Kota Bima: Ulang Tahun dan Tahun yang Berulang

*Oleh: Didid Haryadi

Kantor Pemerintah Kota Bima. Foto: Bin

Kantor Pemerintah Kota Bima. Foto: Bin

Beberapa teman mengatakan bahwa orang Bima adalah bangsa perantau. Yang umumnya pergi belajar dan mencari hal-hal baru yang nantinya bisa diimplementasikan ketika kembali ke tanah Bima.

Pertama kali tiba di Kota Istanbul, penulis dihadapkan dengan cara untuk mengenalkan Bima kepada orang-orang asing yang juga adalah teman sekelas. Dua kali melakukan presentasi tentang Indonesia (budaya dan pariwisata), penulis tidak pernah lupa untuk menceritakan juga tentang Bima.

Hampir bisa dikatakan tidak ada yang tahu dimana letak Bima. Wajar saja, karena yang paling banyak dikenal adalah Jakarta yang merupakan Ibukota Indonesia, dan Bali yang sudah sangat terkenal dengan pariwisatanya. Namun, penulis memiliki cara sendiri untuk mengenalkan Bima kepada mereka.

Letusan Gunung Tambora yang terjadi pada 5 April 1815 dan menyebabkan bencana ekologi di Eropa, ternyata juga menjadi informasi yang sangat bermanfaat ketika penulis melakukan presentasi. Beberapa teman belum  banyak yang mengetahui bahwa Gunung Tambora itu terletak di Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Akan tetapi, mereka sudah pernah membaca novel “Frankenstein” yang ditulis oleh Marry Shelley. Berbekal informasi tersebut, akhirnya mereka mulai mengenal Bima dan mencari informasi tentang sejarah dan budayanya.

Indonesia adalah surga bagi para ilmuwan yang ingin meneliti tentang kajian sejarah dan budaya. Dengan beragam suku bangsa, etnis, bahasa, dan karakteristiknya tidak heran jika sejak dahulu beberapa ilmuwan Eropa menghabiskan waktunya untuk belajar mengenai Indonesia. Dan tidak menutup kemungkinan, Bima juga akan menjadi lokus penelitian, khususnya untuk kajian sejarah, antropologi, dan sosiologi ataupun disiplin keiilmuan lainnnya. ?ni terlihat dari sudah cukup banyak publikasi penelitian yang pernah dilakukan di Bima.

Melestarikan Nilai-Nilai Lokal

Perkembangan zaman terkadang memaksa sebuah daerah untuk terus menyesuaikan proses pembangunan. Beberapa daerah mulai mengalami perkembangan dan kemajuan dengan caranya masing-masing. Bima, dengan keunikan nilai-nilai lokal yang masih dipraktikan oleh masyrakatnya harus tetap dilestarikan dalam kehidupan sosial.

Misalnya, petuah bijak Maja Labo Dahu (Malu dan Takut) yang harus dikedepankan dalam sosialisasi hidup bermasyarakat. Selain ituu juga, ada petuah klasik  lainnya, Nggahi Rawi Pahu (Ucapan Selaras Dengan Perbuatan). ?ni semua bisa menjadi kekuatan untuk bisa membawa Bima menjadi daerah yang unik, menarik, dan tidak mudah terpengaruh oleh kemajuan modernisasi yang lebih banyak mengorbankan pudarnya nilai-nilai lokal.

Mengamati Bima dari jauh memberikan kesan yang berbeda dan selalu menyimpan rindu untuk disinggahi (Lambarasa), termasuk dengan segala dinamika sosialnya. Secara khusus, Kota Bima yang kini mencapai perayaan tahun ke-14, telah menoreh beberapa catatan positif.

Seperti yang disampaikan oleh Menpan (Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara), RB Yuddy Chrisnandi (10/4/2016), “Kota Bima ini masih tergolong muda, namun kita patut bangga dengan kemajuan dan prestasi yang telah diraih. Antara lain, penghargaan kota sehat dari kementerian kesehatan, piagam adipura dari kementerian lingkungan hidup, dan laju pertumbuhan ekonomi rata-rata diatsa 5 persen dalam empat tahun terakhir” (kahaba.net). Semua pencapaian tersebut adalah hasil kerja keras yang harus terus diapresiasi dan diperbaiki untuk pembangunan Kota Bima dimasa yang akan datang.

Setiap daerah pasti memiliki ciri khas yang harus dipertahankan dan dilestarikan sebagai modal pembangunan. Dan (Kota) Bima sangat potensial untuk menjadi daerah yang maju, terutama dala bidang sejarah dan budaya. Penulis sangat mendambakan, kelak di Kota Bima akan lebih banyak ruang publik (taman kota) sebagai tempat untuk belajar, diskusi, dan mengekspresikan pengetahuan melalui kegiatan-kegiatan yang positif.

Selain itu, harus adanya pengarsipan yang baik mengenai sejarah (Kota) Bima dan juga membudayakan membaca dengan cara akses perpustakaan untuk publik. Tentu saja dengan kapasitas dan ketersediaan buku-buku, majalah, jurnal, dan koran yang bisa didapatkan secara gratis. Jika semuanya ini bisa dimaksimalkan, maka kelak (Kota) Bima akan menjadi daerah berbasis pada pendidikan, nilai-nilai sejarah dan budaya.

Intelektual muslim, Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa siklus peradaban sebuah bangsa terdiri dari, Pertama adalah adanya pemerintahan, kedua sumber daya manusia (SDM), ketiga Sumber daya alama (SDA). Selanjutnya, infrastruktur, dan terakhir adalah keadilan. Dengan segala pencapaian yang telah dan akan dicapai, semoga Kota Bima menjadi kota yang terus melestarikan nilai-nilai lokal dan melahirkan generasi yang mampu bersaing ditingkat nasional dan internasional. Dan (Kota) Bima memiliki semua syarat dari siklus peradaban yang disebutkan Ibnu Khaldun tadi.

*Mahasiswa Program Master Sosiologi di Istanbul University, Person In Charge untuk Indonesia Turkey Research Community (ITRC) di Istanbul

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *