Melestarikan Budaya ‘Bahasa Mbojo’ Lewat Delta Blues

Oleh: Didid Haryadi*

Didid Haryadi

Bima memiliki potensi sumber daya alam yang sangat melimpah, baik dari sektor pertanian, perkebunan maupun kelautan. Selain itu, daerah yang berada di ujung timur Pulau Sumbawa ini, menyimpan banyak cerita dan peradaban yang masih sangat menarik untuk dikaji. Misalnya ketertarikan beberapa peneliti dari luar yang mempelajari tentang sejarah dan kesultanan Bima ataupun studi mengenai vulkanologi yang ada di Gunung Tambora.

Salah satu potensi budaya yang masih dilestarikan sampai hari ini adalah bahasa Bima. Menurut data yang dirilis oleh National Geograpic Indonesia pada 2016 lalu, jumlah bahasa daerah di seluruh wilaya Indonesia sebanyak 742 bahasa. Akan tetapi, dengan banyaknya ragam bahasa yang dimiliki oleh Indonesia ternyata memiliki masalahnya sendiri. Dengan jumlah bahasa sebanyak itu, hanya ada 13 bahasa daerah yang memiliki angka penutur di atas satu juta orang.

Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ke-lima, bahasa Bima menjadi salah satu bahasa yang dipilih sebagai bagian dari 101 daftar ragam bahasa yang ada. Baik dari sleluruh wilayah Indonesia maupun dari negara-negara lainnya. Hal ini tentu saja hal yang cukup menggembirakan karena secara tidak langsung eksistensi Bima melalui bahasa masih menjadi bagian dalam riset dan kontribusi untuk ilmu pengetahuan.

Bahasa sebagai bagian dari kebudayaan manusia, mampu memberikan dampak yang sangat besar dalam kehidupan sosial terutama dalam konteks berkomunikasi dan sosialisasi. Menurut Koentjaraningrat, ada tujuh unsur penting dalam kebudayaan, antara lain bahasa, sistem pengetahuan, sistem kemasyarakatan atau organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem religi, dan kesenian. Oleh karena itu, untuk menjaga unsur kebudayaan agar tetap bertahan maka diperlukan perhatian dari publik dan setiap individu dalam menjaga kelestariannya untuk generasi yang akan datang. Menurut Wurn (1998), kondisi kebahasaan di Indonesia yang mayoritas bahasanya berjumlah penutur sedikit mampu diklasifikasikan menjadi beberapa tahap. Terdapat bahasa yang berpotensi dalam tingkatan berbahaya. Bahasa tersebut secara sosial dan ekonomi tergolong minoritas dan memperoleh dari bahaya mayoritas.

Selain itu, juga ada bahasa yang berada dalam kondisi bahaya dan terancam punah adalah bahasa yang tidak memiliki generasi muda yang menggunakan bahasa ibu. Generasi dewasa adalah satu-satunya kelompok yang masih menjadi penutur fasih. Berbeda dengan kondisi bahasa yang masuk dalam klasifikasi kondisi berbahaya yang serius. Mereka adalah bahasa-bahasa yang penuturnya dari generasi tua, usia 50 tahun ke atas. Klasifikasi selanjutnya adalah Moribund, dimana kondisi bahasa tersebut benar-benar sekarat karena penuturnya yang sedikit dan berasal dari orang-orang yang berusia 70 tahun ke atas. Kepunahan bahasa akan benar-benar terjadi jika ia sudah tak memiliki penutur.

Album Delta Blues Pertama dengan Bahasa Bima

Rif Delta Blues cover

Pada 2015 lalu, seorang seniman asli Bima, Syarif Hidayatullah merilis mini album delta blues di Yogyakarya. Mahasiswa master di bidang Psikologi ini, memiliki semangat dan inisiatif untuk mengembangkan sekaligus melestarikan bahasa Bima (Mbojo) dalam bidang musik. Sebelumnya, pada 2014 ia juga telah merilis album penuh ‘Feel’ yang berisi delapan lagu. Akan tetapi, menurutnya mini album yang diberi tajuk ‘Pata Angi’ ini sangat berkesan. Karena di sana ia bisa bebas berekspresi dengan lagu-lagu yang ditulis dengan bahasa Mbojo.

Sebanyak enam lagu di album ‘Pata Angi’ ditulis dengan gaya delta blues dan menyajikan nuansa yang cukup menyejukkan. Daftar lagu di album ini adalah Pata Angi/Lingi, Bloom, Selamat Pagi DIY, Mbojo Vespa, dan Jara. Semua lirik lagu dalam album ini ditulis sendiri oleh Syarif Hidayatullah dengan proses kreatif dan distribusi yang dilakukan dengan mandiri.

Lagu yang berjudul Jara (Kuda) dalam album ini sejatinya memiliki pesan yang sangat dalam. ?a menceritakan tentang rasa rindunya dengan perlombaan pacuan kuda yang telah menjadi budaya di Bima. Pada bagian pembuka lagu, ia memulai dengan derap kaki kuda yang berlari, kemudian diikuti suara alat tiup tradisional Bima, Silu (seruling), dan gitar akustik. Lagu berdurasi 4:14 detik ini seolah mengingatkan tentang peristiwa penting yang terjadi setahun yang lalu, yakni ditetapkannya Pacoa Jara sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Nasional oleh Kemendikbud RI. http://kahaba.net/bima/48273/pacoa-jara-dan-kareku-kandei-ditetapkan-sebagai-wbtb-nasional.html . Kondisi ini tentu saja harus menjadi perhatian Dou Mbojo dan pemerintah daerah untuk terus melestarikannya. Adapun beberapa budaya lainnya,, seperti bahasa juga harus terus dipraktikan dalam kehidupan sehari-hari. Laju modernisasi dan globalisasi seharusnya dapat diimbangi dengan mempraktikan nilai-niali lokal yang masih melekat dalam kehidupan sosial kita.

Berikut ini adalah lirik dari lagu ‘Jara’:

jaraku ma me’e, jaraku ma bura, rai, rai, rai

Jaraku ma me’e, jaraku ma kala, jaraku ma bura, rai, rai, rai, rai, rai,,,

Aina nefa budaya ndai, aina kalao pacoa jara

Jaraku ma me’e, jaraku ma bura, jaraku ma kala, rai, rai, rai..

 

Jaraku ma me’e, jaraku ma bura, jaraku ma kala, rai, rai, rai…

Aina mbani nggarasi ma k.o deka

Aina bangga nggarasi ma ngolu deka

 

Yang penting ndai kasama weki

Aina kalao budaya ndai,

 

Jaraku ma me’e, jaraku ma me’e

Jaraku ma kala, rai, rai, rai…

 

Tata nilai budaya yang tersimpan dalam kosakata, pantun, cerita rakyat, mitos, legenda dan ungkapan harus bisa terus dilestarikan. Penelitian terhadap bahasa membantu kita untuk mengenali sosok budaya kita. Bahasa-bahasa yang tergolong berpotensi terancam punah perlu memperoleh perhatian khusus sebelum benar-benar menghilang dari kehidupan berbangsa kita.

Aina nefa nuntu Mbojo!

*Penulis Mahasiswa Program Master Sosiologi di Istanbul Uniiversity, Turki

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *