3 Pesan Ramadan untuk Manusia yang berpuasa

Oleh: Eka Iskandar*

Kasi Binmas Kemenag Kota Bima, Eka Iskandar saat menjadi narasumber dalam kegiatan Dialog Refleksi Akhir Tahun KNPI Kota Bima di Aula FKUB Kota Bima. Foto: Ady

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdulillah. Seluruh kaum muslimin dan muslimat seantero jagad raya,  berjalan menuju masjid dan tanah lapang sambil mengayunkan langkah kaki sembari lisan mengucapkan kalimat-kalimat Thoyibbah.   Karena hari ini adalah hari kebahagiaan, hari kesenangan dan hari keikhlasan.

Disebut dengan Hari Kebahagiaan diperuntukkan bagi orang-orang yang telah berhasil mengikuti latihan selama bulan suci ramadan dalam tiga bentuk, yaitu  Latihan secara fisik dan latihan menahan nafsu, dibuktikan dengan kemampuan pengendalian diri dari hal-hal yang membatalkan puasa selama sebulan penuh.

Latihan dibidang Rohani  dan  Penguatan Spritual, diwujudkan dengan kebiasaan untuk memperbanyak zikir dan melantunkan kalimah-kalimah thoyibah, membaca al quran dan  sholat di malam hari. Latihan untuk mau berbagi dengan sesama muslim, diwujudkan  dengan kebiasaan untuk mengeluarkan Zakat, Infaq da sedekah guna membantu sesama, sebagai wujud solidaritas ke-ummat-an dan nilai kesetiakawanan sosial serta menjamu saudara seiman untuk berbuka puasa guna membagi suka dan duka.

Para hamba Allah Swt yang telah melewati paket latihan dalam bulan suci ramadan dengan penuh keimanan dan perhitungan amal yang mantap, maka sesungguhnya mereka telah keluar sebagai pemenang meraih derajat Taqwa disisi Allah SWT dan dikatakan pula  telah kembali meraih derajat fitroh yaitu kembali kepada kemurniaan pengakuan ketaatan, istiqomah dan tawakkal hanya kepada Allah SWT.

Artinya : “ Wahai orang-orang yang berselimut ( Muhammad), Bangunlah untuk sholat di malam hari kecuali sedikit, yaitu separohnya atau kurang sedikit dari itu, atau lebih dari seperdua itu dan bacalah al-quran dengan perlahan-lahan (QS. Al-Muzammil; 1-4)

Disebut sebagai Hari Kesenangan diberikan secara spesial bagi hamba Allah SWT yang telah menunaikan ibadah puasa dengan penuh kekhusukan. Hal ini dibuktikan dengan kesenangan disaat berbuka, kegembiraan dikala berdialog langsung dengan Allah SWT melalui perantaraaan sholat dan bacaan ayat-ayat suci Al Quran.

Disebut dengan Hari Keikhlasan kita wujudkan dengan ucapan lisan dengan mengumandangkan kalimat takbir, kalimat tahmid, dan kalimat tasbih serta kalimat thoyibah lainnya.

Pekikan dan lantunan kalimat tersebut mengandung makna perpisahan dengan bulan suci ramadan, bulan yang agung. Sebagaimana hadits Nabi SAW: Hiasilah Idul Fitrimu dengan kalimat Takbir. Keistimewaan kalimat-kalimah itu pada hari ini, telah memecah suasana alam. Keramaian berubah menjadi keheningan, sebagai pilar dan buki bahwa semua anak adam mengakui akan keterbatasan dan kelemahan dirinya sekaligus pembuktian akan ke-Maha Besar-an Allah SWT.

Pekikan kalimat tersebut tidak boleh berhenti sampai disini, tetapi harus hidup dalam relung hati yang paling dalam dan nafas kehidupan setiap saat dan setiap waktu. Kalimat-kalimat ini telah menjadi perantaraan pembinaan hubungan yang harmonis antara suami dan isteri, untuk saling memaafkan, membangun bingkai asmara kehidupan. Menjadikan hubungan ketaatan antara anak dengan orang tua guna mengampuni dosa dan kesalahan. Dan menjadikan keramahan serta saling memaafkan antar kehidupan invidu dalam masyarakat.

Berbahagialah  kita, hingga saat sekarang ini masih dimudahkan oleh Allah SWT untuk bersujud dihadapan-Nya. Janganlah karena perilaku menentang Allah SWT menjadikan kita semakin jauh dari-Nya. Jangan pula karena kesombongan dan kebodohan kita menjadikan jalan kita terhalang untuk memasuki surga-Nya, jangan pula karena kedholiman kita menjadikan jalan kita tertutup rapat untuk mendapat HidayahNya. Kita hanyalah manusia dhoif yang mempertontonkan kesenangan hidup sesaat di dunia, tetapi membawa kesesatan dan penyesalan berkepanjangan di akhirat kelak.

Sebulan kita melaksanakan ibadah puasa, ibadah yang istimewa, telah memberi dampak terhadap peningkatan spritualitas, kepekaan sosial dengan saling menyayangi antar sesama, kemudian kita merayakan kebahagiaan itu dengan momentum kemenangan bagi kita semua pada pagi ini.

Artinya, apabila mereka berpuasa di bulan ramadhan, kemudian keluar untuk merayakan hari raya, maka Allah azza wa jalla berkata: “ Wahai malaikat Ku, setiap orang yang mengerjakan kebajikan dan meminta balasannya, sesungguhnya Aku (Allah swt) telah menganpuni dosa mereka, seseorang kemudian berseru, … wahai umat Muhammad, pulanglah ke tempat tinggal kalian seluruh keburukan dan dosa kalian telah diganti dengan kebaikan dan pahala. Kemudian Allah swt pun berkata, Wahai hambaku, kalian telah berpuasa untuk Ku dan berbuka untuk Ku. Maka bangunlah sebagian orang yang telah mendapatkan ampunan.

Kemudian, apa yang harus kita lakukan sepeninggal ramdahan yang baru berpisah dengan kita???

Apakah kita semakin cinta kepada syariat ajaran islam, atau justeru semakin jauh dari Allah swt, apakah kita akan mempertahan keimanan dan ketaqwaan kita kepadaNya atau justeru menjadikan kita lebih durhaka Kepada Allah swt, Penantang RasulNya, apakah kita akan lebih durhaka kepada orang tua kita, ataukah kita semakin dholim dan dosa kepada keluarga kita. Untuk menjawab semua pertanyaan ini, mari kita renungkan ada 3 pesan ramadhan untuk kita yang telah melaksanakannya.

PESAN RAMADHAN YANG PERTAMA ADALAH MEMPERTAHANKAN MORALITAS KEISLAMAN ATAU YANG DISEBUT DENGAN TAZKIYATUN NAFSIYAH.

Membersihkan jiwa manusia dari pengaruh nafsu dan syahwat, sifat amarah,  adalah poin penting bagi kita untuk berjihad melawannya, karena menjadi musuh yang sangat berat untuk dihadapi. Imam Al Ghazali, mengatakan bahwa secara insting dalam diri manusia terdapat 4 (empat)  sifat yang melekat. 3 sifat membawa kepada kebencanaan dan kerugian, sementara 1 sifat yang membawa manusia kepada keuntungan dan pahala.

Adapun ketiga sifat yang membinasakan kehidupan manusia adalah :  pertama sifat Al bahimah atau  kebinatangan ditandai dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa malu. Kedua sifat Sabuiyyah atau buas, ditandai adanya kedoliman  dan hilangnya keadilan, ketiga sifat Syaithoniyah ditandai dengan menonjolnya hawa nafsu untuk merendahkan derajat manusia.

Akibat pengaruh 3 sifat tersebut,  lebih mewarnai perilaku manusia dan kelompok dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, maka hancurlah semua pranata kehidupan yang ada. Keadilan dapat diperjual belikan, tergusur oleh kedoliman yang membabi buta, pasal dalam aturan dapat dipesan serta diberlakukan sesuai kehendak penguasa,  kebajikan dihanguskan diganti dengan kemaksiatan, ulama dan tokoh islam dicari kesalahannya dan dihukum  serta dipenjara, para penjahat besar dibiarkan, perampok uang Negara diperlakukan laksana raja, anak-anak PKI dibiarkan keliaran dengan ide dan gagasannya, dan munculnya para penista agama allah swt  yang tidak pernah ada kata lelah untuk menyudutkan dan menjelekkan agama Allah swt dan kaum muslimin. belom lagi sederet persoalan keummatan lainnya yang masih terbelenggu dengan berbagai dimensi kehidupannya.

Sisi lainnya adalah ketika dihadapkan dengan kecintaan Allah swt kepada kita semua, menguji umatnya dengan berbagai musibah dan bencana, apakah itu gunung meletus, gempa dan yang baru kita alami adalah banjir bandang, cenderung menyalahkan pihak-pihak lain dan alam, masjid dan tempat-tempat yang aman dijadikan tempat pengungsian, tetapi ketika azan untuk menyeru kita untuk beribadah sholat, maka banyaknya jumlah pengungsi belum berbanding seimbang dengan shaf-shaf dalam sholat kita, sehingga masjid, hanya cenderung sebagai tempat tidur bukan sebagai tempat sholat.

Sedang satu sifat yang menyelamatkan manusia adalah sifat Rububiyyah. Ditandai dengan keimanan, yang telah kita bina selama ramadhan. Hasilnya adalah hidupnya penuh dengan sinar al quran, akhlaqnya sangat mulia karena kita telah mampu melawan dan  menahan hawa nafsu, memberi dan meminta maaf serta berbuat baik kepada sesama manusia, sebagaimana firman Allah swt :

Artinya, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, dan Allah swt sangat mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran ayat 3).

PESAN RAMADHAN YANG KEDUA ADALAH PESAN KESETIA KAWANAN SOSIAL.

Pesan ini di tandai dengan adanya sikap silaturrahmi sebelum memasuki bulan suci ramadhan, kemudian dipertajam dengan kebersamaan saat melaksanakan solat wajib dan taraweh. Akan terasa lebih indah bila ada kemauan dan kesanggupan untuk mengajak saudara kita buka bersama walau dengan sebiji kurma dan segelas air putih, dan akan lebih sangat menawan manakala kita mampu mengeluarkan Zakat, infaq dan shodaqah guna membantu sesama, dan  Hidup tolong menolong antara orang kaya untuk orang miskin, antara orang yang  berkecukupan dengan orang yang hidup serba kekurangan. Bukankah mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqah adalah amalan yang terpuji, yang dapat memberi nilai manfaat sebagai perisai diri kita  dari senggatan api neraka Allah swt.

Allah swt berfirman didalam Al-qur’an surah At-taubah:34-35 yang Artinya : ” dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak tapi tidak menginfakkannya dijalan Allah maka kabarkanlah kabar gembira kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat ) azab yang pedih. (ingatlah) pada hari ketika emas dan perak dipanaskan didalam neraka jahanam, lalu dengan itu disetrika dahi, lambung dan punggung mereka, (seraya dikatakan) kepada mereka inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri maka rasakanlah (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.

Dalam suasana lebaran yang penuh dengan kegembiran ini, mari kita tingkatkan kesadaran kita bahwa sebagai manusia yang hidup bermasyarakat harus menanamkam sifat peduli terhadap orang lain. Jangan dirinya sudah kenyang, berkecukupan, selamat dan bahagia,  lalu tidak mempedulikan nasib orang lain. Ingat Rasulullah saw bersabda :

?? ???? ????? ??? ??? ????? ?? ??? ?????

Artinya:’ Belum sempurna iman seseorang dari kalian hingga dia mencintai saudaranya,sebagaimana ia mencintai dirinya.( HR.bukhari. ) .

Dari hadis ini kiranya dapat kita jadikan sebagai pelajaran bahwa apapun yang kita sayangi baik yang berupa kebahagian, maupun kebaikan yang telah kita rasakan,  harus pula dapat dinikmati dan dirasakan oleh saudara-saudara kita sesama umat islam. Jika mereka belum bisa merasakan kecukupan dalam hidup, maka kita harus membantunya. Apabila ada diantara saudara kita yang kelaparan maka wajib bagi kita membantunya sehingga ia dapat makan dan merasakan kenyang sebagaimana yang telah kita rasakan. Rasulullah saw bersabda yang artinya : ’Tidaklah beriman dengan baik orang bermalam dengan perut kenyang, sedangkan tetangganya berbaring dalam keadaan lapar ,sedangkan ia mengetahui keadaan tetangganya.”

PESAN RAMADHAN YANG KETIGA ADALAH PESAN BERJIHAD DI JALAN ALLAH SWT.

Di era global sekarang, kemajuan ilmu dan teknologi belum berbanding seimbang dengan kemajuan pemahaman agama yang benar dan memadai. Sehingga sering terjadi kedangkalan dalam memahami suatu perintah dalam al-quran dan hadits. Diantaranya adalah memahami konsep jihad dalam islam.

Selama ramadhan kita telah ditempa dengan jihad melawan hawa nafsu. Diajarkan  bagaimana bersikap sabar dan lapang dalam menerima nikmat dan rezeki yang Allah swt titipkan kepada kita. Termasuk merubah tatanan kehidupan yang buruk menjadi lebih baik dan bermartabat, mencari harta yang halalbagi keluarga agar tidak berkekurangan serta kesadaran kita  untuk meninggalkan dosa guna menjemput pahala dan kebaikan adalah bagian  dari unsur makna jihad. Jihad tidak bisa diartikan hanyalah perang, mengangkat senjata dan membunuh manusia yang tidak berdosa.

Dalam konteks kekinian, jihad adalah mengendalikan diri dan mendorong system sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah swt untuk tidak melakukan perbuatan yang merugikan diri kita, orang lain dan agama.Allah swt berfirman :

Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan dari azab yang pedih yaitu kamu beriman kepada Allah swt dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah swt dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahu. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan measukkanmu kedalam surge yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan memasukkan kamu  ketempat tinggal yang baik kedalam surga adnin dan itulah keberuntungan yang besar(QS. Ash Shoof ayat 10-12).

Kesalahan dalam memahami jihad akan mengantarkan terbentuknya kelompok tertentu yang ingin merubah negara dan dunia atas  kehendek kelompok mereka, salah satu cara yang dipakai adalah perang untuk melawan siapapun yang tidak sesuai dengan pemahaman kelompok mereka.

Ibadah puasa telah mengajarkan kita untuk tidak marah, upaya mendekatkan diri kita kepada Allah swt melalui sholat, zikir dan membaca alquran akan mengantarkan manusia menjadi pribadi yang suci dan cerdas. Kita butuh sekali  pelaksanaan jihad dalam semua sektor kehidupan kita.

Jihad menahan hawa nafsu agar tidak terjerumus dalam kemaksiatan dan dosa berganti pahala dan kebaikan dunia-akhirat kita. Jihad  melawan renteiner yang mencekik ekonomi keummatan berganti dengan system ekonomi perbankan syariah dengan cara bagi hasil (Mudhorabah),Jihad bagi kepala keluarga untuk mencari rezeki Allah swt dari yang halal dan thoyibah,  Jihad  dalam kehidupan keluarga untuk melahirkan, mendidik, merawat dan membesarkan generasi anak-anak kita menjadi pribadi yang sholeh dan sholehah, yang siap berkorban jiwa raganya demi meninggikan agama Allah swt, bukan generasi yang jauh dari nilai-nilai luhur agamanya. Jihadnya seorang suami untuk tidak menghianati isterinya  dengan perbuatan maksiat selingkuh dan demikian juga sebaliknya jihadnya seorang isteri tidak lagi durhaka terhadap suaminya. Jihad kita untuk belajar dan mendalami agamaNya, bukan menjadi umat islam yang gagal paham, yang melahirkan ulama yang sesat ketika memberi fatwa kepadanya umatnya. Jihadnya aparat penegakkan hukum untuk semampu mungkin menerapkan keadalian yang seadila-adilnya, Jihad harus kita kobarkan dalam segala lini kehidupan.

Oleh karenanya, kalau makna jihad ini sedapat mungkin dipahami secara benar, maka umat islam tidak gampang terprovokasi dengan berbagai isu yang menyudutkan agama islam,. Sisi lain,  keberadaan agama ini  menjadi lebih jelek dalam pandangan orang lain, maka jihad kita adalah meninggikan agama allah sesuai kemampuan kita masing-masing.

Moment Ramadan tahun ini saya mengajak kita semua untuk saling memaafkan, saling mengunjungi, saling mengampuni dosa, kita bangun peradaban yang lebih baik dan berkemajuan  untuk menata diri, keluarga, masyarakat, daerah dan negara yang kita cintai. Inilah buah dari  3 pesan  ramadhan kepada kita sekalian.

*Penulis merupakan Ketua FKUB Kota Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *