Bima, Timur Indonesia dan Gaung Bencana yang Hampir Luput

Oleh: Didid Haryadi*

Didid Haryadi

Dua hari sebelum tanggal 21 Desember 2016 media sosial dikejutkan oleh viralnya aktivitas para pengguna micro blog twitter di Indonesia. Tagar #OmTeloletOm seketika mendunia dan menjadikan Indonesia kembali terkenal dalam tawa dan keunikannya. Para selebritas dunia tak mau ikut kalah untuk memviralkan hal yang senada.

Bagi saya, ini bukanlah hal yang baru untuk Indonesia. Dan tidak menimbulkan hal yang istimewa untuk ditiru. Terlebih mengambil bagian dengan memasang tagar di micro blog dan seketika menduplikasikannya dalam komedi dan praktik percakapan sehari-hari.

Mungkin tidak banyak yang mengenal Bima. Daerah kecil di Timur Pulau Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini memang gaungnya tidak sehebat kota-kota besar lain di Indonesia.

Namun, untuk beberapa orang yang telah memiliki pengalaman jalan-jalan sampai ke Pulau Komodo pada medio 1990-an, Bima rasanya tidak asing bagi mereka. Karena daerah ini adalah tempat singgah sebelum melanjutkan perjalanan darat ke Nusa Tenggara Timur dengan jalur laut. Dan sangat mustahil untuk tidak melewati Bima. Karena satu-satunya jalur provinsi ke sana adalah melewati daerah “Maja Labo Dahu” ini.

Atau jika tidak melakukan perjalanan, mungkin ada yang mendengarnya lewat Hasil Alam seperti Bawang Merah, Daging Menjangan, Susu Kuda Liar, dan Madu Bima yang sudah banyak dikenal.

Pada 5 April 1815 Gunung Tambora meletus dan mengguncang dunia. Banyak catatan sejarah yang menulis tentang hal ini. Keganasan letusan Tambora menyebabkan perubahan iklim drastis di Dunia, khususnya di Kawasan Eropa dan Amerika yang dilanda musim dingin yang panjang.  Setahun, langit Eropa diselimuti awan hitam tanpa sinar matahari. Kelaparan dimana-mana, gagal panen, dan sekaligus menenggelamkan tiga kerajaan di Bima, Kerajaan Sanggar, Kerajaan Pekat, dan Kerajaan Tambora. Semua orang panik dan mengira kiamat akan segera tiba. Salah satu novel yang menggambarkan suasana tersebut adalah karya Mary Shelley yang berjudul ‘Frankenstein’.

Catatan sejarah ini secara rinci dan rapi tertuang dalam Buku “Bo Sangaji Kai” karya seorang Filolog Perancis, Henry Chambert Loir bersama Dr. HJ. Siti Maryam Salahuddin. Sebenarnya, “Bo Sangaji Kai” merupakan naskah kuno Kerajaan Bima yang aslinya ditulis dengan menggunakan Aksara Bima. Naskah ini kemudian ditulis ulang pada abad ke-19 dengan menggunakan huruf Arab-Melayu, menggunakan kertas dari Belanda dan Cina.

Timur Indonesia

Dinamika informasi dan peristiwa di Indonesia sangat beragam. Bahkan arus komunikasi untuk hal-hal yang baru terjadi pun dapat cepat sekali diperoleh. Tepat pada 21 Desember 2016 sore hari waktu Indonesia Tengah (WITA) hujan deras yang tak kunjung henti di Bima sejak sehari sebelumnya menimbulkan debit air sungai naik. Dalam waktu yang tidak terbilang lama, Banjir Bandang menerjang sungai di Bima dan mulai meluap ke areal pemukiman. Tidak banyak memang informasi yang diperoleh. Beberapa kawan, kerabat dan keluarga hanya berkomunikasi lewat media sosial sampai akhirnya banjir merendam Kota Bima dan membuat listrik padam serta akses komunikasi terputus.

Beberapa orang tentunya masih ada yang tidak tahu tentang musibah besar di tanah Kesultanan Bima ini. Dan mungkin saja hampir luput dari jangkauan media nasional. Juga yang pasti tidak menjadi viral seperti peristiwa lainnya.

Bima mungkin tidak semahsyur ibukota negara. Tapi yang pasti menjadi bagian dari negara kesatuan. Bencana banjir bandang ini harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah pusat. Saat ini sekolah diliburkan, kantor pun demikian adanya. Bukankah mencintai negeri juga harus dimulai dengan mengenali  daerah lainnya?. Bahkan seharusnya kita berintrospeksi untuk saling membantu, merangkul dan membangun solidaritas untuk kemanusiaan.

Banyak sekali iluwan Barat yang telah lebih awal mengenal daerah-daerah kecil selain ibukota lewat riset yang telah dilakukannya. Dan Bima merupakan salah satu lokus yang tidak pernah ditinggalkan dalam deretan penelitian sosial. Sebut saja nama Peter Just dan juga Michael Prager yang banyak dikenal dalam literatur ilmiah.

Poin penting lainnya adalah Bima harus mulai berbenah. Semangat harus terus menyala bersama do’a dan harapan dan usaha. Sektor pendidikan harus kembali bersinar. Generasi muda hari ini idealnya harus mampu berkontribusi aktif langsung dalam proses pembangunan. Ide-ide segar dan konstruktif perlu terus digelorakan.

‘Dou Mbojo’ (Orang Bima)  dengan pedoman hidup ‘Maja Labo Dahu’ (Malu dan Takut) pasti bisa kembali bangkit. Melahirkan harapan secara kolektif. Dan yang pasti, juga harus mulai melakukan pendalaman perihal mitigasi bencana dan memberikan ruang terbuka untuk berdialog dalam membicarakn isu-isu lingkungan. Keterlibatan ulama, tokoh masyarakat, akademisi dan pengambil kebijakan sangat penting untuk mencarikan solusi terbaik bagi ‘Tanah tua Mbojo’.

Lingi, lingi adeku ta Mbojo. Kalembo ade mena ta.

*(Putera Asal Bima, Sedang Menempuh Studi Sosiologi di Istanbul University. Person in charge for Indonesia Turkey Research Communiity di Istanbul).

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *