Bima Dalam Upaya Merawat Budaya Lokal

Oleh: Didid Haryadi*

Didid Haryadi

Didid Haryadi

Proses pelantikan ‘Jena Teke Kesultanan Bima Ke-17’ telah usai. Banyak cerita yang terekam sebelum dan pasca kegiatan yang menjadi hajatan istimewa bagi Kesultanan Bima tersebut. Diantaranya adalah pro kontra perihal penting atau tidaknya acara pelantikan yang juga dihadiri oleh beberapa perwakilan kesultanan dari wilayah Indonesia tersebut. Meskipun demikian, tentunya tersimpan pesan moral yang bisa ditelusuri secara bersama-sama. Salah satunya adalah pelajaran untuk memahami sejarah lokal. Seperti yang diutarakan oleh ketua Majelis Adat Sara Dana Mbojo Hj. Siti Maryam bahwa proses penobatan Jena Teke Bima merupakan prosesi adat yang telah turun-temurun, yang diselenggarakan sejak abad ke-15 silam.

Tentunya banyak hal yang masih bisa dilakukan pasca seremonial dari Kesultanan Bima tersebut. Salah satunya adalah merawat budaya lokal Bima yang telah menjadi acuan dalam kehidupan sosial. Budaya ‘Maja Labo Dahu’ harus terus dikampanyekan baik dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun bermasyarakat.

Bima cukup terkenal dengan pantun (Patu Mbojo) yang menjadi ciri khas sosial budayanya. Hal ini banyak ditemukan dalam rima atau sajak lagu-lagu daerah yang bernuansa non kontemporer. Meskipun, dalam nuansa musik yang terbilang modern, semangat pantun Bima masih bisa dirasakan juga. Selain pantun, Bima juga memiliki aksara. Hal ini menjadi sangat istimewa karena darisinilah dapat diketahui bahwa nenek moyang ‘Dou Mbojo’ (Orang Bima) sudah mengenal huruf-huruf. Secara sederhana, dapat dikatakan budaya menulis atau mengenal huruf (aksara) sudah lama ada di Bima. Kondisi ini harus terus dilestarikan dan mampu diimplementasikan dalam bentuk kebijakan daerah. Misalnya terus mempertahankan mata pelajaran ‘Bahasa Daerah dan Aksara’ di sekolah-sekolah dasar. Tindak lanjut dari ini semua adalah mengimbangi pola menulis dengan membaca (literasi) sehingga pada masa yang akan datang, semakin banyak generasi intelektual yang berkualitas secara nalar akademik.

ICKN dan Arsip Sejarah

Keistimewaan lain dari momen bersejarah pelantikan Jena Teke Kesultanan Bima ke-17 adalah telah dibentuknya pengurus Ikatan Cendekiawan Keraton Nusantara (ICKN)  wilayah NTB. Beberapa tokoh Bima juga termasuk didalamnya, juga dari wilayah lain yang ada di Pulau Lombok dan Sumbawa.

ICKN memiliki tujuan untuk memajukan budaya nusantara dibawah payung NKRI. Selain itu juga, organisasi ini bisa menjadi partner pemerintah dalam upaya menjaga integritas bangsa Indonesia. Dari beberapa sumber yang diperoleh, salah stau kegiatann ICKN yang ada di provinsi lainnya adalah telah melakukan seminar dan pawai kebudayaan sebagai bagian melestarikan nilai-nilai sejarah yang ada.

Sebagai informasi, sayangnya, tidak ditemukan website resmi ICKN yang memuat informasi lengkap tentang organisasi ini. Mungkin saja karena baru dibentuk beberapa bulan yang lalu.

Khusus di Bima, salah satu hal penting yang harus menjadi catatann bersama adalah perlu dilakukannya pengarsipan yang baik. Dalam hal ini adalah naskah, buku-buku, maupun lembaran sejarah tertulis lainnya semaksimal mungkin harus tetap dijaga. Karena, semua itu akan menjadi referensi utama bagi generasi selanjutnya untuk memahami sejarah daerahnya.

Museum dan situs-situs budaya lainnya harus kembali dipugar dan berusaha mengampanyekan berkunjung ke museum. Untuk hal ini, memang terasa sulit dan tidak terlalu akrab bagi kita. Sebagai contoh yang patut ditiru, masyarakat di Eropa sangat gemar mengunjungi museum. Mereka belajar sambil mengenal langsung peninggalan masa lalu dan merekam semua hal dalam ingatan. Lebih jauh, mereka juga banyak membaca. Tak keliru memang, jika berbicara perihal sejarah bangsanya, mereka sangat menguasai secara komprehensif.

Sebagai penutup, tentunya banyak harapan yang muncul setelah prosesi pelantikan tersebut. Semoga semangat integritas, solidaritas masyarakat Bima tetap terjaga dan Jena Teke yang baru bisa menjadi figur bagi generasi sekarang dan yang akan datang. Terutama pemahaman perihal sejarah Kesultanan Bima. Karena dimasa yang akan datang, peluang untuk menjadi narasumber dalam sebuah acara kebudayaan akan diberikan kepadanya. Sebab, dirinyalah pewaris langsung dari garis keturunan istana.

Masih banyak hal yang harus dilakukan. Bima memiliki potensi sejarah dan budaya yang sangat besar. Dan semua itu bisa dimulai dengan mengarsipkan budaya membaca dan menulis, sebagai bagian integral menjaga kewarasan bernalar.

Petuah bijak masyarakat Bima, ‘Maja Labo Dahu’ (Malu dan Takut) sejatinya harus diikuti dengan ‘Nggahi Rawi Pahu’ (Perbuatan Selaras Dengan Ucapan).

*Mahasiswa Program Master Sosiologi di Istanbul University, Ketua Indonesia Turkey Research Community/ITRC

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *