Meramal Pemenang Pemilukada Kabupaten Bima

Oleh : Zulchijjah

Zulchijjah

Zulchijjah

Pemilihan Umum Kepala Daerah Kabupaten Bima (Pemilukada) akan segera dilaksanakan, terhitung beberapa pekan lagi. Umumnya, Pemilukada dimaknai sebagai ajang untuk menguasai sumberdaya daerah secara sah yang diperoleh lewat kompotisi (pemilihan umum) yang telah diatur oleh konstitusi. Secara teoritis, Pemilukada lahir dari kebijakan desentralisasi (pasca orde baru) yang merupakan implikasi langsung dari sistem demokrasi, dimana setiap daerah mengelola daerahnya masing-masing secara otonom. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah pembangunan dan perbaikan pelayanan publik disetiap daerah. Atau dalam istilah Brian Smith (1985) agar terwujudnya Pemerintahan yang akuntabel dan responsif.

Sebagai ajang kompotisi secara sah, Pemilukada menjadi menarik karena melibatkan langsung seluruh elemen masyarakat sebagai pemilih dalam menentukan siapa pemenangnya. Dan untuk menarik simpati masyarakat, masing-masing calon menggunakan strategi yang dianggap tepat, mulai dari menjual program hingga blusukan.

Dalam meramal kemenangan, banyak pihak menilai bahwa kemenangan itu ditandai oleh banyaknya jumlah massa yang terlibat pada saat kampanye, semakin banyak massa yang terlibat maka semakin besar kemungkinan untuk menang. Tapi menurut penulis, hal seperti ini tidak memberikan gambaran yang jelas tentang siapa yang akan menang.

Dalam kasus Pemilukada Kabupaten Bima, penulis akan memformulasikan sebuah konsep yang terdiri dari beberapa variabel, yang kemudian dijadikan unit analisis dalam meramal siapa pemenang Pemilukada. Beberapa variabel tersebut adalah mesin partai politik, birokrasi sebagai alat politik, media massa sebagai alat propaganda dan yang dianggap unik bagi penulis dalam kasus Bima ini adalah magic istana.

Mesin Partai Politik

Kalau dihitung normatif berdasarkan jumlah perolehan mesin parpol pendukung dalam Pemilihan Legislatif (pileg) 2014. Nomor urut 4 (Dinda Dahlan) berpeluang menang, dengan perhitungan dari perolehan suara seluruh Parpol pendukung sebanyak 84.590 suara (14 Kursi : Golkar, Gerindra, dan Hanura). Sedangkan nomor urut 3 (Syafrudin dan Masykur) memperoleh total suara Parpol pendukung sebanyak 80.032 suara (15 Kursi : Nasdem Demokrat PPP dan PDIP). Kemudian, nomor urut 2 (Ady-Zubair) memperoleh 70.130 suara dari total seluruh Parpol pendukung (12 Kursi : PAN PKB dan PBB).

Namun berdasarkan rekap KPU Kabupaten Bima dari jumlah DPT 350.438 pemilih, hanya sekitar 260.954 suara yang dianggap sah berdasarkan perolehan suara seluruh Parpol. Itu artinya, sekitar 89.484 suara tidak mencoblos atau dianggap tidak sah. Ini memberikan pula peluang tersendiri bagi calon perorangan Khayir dan Hamid (Independen/non parpol) keluar sebagai pemenang (sisa suara pemilih yang barangkali tidak menyukai partai politik)

Jika dianalisa lebih jauh, menggunakan alat ukur perolehan suara Mantan Bupati Bima Alm. Ferry Zulakarnain (Suami Hj. Dinda Dhamayanti Putri) yang dianggap ikut mempengaruhi perolehan suara (Pada Pemilukada 2010 lalu dengan total perolehan 154.735 suara), pasangan Dinda Dahlan unggul, namun yang seperti ini, biasanya dinamis. Berbeda jika dianalisa dengan teori birokrat sebagai instrumen politik, Pasangan Syafrudin dan Masykur (incumbent) lebih unggul. Penekanan incumbent terhadap instrumen birokrasi biasanya lebih dianggap efektif. Ini juga menciptakan peluang tersendiri bagi Nomor Urut 3.

Lantas bagaimana dengan Adi Zubair? Sejauh ini belum ada alat ukur yang tepat untuk meramalkan kemenangannya, kecuali jika PKS (20.834 suara/4 Kursi) dapat ditarik menjadi Parpol pengusung tambahan. Dan hal seperti ini, tidak mungkin lagi dilakukan. Namun berdasarkan rekap KPU Kabupaten Bima dari jumlah DPT 350.438 pemilih, hanya sekitar 260.954 suara yang dianggap sah berdasarkan perolehan suara seluruh Parpol. Itu artinya, sekitar 89.484 suara tidak mencoblos atau dianggap tidak sah. Ini memberikan pula peluang bagi calon perorangan Khayir dan Hamid (Independen/non Parpol) keluar sebagai pemenang (sisa suara pemilih yang barangkali tidak menyukai Partai Politik)

Birokrasi

Dalam teori ekonomi politik, birokrasi tidak hanya dimaknai sebagai organisasi yang bekerja mendukung roda Pemerintahan tanpa tidak ikut terlibat dalam proses politik praktis. Mauzelis (1975) mengatakan bahwa birokrasi adalah bagian dari mahluk hidup yang memiliki emosi, tata nilai, dan tujuan secara individu. Yang selamanya tidak sejalan dengan tujuan organisasi. Kepentingan individu dari para birokrat ini akan ikut mempengaruhi struktur dan fungsi birokrat itu sendiri. Dengan kata lain, birokrasi dapat pula dijadikan instrumen politik bagi salah satu calon, apabila ditandai oleh kesamaan orientasi, motivasi dan keuntungan.

Yang paling dekat dengan birokrasi umumnya adalah incumbent. Ini artinya, incumbent secara tak langsung dapat menggunakan birokrasi sebagai alat politik, dengan jumlah pegawai yang fantastik, hal ini memungkinkan peluang menang menjadi agak sedikit nyata. Ada nilai pasti yang digunakan untuk mengukur kemenangan. Jika hal ini dapat dilakukan oleh incumbent, peluang menang akan semakin besar, calon nomor tiga diuntungkan.

Media Massa

Dalam membentuk opini didalam masyarakat, kandidat harus menggunakan media massa sebagai instrumen penyebarluas infomasinya. Hafied Cangara (2009) mengatakan bahwa tujuan dari penyebaran informasi media massa adalah untuk mengubah wawasan, pengetahuan, sikap dan perilaku para calon pemilih sesuai dengan keinginan para pemberi informasi. Karena itu, media massa menjadi instrumen yang mendukung kemenangan salah satu kandidat.

Informasi yang sebarkan media massa mencakup semua lapisan masyarakat, mulai dari kelas atas, menengah, dan bawah. Dan informasi tersebut dapat merubah sikap pemilih secara drastis. Hal inilah yang membuat media menjadi bagian terpenting dalam proses kemenangan. Media massa juga merupakan alat propaganda, yang berguna untuk mendukung atau menolak salah satu kandidat. Harold D Laswell mengatakan bahwa propaganda membawa masyarakat dalam situasi kebingungan, ragu-ragu, dan terpaku pada sesuatu yang licik yang tampaknya menipu dan menjatuhkan seseorang. Propaganda diartikan sebagai proses diseminasi informasi untuk mempengaruhi sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompok masyarakat dengan motif indokrinasi.

Menurut pengamatan subyektif penulis, media cukup banyak digunakan oleh kandidat Nomor Urut 4 dalam penyebarluasan informasi baik tentang dukungan, pencapaian, program dan saat-saat blusukan diwilayah tertentu. Penulis melihat, Nomor Urut 4 diuntungkan dalam hal ini, walaupun tidak secara nyata dapat dilihat sebagai indikator kemenangan, tapi dari banyak kasus media cenderung menjadi landasan (acuan) utama bagi masyarakat untuk memilih.

Magic Istana

Di Bima, mayoritas pemilihnya cukup unik. Dilihat dari Pemilukada periode lalu antara H. Zainul Arifin atau yang biasa disapa Abuya dikenal sebagai tokoh Islami dan Ferry sebagai keturunan raja. Yang akhirnya dimenangkan oleh Ferry (pengaruh raja lebih kuat dari tokoh Islami). Nomor Urut 4 adalah istri dari Ferry, ini artinya secara otomatis darah kerajaan mengalir didalam dirinya, dan ini menguntungkan bagi kandidat Nomor Urut 4. Dilihat dari realitas sosialnya, pengaruh tersebut benar terjadi, dimana setiap kali melakukan kunjungan ada saja hal yang menarik dilakukan oleh Nomor Urut 4, yang paling sering adalah ajang cium tangan yang dilakukan oleh orang yang justru lebih tua.

Dari beberapa variabel yang sudah dikemukakan diatas, dapatlah disimpulkan bahwa yang nyata bersaing dan memiliki banyak peluang untuk menang dalam Pemilukada adalah Nomor Urut 3 dan 4. Disamping apa yang sudah diuraikan diatas, penulis menambahkan beberapa kekurangan yang dimiliki kedua kandidat tersebut. Salah satunya adalah Nomor Urut 3, yang sejauh ini belum terlihat maksimal menggunakan birokrasi sebagai instrumen politiknya, beberapa birokrat justru terpecah mendukung kandidat-kandidat lainnya, dan ini akan memperkecil peluang kemenangan. Sedangkan Nomor Urut 4, tampaknya terlalu terlihat percaya diri, dan ini menurunkan sensitifitas dan kemauan berjuang.

*Penulis Pasca Sarjana Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Ramalan yang sebenarnya logis dan ternyata pula tidak meleset. Jara siwa melambung jauh meninggalkan lawannya. Menurut saya selain modal mesin politik golkar yang solid dan teruji, sisi pencitraan Dinda yang menampilkan sudut feminis baru dalam dinamika politik dan sosial Bima yang terkenal sebagai red zone.
    Disini peran media massa yang bekerjasama dengan paslon sangat besar, dimana black campaign dan negatif campaign dimentahkan melalui gaya komunikasi massal yang lugas. Hal ini tidak dilirik oleh paslon lainnya bahkan dia diaggap sepele. Bahkan cenderung terjebak dalam taktik banyak-banyakan massa kampanye belaka.
    Peran penting komunikasi massa ini menurut saya wajib Dinda pertahankan dan dimodifikasi menjadi strategi baru memenangkan hati rakyat dalam rangka mensukseskan agenda pembangunan dalam masa kepemimpinannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *