Imaji Puisi Guru Itu Melawan, Karya Eka Ilham “Jerit Indah Para Pendidik”

Oleh Eko Prasetyo*

Eko Prasetyo. Foto: Ady

Eko Prasetyo. Foto: Ady

Saya terkejut membaca karya ini. Suara para pendidik yang lantang dan kritis. Menyoal tentang pendidikan yang ruwet dan bermasalah. Mengatakam banyak hal selama ini tampaknya ingin di redam: tentang sertifikasi, guru honorer hingga indonesia mengajar.

Potret itu begitu buram sehingga kita dibayang-bayangi oleh banyak kemelut yang tak mudah diselesaikan. Terasa jujur karena ini adalah para pendidik yang hidup dengan ‘gaji terbatas’ tapi dengan tanggung jawab’tanpa batas’.

Maka suara puisi ini menggigit sekaligus meneror. Baitnya saja membuat saya kadang tak nyaman duduk: “Tahukah kalian berapa kami dapatkan untuk imbalan mengabdi ini untuk sebungkus nasipun kami harus bekerja bukan sebagai abdi negara tapi sebagai tukang ojek, buruh tani, bahkan kami harus menjadi bagian dari pengerah massa untuk kemenangan tuan-tuan yang berduit”.

Ini fakta yang menyakitkan tentang nasib guru. Gajinya tak cukup untuk hidup layak dan harus mempertaruhkan kehormatan guna memenuhi kebutuhan. Tak hanya itu kerapkali jadi kaki tangan para politisi yang mau mengumpulkan suara. Sepertinya profesi ini dibuat bukan untuk membuat siswa pintar tapi untuk memberi tentang ketidakpedulian. Paras sesat itu yang membuat pendidikan berjalan seperti di alam buta: selalu berubah-ubah dan tak pernah mampu membahagiakan siswanya.

Maka puisi ini seperti jeritan luka yang mengorek apa yang selama ini telah lama dipendam. Para pendidik yang disakiti, dianiaya dan dibiarkan tenggelam dalam kesengsaraan: “dear….tuan presiden dana beasiswa itu seharusnya untuk anak didik kami kepala sekolah terpaksa membayarkan gaji kami dengan beasiswa miskin tidak seberapa kami guru terpencil dapatkan cukup menjadi penjanggal perut kami mungkin ini sebuah ketidakadilan bagi kami, kami bukan pegawai negeri sipil, kami hanya guru sukarela yang berada di daerah terpencil, kami hanya mengabdi. dengan sebuah semangat agar suatu saat nanti di angkat pegawai negeri sipil.

Mereka menuntut pada sosok yang disebut ‘tuan Presiden’. sebutan yang sarat sindiran dan sedikit jenaka. Tuan presiden sebutan yang cocok di iklim feodal ketimbang demokrasi. Tak hanya tuan presiden tapi juga tuan kepala yang gaji pakai beasiswa miskin. Mungkin karena mereka’sukarelawan’ dibayarlah dengan tarif’kerelaan’.Beda jauh jika menjadi ‘pegawai negeri’ yang selalu dapat tunjangan  dan gaji yang layak dengan mereka yang dapat upah seadanya.

Upah telah membuat ketimpangan yang menyakitkan dan suara pedih ini membawa kita dalam ruangan yang kelam. Ruang dimana pendidikan telaj disalahgunakan untuk memenuhi selera para pemilik uang. Mereka yang terbiasa diam ketika kurikulum baru diterapkan, pasrah atas ketentuan pendidikan yang berubah-ubah dan tak banyak sangsi pada apa yang mereka ajarkan. Sedari awal memang tampaknya kebijakan guru diarahkan bukan untuk’memotivasi’ menjadi pendidik tapi’meneguhkan peran sebagai penyampai misi.

Mirip dengan pipa guru-guru hanya menjadi penyalur kepentingan yang ada diluar dirinya: penerbit yang mau bukunya laku, pemerintah yang ingin kekuasaannya lestari dan orang tua yang mau anaknya suskses. Puisi ini mau mengembalikan peran sebagai seorang pendidik. Bukan diam melihat ketidak adilan dan tidak begitu saja mudah percaya dengan janji yang di edarkan. Maka perannya serupa api.’memanaskan’ kesadaran siswa untuk memahami apa itu kebenaran sekaligus’menerangkan’jalan kepada siswa tentang indahnya belajar.

Itu sebabnya puisi ini ingin meneguhkan sebuah posisi. Kalau guru bukan ranting yang ada dalam pohon kekuasaan serta tifak jadi payung kalau keadaan sosial terancam. Selamanya guru adalah pendidik: memberikan inspirasi pada anak didik untuk jadi yang terbaik dan memberi ruang yang luas bagi anak didik untuk meniupkan ide-idenya. Selama guru bisa menyalakan api semangat itu maka pendidikan yang kusam akan tetap bawa rasa optimis. Optimid kalau memang pendidikan itu apapun tujuannya tetap berhamba pada akal sehat dan merawat kesadaran kritis. Akal sehat akan menjadi pendidikan tetap memiliki logika pengetahuan dan kesadaran kritis akan membawa pendidikan dalam semangat tidak mudah percaya begitu saja.

Barangkali karena itu pendidikan itu harus mengentaskan guru terlebih dahulu: bukan saja kesehjahteraannya tapi kepasrahannya untuk menerima keadaan. Puisi yang terkumpul ini seperti ucapan doa bahwa guru tak bisa seperti ini, musti ada yang diubah dan berubah. Pada tepi harapan seperti inilah buku ini menawarkan sebuah simpul indah dan kadangkala mengejutkan. Mungkin memang itulah guru: mengajari kita untuk tahu kepalsuan dan mengajari kita bagaimana melawannya.

*Social Movement Institute Yogyakarta dan Penulis Buku Orang Miskin Dilarang Sekolah

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *