Menyerap Energi Kebangkitan Nasional

Oleh: Mawardin

Ilustrasi

Ilustrasi

Mei memang ditakdirkan sebagai bulan bertabur bintang dan terbitnya fajar harapan. Beragam peristiwa tak biasa terjadi di bulan ini, perubahan luar biasa pula terjadi di jagad khatulistiwa, walau mungkin nampak biasa di luar (negeri).

Sebut saja, 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Kita tengok juga dengan nuansa yang sama, yaitu 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Dua Peristiwa itu seakan mengikat tali-temali pesan yang saling terkait, yaitu betapa pentingnya Sumber Daya Manusia yang unggul sebagai akselerator pembangunan, dimana pendidikan sebagai pilar utama. Dan buku (dibaca) sebagai “senjata” fundamental untuk menumbangkan “berhala” kebodohan, guna menembus remang-remang pengetahuan agar tercerahkan secara intelektual.

Lalu, 20 Mei digelorakan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dan 21 Mei diritualkan sebagai Hari Peringatan Reformasi. Energi yang terpancar dari dua peristiwa itu diikat oleh pertemuan pesan, yaitu semangat membangkitkan harapan dan menggerakkan perubahan ke arah yang lebih baik.

Roh Merah Putih seakan menggetarkan jiwa raga anak-anak negeri untuk bergerak, mencicil perubahan demi perubahan. Hasil investasi perjuangan pun akhirnya dinikmati bersama. Kenikmatan nasional selayaknya disyukuri. Sebagai bentuk ekspresi rasa syukur itulah, maka membincang sejarah yang bertenaga menemukan relevansinya, bukan sekadar romantisme belaka, tapi sebagai cermin untuk menafsirkan peta masa kini, sekaligus panduan untukmenatap masa depan.

Mari kita mencoba bercermin pada momentum 20 Mei, yaitu kenduri tahunan bangsa Indonesia untuk merayakan Hari Kebangkitan Nasional, yang saat initelah memasuki usia ke – 108. Sebagaimana momentum hari-hari “khusus” nasional lainnya, maka Kebangkitan Nasional dalam ruang memori anak bangsa pun memiliki kekhususanmakna, baik secara historis, kultural, sosial dan politik.

Secara historis, Kebangkitan Nasional adalah tonggak kebangkitan nasionalisme, keserentakan rasa persatuan dan kesatuan segenap elemen bangsa, serta manifestasi kesadaran kolektif untuk menyalakan cahaya kemerdekaan di tengah lorong gelap kolonialisme. Pada panggung yang bersejarah awal abad 20 itu, berdirilah organisasi atau komunitas pergerakan yang menjadi bintang pemandu, pengarah rute perjuangan bernama Boedi Oetomo di Jakarta, pada tanggal 20 Mei 1908.

Bahkan jauh sebelumnya, pada tanggal 16 Oktober 1905 telah berdiri Sarekat Dagang Islam (SDI) di Soloyang dipeloporioleh Haji Samanhudi untuk menghimpun para pedagang pribumi (Muslim), sebagai bentuk perlawanan terhadap dominasi pedagang asing (terutama pedagang Tionghoa) sebagai produk dari diskriminasi kebijakan rezim Hindia Belanda, yang meminggirkan keperansertaan kaum pribumi kala itu.

Spirit awal yang mendasari terbentuknya SDI yang concern pada agenda pemberdayaan ekonomi umat, kemudian berkembang melebarkan jangkauan agenda pergerakan, tak hanya di bidang ekonomi, tapi juga politik. Maka pada tahun 1906 berubah nama menjadi Syarikat Islam yang memiliki saham yang signifikan dalam perjuangan mewujudkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.

Bisa jadi SDI menginspirasi elemen pergerakan selanjutnya untuk membentuk Boedi Oetomo. Ada memang sejumlah sejarawan dan eksponen gerakan yang mengusulkan Hari Kebangkitan Nasional diperingati pada tanggal 16 Oktober yang merujuk pada kelahiran SDI. Namun demikian, pada akhirnya 20 Mei ditetapkan secara resmi oleh pemerintah sebagai Hari Kebangkitan Nasional disesuaikan dengan kelahiran Boedi Oetomo yang diwarnai dengan serba-serbi yang ada di pentas sejarah nasional. Dalam konteks ini, Soewardi Suryaningrat (Ki Hadjar Dewantara)mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme “Indonesia” ada dan merupakan unsur yang paling penting.

Mari kita fokuskan saja bagaimana semestinya anak-anak negeri dari Sabang hingga Merauke menghayati makna Kebangkitan Nasional itu, agar spiritnya tetap menyala-nyala guna menyongsong tantangan zaman yang kian kompleks. Kita fokuskan juga sasaran perhatian anak bangsa, bagaimana menyerap energi aktor-aktor kebangkitan nasional dan pergerakan kemerdekaan Indonesia, agar dapat dikontekstualisasikan sesuai realitas kekinian yang dihadapkan dengan setting sosio-kultur yang berbeda.

Bagaimana kita menghayati wajah Boedi Oetomo dan jejak pergerakan anak-anak muda pada masa itu, lalu bagaimana kita menerjemahkan teladan masa lalu untuk kita artikulasikan pada masa kini dan masa depan?

Dari unsur kebudayaan yang terpahat pada Boedi Oetomosaja telah meneguhkan sebuah keluhuran, yang secara substansial bermakna perilaku yang utama. Resep manjur yang digali dari “ramuan” nusantara, lalu diolah dan dimatangkan lewatpertautan gagasanantara Soetomo dan kawan-kawan (dokter-aktivis) dari STOVIA (sekolah kedokteran kaum pribumi) di bawah mentoringWahidin Sudirohusodo. Tak pelak, ramuan yang diracik penuh siasat intelektual itu, kemudian menjadi “obat” penuh khasiat. Al-hasil, bangsa Indonesia yang sedang pingsan dalam tawanan kolonialis, perlahan tapi pasti, bisa menghirup udara kebebasan.

Setelah sekian lama hunian bangsa Indonesia mengalami kepengapan akut, terbukalah ruang ventilasi hingga jendela yang menolong ruang pernafasan anak bangsa. Percikan udara segar nan sejuk itu kemudian dibatinkan dalam episode Sumpah Pemuda, pada tanggal 28 Oktober 1928. Jejak Sumpah Pemuda itu merefleksikan cita sosial bersama, berdasar atas komitmen kebangsaan setinggi bintang di langit, lalu dibumikan pada tataran tujuan untukbersatu dan berpadu ke dalam titik utama dalam skema tridimensi, yaitu : satu “tanah air Indonesia”, satu “bangsa Indonesia”, dan satu “bahasa Indonesia”. Berkat Sumpah Pemuda itulah, semua kepingan-kepingan atomik suku bangsa, kemudian saling bersenyawa satu sama lain, lantas menggumpal dan menghadirkan ledakan sejarah di kemudian hari.

Peta pergerakan kemerdekaan Indonesia kemudian kian terarah, lalu mengalami penguatan dan pengkristalan hingga melahirkan bangsa dan negara: Indonesia. Dan secara yuridis-politik-formal, Indonesia berdiri sebagai negara berdaulat pada Jum’at, 17 Agustus 1945. Peristiwa demi peristiwa bersejarah itulah yang menandai eksisnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dewasa ini.

Cita-cita nasional pun dirumuskan dalam skema visi kebangsaan yang berdasar atas Pancasila dan UUD 1945. Bangsa Indonesia kemudian bergulat dan bergumul membangun kehidupan politik nasionalnya diiringi suka-duka dan manis-pahit pula. Realitas multi-religi dan multi-kultural yang melekat pada bangsa ini lantas memilih sistem demokrasi untuk mengelola Indonesia yang penuh warna.

Setiap bangsa yang memasuki masa transisi, memang tantangan yang dilewati cukup berat. Namun bangsa kita telah berhasil melewati perputaran badai itu dengan agenda dan proses demokratisasi yang terkonsolidasi dengan baik. Pasca reformasi, di tengah perjalanan perahu bangsa berlayar menuju pulau harapan, tak sedikit ombak yang menantang dari berbagai arah mata angin, lantas tidak membuat bangsa terlena, dan kehilangan kendali, malahan semakin mengokohkan jiwa-raga anak bangsa guna menatap masa depannya.

Akhir-akhir ini, kita dihadapkan dengan banyak tantangan, antara lain adanya serbuan narkoba yang mengancam generasi muda, kekerasan seksual yang memilukan, ancaman terorisme sebagai trend global yang kerap menghantui bangsa ini, gejala intoleransi yang masih mengental, paceklik ekonomi yang kadangkala membuat (akar) rumput bergoyang, gesekan yang hot di tingkat elite maupun massa, sentimen SARA yang masih berkecambah, gejala ekstrimisme-keagamaan yang penuh ironi, dan kian memudarnya kearifan lokal dan semangat nasionalisme.

Oleh sebab itu, maka penegakan nasionalisme, demokrasi, kampanye perdamaian, HAM, etos beragama yang penuh keadaban, budaya gotong-royong dan semangat pluralistik menjadi penting agar NKRI, kbhinekaan dan Merah Putih tetap berkibar di era globalisasi saat ini. Terlebih tren regionalisasi yangkian menguat dalam apa yang disebut sebagai MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN) mulai berlaku sejak tahun 2015. Tantangan global itu  memerlukan kesiapan kita, khusus kaum muda dari segi intelektual, skill, dan karakter kepemimpinan. Dalam kaitan denganstrategi ke depan yang berlandaskan pada spirit Kebangkitan Nasional, maka dipandang perluuntuk menemukan kembali(reinventing) identitas nasional, keunikan dan ciri khas yang dimiliki setiap lapisan bangsa sebagai modal utama dalam membangun bangsa dan negara yang berkemajuan dan berdaya saing.

Kita butuh “Soetomo-Soetomo baru” di abad ini, menjadi “dokter” di pelbagai klinik kehidupan untuk menyembuhkan penyakit yang menyerang sel-sel tubuh bangsa. Di lapangan perjuangan untuk peneguhan rasa nasionalisme, kita membutuhkan “dokter” yang bisa meramu irisan antara Islam dan Nasionalisme misalnya, agar tidak mengalami ketegangan lagi secara dikotomis. Hal serupa dalam hal kompatibilitas antara Islam dan demokrasi serta kemoderenan. Begitu pula dalam konteks kesenjangan antar wilayah dalam lanskap pembangunan di Indonesia, diperlukan “dokter” selaku aktor kebijakan yang benar-benar mengedepankan perspektif keadilan.

Kita juga membutuhkan “dokter” yang bisa merekatkan kembali persaudaraan intra maupun antar agama di Bumi Pertiwi agar tercipta tata kehidupan sosial yang harmonis dan produktif.Tak hanya itu, kita pun membutuhkan “dokter” yang bisa menyembuhkan penyakit ekstrimisme keagamaan yang melakukan kekerasan dan teror atas nama agama. Sudah saatnya agama yang mulia itu, dijadikan sumber inspirasi guna mewujudkan masyarakat cinta damai, bukan sebagai sumber petaka yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Itulah sebabnya pula, kita menanti kehadiran “dokter” yang menjadi jembatan kebangsaan yang dapat mempertemukan pelbagai aliran sungai gagasan, ideologi, aliran politik dan “baju” identitas lainnya agar segera mengadakan rekonsiliasi emosional, lalu bersatu padu membangun Indonesia dalam bingkai nasionalisme.

Di tengah dunia yang semakin mengglobal dan menginternasional, kita memerlukan “dokter” yang bisa memadukan antara nalar lokal dan nalar global. Membangun bangsa dan negara bisa diputar dari desa, atau bisa juga membangun desa dari tanah rantau, di pelbagai titik di Bumi Nusantara, dengan memanfaatkan sumber daya dan akses yang ada, lalu pada saat yang sama pula, terjun dalam percaturan gagasan di tingkat global dengan mengarus-utamakan khazanah lokal.

Di lapangan ekonomi, kita memerlukan “dokter” yang mendorong semangat kewirausahaan. Tingkat urgensitas kehadiran “dokter” wirausahawan yang berkarakter advokator juga amat sangat dibutuhkan, selain untuk kerja-kerja pemberdayaan ekonomi umat yang tersandera jepitan kemelaratan, tapi juga menghadang laju kenakalan kerja-kerja konglomerasi yang over-kapitalistik hingga menyandera negara. Di lapangan politik, kita membutuhkan “dokter” yang bisa melakoni politik praktis secara etis, berhaluan politik gagasan dan merakyat secara nyata, bukan sekadar gincu belaka. Pun di bidang birokrasi pemerintahan, kita rindu birokrat yang bersih, humble, disiplin dan melayani rakyat sepenuh hati.

Selanjutnya, mari kita berkisah kilasan lakon politik seorang Soetomo, sang dokter (asli) yang dikenal malang melintang penuh gelora di arena pergerakan politik. Selain mendirikan Boedi Oetomo pada tahun 1908, Bung Soetomo adalah pendiri Kelompok Studi Indonesia (Indonesian Study Club/Indonesische Studie Club)pada tahun 1924, juga sebagai pendiri Partai Bangsa Indonesia pada tahun 1930, dan Partai Indonesia Raya (Parindra) pada tahun 1935. Dengan segala dinamika dan eksperimentasi politik yang menyertainya, kendaraan-kendaraan politik itulah, antara lain yang mengantarkan alumnus STOVIA  ke gerbang pergulatan keindonesiaan.

Gelora politik Bung Soetomo tak hanya terekam di medan laga politik, tapi juga meninggalkan jejak cinta yang membebaskan, yaitu gelora Bung Soetomo tatkala menaklukkan perawat Belanda yang menjadi lebih dari sekadar istri-an sichagar tidak berujung kesepian. Sembari mencium aroma “si hitam manis” (kopi hitam) nan energik, saya mengucapkan selamat menyerap energi Kebangkitan Nasional. Mari menjadi “dokter” yang menyehatkan lingkungan kehidupan masing-masing. Ayo bangkit!

*Penulis adalah Putra Bima – NTB, Alumnus Ilmu Hubungan Internasional FISIP UNHAS, Makassar, Analis Komunikasi Politik PROCODES Universitas Mercu Buana Jakarta

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *