Bima Bersolek, Pemilukada Bereinkarnasi

Oleh: Amirulmukminin

Amirulmukminin

Amirulmukminin

Saya yakin, saat ini seluruh pasangan calon kepala daerah sedang melancarkan jurus maut untuk mengambil hati rakyat. Itu dapat berupa serangan materi dengan memberikan bantuan dalam bentuk apapun maupun janji politik yang disampaikan lewat visi/misi serta diikat dalam bentuk wujud kontrak politik dan lain-lain. Tidak lain, itu hanya sebagian kecil dari upaya untuk mengarahkan masyarakat agar menancapkan paku pada foto pasangan calon tersebut pada 9 Desember 2015 nanti.

Pada saat yang bersamaan pula, masyarakat juga menitipkan banyak harapan pada pesta politik yang berlangsung saat ini. Dengan berharap, produk Pemilukada periode ini lebih berkualitas dari sebelumnya. Kensenjangan ekonomi, pembangunan infrastruktur dan permasalahan lain yang belum tuntas dapat segera diatasi.

Satu hal yang tidak boleh kita lupakan ditengah semua harapan itu. Memastikan Pemilukada ini berjalan dengan aman dan damai. Tidak ada nyawa yang harus dikorbankan. Tidak ada orang tua, istri atau suami dan anak yang merasa kehilangan karena orang tercinta menekam dalam jeruji besi. Tidak ada bangunan yang terbakar dan runtuh sehingga menguras anggaran untuk dibangun kembali. Karena itu semua, adalah tindakan yang sia-sia saja.

Sebab, urusan politik adalah urusan yang sangat dan sangat sensitif. Ibarat bensin, sedikit saja didekatkan dengan api, habis terbakar semua. Mudah-mudahan itu tidak terjadi pada Pemilukada tahun ini.

Kita masih ingat bagaimana perjalanan Pemilukada Kota Bima beberapa tahun lalu. Kita berharap proses Pemilukada Kota Bima yang damai itu dapat “bereinkarnasi” pada Pemilukada Kabupaten Bima tahun ini. Walalupun ada kerikil – kerikil, namun anggap saja itu dinamika politik yang biasa terjadi. Tapi jika itu bisa dihilangkan sama sekali, tentu pelaksanaan Pemilukada akan menjadi gagah dan cantik untuk dinikmati.

Pesta politik ini mempertaruhkan nama baik daerah. Artinya, penentu nama baik itu ada di tangan dou mbojo sendiri. Karena citra baik dan buruk Bima, sangat bergantung bagaimana kita bertindak. Tinggal kita pilih saja, mau kehidupan berjalan dengan damai atau sebaliknya. Namun saya optimis, kita semua pasti menginginkan pilihan yang pertama, yaitu kehidupan yang damai dan tentram.

Kenapa kita harus paksakan diri untuk memoles Bima menjadi daerah yang damai?, sebab bagi sebagian orang, Bima melekat sebagai daerah konflik. Hal itu saya rasakan langsung ketika menonton konser Band Noah di salah satu daerah Jawa Timur.

Ceritanya, selesai nonton saya bersantai sambil bercengkrama dengan tukang parkir. Ketika saya memperkenalkan diri berasal dari Bima, NTB, pemuda itupun dengan enteng mengatakan “Bima yang sering perang itu mas ya?”.

Perasaan malu menampar saya mendengar kalimatnya. Sekali lagi saya harus mengakui bahwa begitu adanya. Namun setidaknya, saat itu saya mencoba memberikan pencerahan, bahwa Bima sama dengan daerah lain, kadang panas dan lebih banyak sejuknya. Anggap saja itu sebagai dinamika kita hidup, walau sebenarnya alasan itu hanya pembenaran saja.

Kondisi ini sangat berbanding terbalik dengan Bima sebagai Mbojo dana Mbari, Mbojo yang religius, Dana Maja Labo Dahu dan masih banyak label lain yang disemayamkan selama ini. Namun itu seakan sirna dengan banyaknya kejadian-kejadian yang tidak selaras dengan norma-norma yang ditanamkan. Pertanyaanya adala, siapa yang menghilangkan itu semua?, jawabannya adalah “KITA”.

Sekarang tugas kita adalah mengembalikan semua itu, bagaimana caranya tentu kita sudah paham. Hanya tindakan-tindakan yang sederhana, namun berdampak besar. Tapi hal itu sering disepelekan. Tentu pada Pemilukada ini, bukan saja momen pemilihan kepala daerah saja, namun juga kita harus memaknai sebagai Uji Kedewasaan Dou Mbojo.

Masing-masing kita beranggapan memiliki kewajiban untuk menyukseskan pasangan calon yang didukung. Hanya saja, jangan fanatik yang berlebihan, apalagi sampai menumpahkan darah dan merusak hubungan antar tetangga. Belum tentu dengan kita mengorbankan nyawa, maka pasangan yang kita dukung akan menang. Semuanya tergantung kehendak Allah SWT. Walaupun kita berusaha hingga menyerahkan nyawa sekalipun, kalau Allah tidak meridhoi maka tidak akan membuahkan hasil.

Sudah saatnya kita berbenah. Membiarkan Bima bersolek layaknya gadis cantik. Menarik perhatian banyak orang. Enak diajak ngobrol, sejuk untuk di pandang. Tentu akan banyak orang yang menyukainya, dan berharap memilikinya. Berbeda dengan gadis yang semberawut dan tidak memperhatikan penampilan, rambut kusut, tubuh penuh daki. Tentu akan banyak orang tidak menyukainya.

Seperti inilah Bima yang kita harapkan. Jika Bima sejuk, tatanan daerah yang menarik dengan penyajian budaya dan pariwisata yang maksimal. Keamanan yang terjamin. Maka siapa saja pasti sangat ingin berkunjung ke Bima. Berbeda jika Bima dipenuhi kabar kerusuhan, perang terjadi di mana-mana, pembunuhan sering terjadi, tindakan asusila tinggi, maka siapa yang mau berkunjung ke Bima. Tentu orang akan berpikir dua kali untuk menikmati hidup dengan keindahan panorama alam di Bima.

Mudah-mudahan tulisan ringan ini bisa menyadarkan kita betapa penting menjaga keamanan dan nama baik Bima. Jika bukan kita, lantas siapa lagi yang kita harapkan.

*Penulis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya (UNESA)

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *