Sebuah Catatan Singkat Pemilukada Bima

Oleh: Arifudin Hidayatullah*

Opini.- Dalam Kamus Oxford, kata Politic bermakna Sensible/Wise (of actions). Politik bermakna Kebijaksanaan (dalam tindakan). Menurut Yusuf Qardhawi, Politik adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pemerintahan dan pengelolaan masyarakat menuju kualifikasi madani. Nurcholis Majdid mengatakan bahwa Masyarakat Madani adalah masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, penuh toleransi dan tenggang rasa, serta maju dalam penguasaan IPTEK.

Arifudin Hidayatullah

Arifudin Hidayatullah

Artinya, berpolitik adalah merupakan salah satu bentuk tindakan yang memiliki nilai kebijaksanaan. Berpolitik memiliki tujuan mulia untuk menciptakan kehidupan pemerintahan dan bermasyarakat yang lebih baik dan teratur. Idealnya, hasil akhir dari segala upaya berpolitik adalah terciptanya masyarakat yang hidup makmur dan damai, sistem pemerintahan yang tertib dan disiplin, aturan hukum yang berkeadilan menyeluruh dan merata. Singkatnya, kehidupan bermasyarakat dengan ciri madani yang berperadaban tinggi.

Nah, untuk tercapainya hal demikian tentu memerlukan proses panjang dan membutuhkan rentang waktu yang cenderung sangat panjang. Sebab memajukan peradaban adalah persolakan yang mendetail, teramat kompleks dan menyeluruh. Lamanya waktu dan rumitnya jalan yang perlu ditempuh bukan hal yang mustahil. Perlu upaya sinergis dan usaha pembenahan dari waktu ke waktu dalam proses perpolitikan. Harus ada kemajuan meskipun teramat sedikit, tidak boleh ada kemunduran, hitungan terburuknya adalah stagnan pada satu titik. Sebab sedikit saja ada kemunduran, maka akan sangat menghambat dan kerugian besar atas waktu, energi, materil, dan pikiran yang terbuang sia-sia.

Potret nyata yang terjadi di Bima adalah merupakan kemunduran besar dan tentu saja menjadi kerugian yang teramat besar bagi masyarakat Bima sendiri yang sayangnya tidak banyak yang menyadari hal ini.

Hampir tiap perubahan waktu detik per detik adalah celah munculnya gelombang kebencian antar kelompok yang berbeda pilihan dalam momentum Pemilukada. Segala cara yang bahkan bocah sekolah dasar pun tahu bahwa itu adalah kesalahan dan sangat memalukan jika dilakukan, nekat ditempuh dengan urat otot yang barangkali tak henti-hentinya tegang dan hampir putus.

Tentang bagaimana istri membenci suami dan sebaliknya, tentang anak membenci orang tua dan sebaliknya, tentang tetangga yang membenci tentangga lain dan seterusnya menjalar, tentang label agama dan nama Tuhan yang diobral bebas tanpa biaya, tentang institusi pendidikan atau yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang dicokol oleh penguasa berkepentingan, tentang antar individu hingga kelompok dalam artian luas yang melakukan kontak fisik melewati batas kewajaran hingga menghilangkan nyawa, tentang seluruh tumpah darah dan air mata yang menggenang murah, tentang segala yang tak mampu lagi dijelaskan sebab terlalu banyaknya potret degradasi moral dan pengikisan nilai-nilai kemanusiaan yang tertanam pada tiap diri masing-masing. Semoga memang pernah tertanam dan sekarang berkurang, bukan tak pernah ada sama sekali. Semoga saja.

Hal-hal yang dijelaskan di atas bukanlah karangan imajinatif atau hal-hal yang dipaksa hiperbolis. Sungguh, saya kira saya sedang hidup di tengah-tengah dunia jahiliyah masa kuno ratusan ribu tahun yang lalu.

Lalu, di mana letak kesalahannya? Apakah karena masyarakat telah lupa nilai-nilai luhur yang terkandung dalam berpolitik? Atau sebenarnya tahu namun lebih suka menempuh jalan liar karena dianggap lebih menjanjikan kemenangan dan menggaransi segala kerugian materil dengan segala kekuasaan dan jabatan nantinya? Atau jangan-jangan hati dan pikiran tak pernah ‘hidup’ dari dulu sehingga tindakannya nyaris sama seperti perilaku penghuni kebun binatang?

Ini pekerjaan rumah yang besar bagi kita semua, sebagai masyarakat yang akan dipimpin dan membantu menyukseskan program kerja yang baik dari pemimpin, juga sebagai (calon) pemimpin yang merupakan sebagai pionir pembenahan menuju kehidupan masyarakat yang lebih gemilang.

Bersama saling menahan diri dan berpikir jernih. Jangan ada usaha untuk memperkeruh suasana. Sudah cukup banyak air mata, darah, dan bangkai manusia yang habis sia-sia. Mari merenung dan berdo’a untuk tanah yang sama-sama kita cintai. Mari bangunkan kembali ruh ‘Toho mpa ra ndai sura dou labo dana’ yang telah lama mati suri pada diri masing-masing, pada kamu yang mengaku cinta tanah Bima!

(boleh dibagikan dan disebarluaskan sebagai pengingat bagi saudara-saudara kita yang barangkali saat ini sedang alpa)

* Penulis adalah mahasiswa S1 Akuntansi di Fakultas Ekonomi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Aktif di beberapa organisasi intra dan ekstra kampus.  Sekarang aktif menjadi Ketua di Mahkamah Pemilwa UAD dan Wakil Ketua di Kelompok Studi Pasar Modal UAD, Anggota Dewan Penasihat “Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa DIY-Jateng”,  staff pribadi (informal) salah satu Senior Editor “Majalah Angkasa”
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *