Arti Terlibat Dalam Politik

Oleh : Zulchijjah*

Zulchijjah

Aristoteles pernah berkata, tujuan dari politik adalah untuk mencapai kebaikan bersama. Ungkapan ini menandakan dua hal bahwa, pertama politik dapat diabstraksikan sebagai “Jiwa” dari kehidupan. Jiwa adalah inti dari kehidupan. Kedua, “Jiwa” merepresentasikan kehidupan fisik. Jika “Jiwa” dari kehidupan “sakit”, maka fisik kehidupan mengalami “kegilaan”. Tentu ini menegaskan bahwa, kondisi“Jiwa” menentukan perilaku “fisik”.

Kegilaan dalam bentuk fisik pada ilmu medis disebut sebagai “gangguan kejiwaan”, dengan maksud menunjukkan ketidakwarasan. Ketidakwarasan adalah kata lain dari kegilaan yang ditandai oleh terlihatnya sikap dan perilaku yang fasik.

Cermin “sakit jiwa” dalam politik ditandai oleh munculnya kesewenang-wenangan, kerakusan, yang berimplikasi pada buruknya pelayanan publik, kebijakan yang jauh dari adab rakyat, dan berbagai macam “kegilaan” lainnya.

Kegilaan dalam lingkungan politik bisa tergambar dari maraknya perjudian, perampokan, pemakai dan bahkan bandar narkoba, serta penyakit lainnya. Kegilaan ini, kemudian menyulitkan mata hati membedakan mana adab dan mana tak beradab.

Seorang penyair jerman Bertolt Brachtsudah dengan bagus menterjemahkan arti terlibat dalam politik. Ia pernah menulis, “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir semua pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional”.

Arti terlibat dalam politik yang uraikan Bertolt Brachtdiatasdapat disimpulkan sebagai pesan agar semua orang terlibat dalam politik. Tujuannya mencapai kebaikan bersama, yaitu mengawal kemurnian “jiwa” politik. Dengan cara memilih, mengontrol, dan memonitoring setiap kebijakan politik. Keacuhan berpolitik, serupa dengan membiarkan “jiwa” dari kehidupan politik dibiarkan “sakit”.

Penentuan pilihan merepresentasikan selera “Jiwa” dari kepemimpinan politik yang akan terpilih. Daya kontrol menunjukkan tingkat perhatian untuk terus mengawasi setiap keputusan politik. Dan, monitoring mencerminkan kepedulian untuk terus memantau setiap pelaksanaan kebijakan agar tak keluar jalur.

Sehatnya jiwa politik ditunaikan lewat keterlibatan semua orang secara sukarela untuk ikut ambil bagian dalam peristiwa politik. Politik terlihat buruk, menakutkan, dan bengis, semata-mata disebabkan oleh kealpaan kita semua untuk ikut terlibat dalam politik. Jangan biarkan segelintir orang membajak kedaulatan rakyat dan merampok hak rakyat, karena perasaan acuh takterlibat dalam politik dampaknya begitu buruk.

*Pengurus SATGAS BIMA-JAKARTA

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *