganya Abhy mengikuti audisi Indonesia Idol di Denpasar. Suara khasnya ternyata mampu membawanya ke babak penyisihan yang lebih tinggi di surabaya, sayangnya perjalanannya di Idol harus kandas pada saat mencapai babak 25 besar Indonesia.

Di lingkungan kampus, prestasi mahasiswa tingkat akhir jurusan Teknik Sipil Unram ini tidak kalah gemilangnya. Pada tahun 2009 dirinya memenangkan juara satu Pekan Seni Mahasiswa di kampusnya sehingga mengantarkan Abhy mengikuti PMS tingkat nasional di Pontianak dan masuk 5 besar nasional.

Tahun berikutnya putra lurah Santi, Arifudin H.M Ali SH ini kembali mewakili kampusnya dalam kompetisi yang sama dan di Kota Mataram. Uniknya kali ini dirinya mengikuti dua cabang lomba sekaligus yaitu kategori Pop dan Dangdut. “Sebenarnya saya suka menyanyi jazz, tapi karena waktu itu lomba yang terbuka cuma itu ya saya ikut saja,” ungkapnya pada Kahaba.

Demi mengikuti kegiatan nasional itu Abhy pun harus menangguhkan sementara rencananya untuk mengakhiri studinya bulan Mei, untungnya pengorbannya terbayarkan dengan gelar juara satu untuk kedua mata lomba yang dia ikuti.

Selain ikut berbagai kompetisi olah vocal, Abhy juga berkecimpung di dunia band. Didaulat menjadi vokalis ‘Ninetynine’, sebuah band lokal kota Mataram yang kini menggarap mini album pertamanya. Selain bernyanyi, disini Abby juga menelurkan beberapa lagu karangan sendiri yang  salah satunya menjadi tiket bandnya meraih menjuarai kontes musik Amild A Wanted Regional Bali-Nusa Tenggara pada 16 Juli silam. Pada bulan Oktober mendatang, ia dan bandnya akan berlaga di Jakarta untuk kompetisi yang sama di tingkat nasional.

Berkaitan dengan pilihan bermusik yang ia ambil, penggemar Stings, Adam Levine, dan Once ini mengaku hal itu bukan tanpa kendala. Pada awalnya dia kesulitan menentukan prioritas antara hobi dan pendidikannya, namun seiring waktu hal tersebut bukan lagi sebuah masalah yang berarti. Bahkan Abhy bisa menunjukkan bahwa dengan seni juga prospek untuk masa depan.

“Kuliah dan musik adalah dua hal yang berbeda, musik itu hobi, dan kuliah adalah masa depan. Dengan besarnya apresiasi moral dan materil orang-orang padaku, menjadikan aku berpikir menyanyi juga worth buat masa depan. Semenjak ku buktikan bahwa menyanyi itu menjajikan, dukungan orang tua yang dulu nol % kini menjadi 100%,” ujar vokalis yang kerap mendendangkan lagu Jason Mraz ini.

Selain menggeluti aliran jazz, pemuda yang tengah berusaha menyelesaikan kuliahnya ini tidak menampik kecintaaannya terhadap aliran musik lain, dangdut salah satunya. “Secinta-cintanya saya sama jazz, saya cinta dangdut juga lah bang,” akunya sambil diselingi tawa kecil. Bahkan diceritakannya, dia pernah menggarap sampai dua buah album lagu dangdut berbahasa Bima dimana didalamnya dia menjadi vokalis bersama Sri Jumhari,  musisi bima yang sekarang berada di Surabaya.

Mengenai perkembangan dunia musik di Bima, Abhy punya penilaian tersendiri. Menurutnya, Bima cukup kaya dengan berbagai genre dan segmentasi penikmat musiknya. Dalam beberapa kesempatan pulang-kampungnya Abhy melihat sendiri penampilan talent-talent pemusik Bima yang layak diacungi jempol.

Untuk ‘kalangan tua’,  Marazo band ia nilai sebagai sebuah band yang terbaik.  Ia juga secara khusus mengapresiasi tumbuhnya band-band beraliran Reggae di bima yang dipelopori oleh anak-anak muda, dimana secara kualitas dinilainya semakin keren.

Bakat-bakat seni yang dimiliki pemuda Bima menurutnya masih menghadapi kendala untuk berkembang, diantaranya masih rendahnya rasa percaya diri ketika tampil, maupun terhadap sesama pemusik. Hal ini menurutnya sangat berpengaruh terhadap totalitas hasil karya mereka untuk dapat sepenuhnya dinikmati penonton.

“Yang penting menghibur orang jadi tujuan utama, dan jangan takut keluarkan bakat kalau memang punya. Jangan kayak saya keluar daerah baru berani all around, be your self is more than they say…” pesannya menutup wawancaranya dengan Kahaba malam itu.[BQ]

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *