Masih Adakah Pemuda Harapan Itu?

Oleh : Ady Supriadin*

Ady Supriadin

Ady Supriadin

Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober menjadi momentum tepat bagi para pemuda untuk merefleksikan diri sejauh mana telah berperan dalam berkontribusi untuk kemajuan zaman, daerah, bangsa dan agama. Karena tidak bisa kita nafikkan, pemuda menjadi elemen penting dalam setiap sejarah peradaban kehidupan umat manusia.

Namun, masih adakah pemuda harapan itu ? Jika mencermati banyak fenomena persoalan di Bima setahun terakhir ini, kita pasti akan merasa miris melihat potret buram kondisi para pemuda kita. Deretan kasus demi kasus yang terjadi tak bisa kita hindarkan dari keterlibatan pemuda. Bahkan, hampir sebagian kasus ada pemuda di dalamnya yang terlibat.

Mulai dari kasus berlabel kekerasan, penganiayaan dan perkelahian. Pemuda menjadi ‘otaknya’. Belum lagi kasus minuman keras, narkoba, penyalahgunaan obat tramadol, asusila, aborsi, pencurian sepeda motor, pembunuhan sadis hingga kasus mutilasi telah merenggut masa depan para pemuda.

Betapa tidak, nama pemuda selalu masuk dalam pusaran ‘hitam’ fenomena tersebut dan telah menjadi suguhan realita yang disajikan media massa hampir setiap hari. Hal ini menggambarkan bahwa pemuda kita saat ini berada di persimpangan. Seakan telah kehilangan arah dan marwahnya sebagai tumpuan perubahan zaman. Semangat pemuda seolah telah bergeser pada hal-hal yang bersifat destruktif.

Padahal, bila kita melihat dalam pandangan Islam, pemuda mendapatkan perhatian khusus karena perannya yang sangat penting dalam mewujudkan perubahan. Sampai-sampai, Rasulullah dalam sebuah hadistnya menyebutkan bahwa di antara tujuh golongan yang memperoleh naungan pada saat tiada naungan kecuali naungan dari-Nya pada hari kiamat adalah pemuda yang tumbuh dalam kerangka beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Walaupun disadari, mengelola masa muda agar memiliki karakter kuat dalam keagamaan, merupakan suatu perjuangan yang tidak mudah dan sederhana. Sebab pertentangan yang paling berat dan sulit serta menantang dalam fase kehidupan kita adalah menundukkan masa muda untuk tumbuh dalam beribadah kepada Allah.

Pemuda yang ingin sukses adalah pemuda yang pandai memanfaatkan peluang masa mudanya untuk maju dan berubah. Ia menyadari bahwa peluang itu tidak akan berulang. Ia memanfaatkan masa muda sebelum datang masa lemahnya (tua), masa sehat sebelum sakitnya, masa lapang sebelum sempitnya, masa terang sebelum masa gelapnya.

Ada ungkapan dalam sastra Arab yang melukiskan sebuah penyesalan di masa beruban. “Aduhai alangkah indahnya jika masa muda kembali lagi hari ini, akau akan menceritakan kepahitan pada masa beruban.”

Mencermati dinamika kehidupan yang fluktuatif dan terus berubah, para pemuda Muslim dituntut memiliki modal kuat khususnya dari ajaran Islam, agar kelak di masa tua tak menyesal.

Kita melihat, bagaimana sejarah telah mencatat sejak masa kejayaan Islam, kiprah dan peran pemuda telah berhasil membawa perubahan besar dalam setiap zamannya.

Beberapa contoh pemuda Islam di zaman salafus sholeh. Misalnya, Usamah bin Zaid 18 tahun. Memimpin pasukan yang anggotanya adalah para pembesar sahabat seperti Abu Bakar dan Umar untuk menghadapi pasukan terbesar dan terkuat di masa itu.

Sa’d bin Abi Waqqash 17 tahun. Yang pertama kali melontarkan anak panah di jalan Allah. Termasuk dari enam orang ahlus syuro. Al Arqam bin Abil Arqam 16 tahun. Menjadikan rumahnya sebagai markas dakwah Rasul Shallallahu’alahi wasallam selama 13 tahun berturut-turut.

Zubair bin Awwam 15 tahun. Yang pertama kali menghunuskan pedang di jalan Allah. Diakui oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai hawari-nya. Zaid bin Tsabit 13 tahun. Penulis wahyu. Dalam 17 malam mampu menguasai bahasa Suryani sehingga menjadi penterjemah Rasul Shallallu’alalihi wasallam. Hafal kitabullah dan ikut serta dalam kodifikasi Al Qur’an.

Atab bin Usaid. Diangkat oleh Rasul Shallallahu’alaihi wasallam sebagai Gubernur Makkah pada umur 18 tahun. Mu’adz bin Amr bin Jamuh 13 tahun dan Mu’awwidz bin ‘Afra 14 tahun. Membunuh Abu Jahal, jenderal kaum musyrikin, pada perang Badar.

Thalhah bin Ubaidullah 16 tahun. Orang Arab yang paling mulia. Berbaiat untuk mati demi Rasul Shallallahu’alaihi wasallam pada perang Uhud dan menjadikan dirinya sebagai tameng bagi Nabi.

Muhammad Al Fatih 22 tahun. Menaklukkan Konstantinopel ibu kota Byzantium pada saat para jenderal agung merasa putus asa. Abdurrahman An Nashir 21 tahun. Pada masanya Andalusia mencapai puncak keemasannya. Dia mampu menganulir berbagai pertikaian dan membuat kebangkitan sains yang tiada duanya. Kemudian, Muhammad Al Qasim 17 tahun. Menaklukkan India sebagai seorang jenderal agung pada masanya.

Kisah yang tak terhitung dalam goresan sejarah Islam. Cukuplah hal itu sebagai pengingat keagungan pemuda dalam masyarakat Islam.

Oleh karena itu, pada momen Sumpah Pemuda ini para pemuda harus mulai berbenah dan mengembalikan jati diri sebagai harapan agama, bangsa dan daerah. Pemuda  harus mempunyai karakter yang kuat untuk membangun bangsa dan negaranya, memiliki kepribadian tinggi, semangat nasionalisme, berjiwa saing, mampu memahami pengetahuan dan teknologi untuk bersaing secara global.

Pemuda juga perlu memperhatikan bahwa mereka mempunyai fungsi sebagai Agent of change, moral force and social control sehingga fungsi tersebut dapat berguna bagi masyarakat. Wallahu’alam.

*Penulis adalah Wartawan Kahaba.net

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *