Gerakan Mahasiswa dan Pemuda 

Oleh : Delian Lubis*

Delian Lubis

Arnold Toynbee mengelaim bahwa setiap kali kemunculan peradaban besar, selalu saja ditengarai oleh minoritas kreatif. Yaitu kemunculan pikiran-pikiran besar oleh sedikit orang, namun mampu mengakomodir seluruh kepentingan umum. Saya kira disinilah pertemuan antara gerakan mahasiswa dan pemuda dengan makna minoritas kreatif dalam pikiran Arnold. Karena itu, ujung tombak dari segala kemajuan, dilihat dari sejarah manapun, mahasiswa dan pemuda harus ditempatkan sebagai variabel penentu (determinan).

Di indonesia, pada masa soeharto, yang sebelumnya dilabelkan sebagai era otoritarianisme dan militeristik, semua orang dibungkam, kebebasan dicekik dengan senapan, dan setiap aksi protes dituduh sebagai tindakan makar. Era ini kemudian menemukan titik terang pada awal tahun 1998, yang tentu tidak terjadi begitu saja, bukan pula hadiah. Melainkan diawali oleh sikap berani dan patriotik dari mahasiswa dan pemuda. Kita menyebutnya sebagai era reformasi, yaitu hadiah pemuda dan mahasiswa untuk seluruh rakyat indonesia.

Ini hanya bagian kecil dari determinasi gerakan pemuda dan mahasiswa. Tapi jika ingin lebih jauh menelusurinya, buku-buku sejarah menyediakan itu, mulai dari sebelum kemerdekaan indonesia hingga sesudahnya. Katakanlah pergerakan awal dari berdirinya Budi Utomo 1908. Namun kesimpulan dari semua itu tidak terlepas dari peran (gerakan) yang dipelopori pemuda dan mahasiswa.

Dalam kesempatan ini, penulis perlu katakan bahwa posisi pemuda dan mahasiswa begitu “sakral” dihati rakyat. Sebab, disetiap kali titik keadilan tidak dijumpai atau menyentuh rakyat, setiap kali itu pula gerakan pemuda dan mahasiswa muncul dan menggugat (gerakan pembebasan). Poinnya, sepanjang sejarah pergerakan, “gerakan mahasiswa dan pemuda selalu berorientasi pada keadilan rakyat”.

Dalam perkembangannya, tidak dapat dipungkiri, ada memang sebagian dari gerakan mahasiswa dan pemuda yang tak sejalan dengan orientasi “keadilan rakyat”, itu penulis sebut sebagai gerakan pengatasnamaan yaitu yang berorientasi pada keuntungan semata. Penulis tak lantas menuduh. Tapi pemuda dan mahasiswa yang benar tak boleh terjebak dengan alur yang demikian. Cara terbaik membuktikannya adalah dengan tetap berdiri ditengah rakyat, bukan membelakangi dan mengambil untung.

Cara kongkritnya adalah tetap turun kejalan, bersuara tanpa mikir untung, bergerak dan jangan bersikap netral yang seolah-olah, “diam-diam menonton penghisapan rakyat oleh penguasa”. Itulah makna dari kesungguhan gerakan mahasiswa dan pemuda. Mungkin inilah yang dimaksud Edward Shill tentang pengkategorian mahasiswa sebagai lapisan intelektual yang memiliki tanggung jawab sosial yang khas.

Tulisan ini sebenarnya bermaksud membaca kecenderungan gerakan mahasiswa dalam dua kategori, yaitu sebagai gerakan pembebasan disatu sisi dan gerakan pengatasnamaan disisi yang lain. Tentu gerakan pembebasan yang perlu terus dilakukan. Gerakan pengatasnamaan sebisa mungkin dihindari, sebab akan melukai dan menodai gerakan terdahulu. Inilah yang kemudian menjadi inti dari yang ingin penulis suarakan dalam kesempatan ini.

*Penulis adalah salah satu dari pendiri LMND dan PRD Cabang Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *