Musik Abal-Abal dan Peningkatan Surplus Kejahatan di Bima

Oleh: Dedi Purwanto, S.H*

Dedi Purwanto

Kasus pembunuhan akibat dari adanya orgen tunggal kembali terjadi di Desa Waduroka Kecamatan Langgudu menyebabkan satu orang meninggal dan satunya lagi luka-luka. Kejadian ini benar-benar membuat kita harus keluar dari zona nyaman masing-masing. Bila perlu, keluar dari tempat pertapaan kita untuk mencari satu formula atau panacea (ramuan ajaib) yang bisa menyembuhkan penyakit sosial semacam ini. Kita harus kerahkan segala daya untuk mencari solusi terhadap persoalan ini.

Rumusan masalahnya setidaknya bersumber dari dua elemen. Pertama, dari pihak-pihak yang bertikai. Semuanya harus dikembalikan ke meja hukum dan diupayakan agar tindakan main hakim sendiri tidak terjadi. Kedua, dari musik orgen tunggal. Upaya membangun analisis kritis-transformatif terhadap orgen tunggal. Ini perlu, supaya hal-hal baik dari kegiaatan tersebut dilestarikan dan untuk manfaat-manfaat yang tidak sesuai dengan sistem kehidupan sosial kita bersama agar dikubur dalam-dalam. Ini penting, mengingat untuk keberlangsungan rasa kemanusiaan kita semua. Dan untuk menghindarkan diri setiap Huma dari kasus homo homoni lupus (manusia memangsa manusia yang lain).

Klarifikasi Epistemik dari Orgen Tunggal

Sampai sekarang penulis belum menemukan satu rumusan logis, etik dan estetik dari sebuah musik yang dilestarikan oleh orang Bima saat ini. Penulis bingung, kok bisa hanya bermodal satu alat musik yang dinamakan orgen tunggal bisa begitu eksis di Bima. Jenis musik ini abal-abalan benar. Kenapa? Karena musik ini tidak punya sistem keindahan dalam seni. Kenapa tidak punya sistem keindahan. Sebab, alat musik yang dimainkan cuman satu alat musik yaitu orgen. Mari berfikir sejenak tentang ini. Menurut Penulis, semua jendre musik yang lahir dari rahim modernitas  merupakan nada yang terbentuk dari beberapa alat musik. Dengan kata lain, musik yang punya sistem keindahan itu setidaknya terdiri dari beberapa alat musik yang berkolaborasi sehingga melahirkan nada.

Selain itu, musik orgen tunggal ini masuk kategori musik yang bagaimana? Musik dangdut atau musik pop. Semi dangdut atau bagaimana. Dangdut klasik atau apa. Musik dangdut alternatif? Kita sulit merumuskan hal tersebut dikarenakan gendre musik dari orgen tunggal ini kurang jelas.Karena, musik dangdut klasik, kontemporer ataupun alternatif, semuanya dihasilkan dari beberapa alat musik bukan satu alat musik.Ini juga yang menjadi alasan kenapa orgen tunggal tidak mempunyai sistem keindahan dalam berseni.

Orgen Tunggal Sebagai Aktualisasi Seni?

Sabar jangan gegabah.!

Pada dasarnya Semua tidak bisa didefinisikan sebagai seni. Kenapa? sebab seni merupakan suatu sistem. Lalu sistem yang dimaksud itu bagaimana. Begini, seni mempunyai aturan main supaya sesuatu itu dikatakan seni. Aturan main itu adalah syarat yang harus dipenuhi agar sesuatu bisa dikatakan sesuatu itu. Setidaknya ada beberapa syarat supaya segala sesuatu dikatakan sebagai seni (dalam kasus ini orgen tunggal):

Pertama, Logis, seni harus memuat unsur rasionalitas. Kontektualitasnya begini, orgen merupakan alat musik modern. Kondisi dalam perkembangan musik modern, tidak di temukan lagi satu alat musik yang dimainkan. Musik yang dihasilkan merupakan pepaduan antara beberapa alat musik, berbeda dengan alat musik klasik awal yang rata-rata dimainkan secara tunggal (sendiri).

Kedua, Etis, dalam berseni etika merupakan unsur yang harus terpenuhi sebab seni adalah pekerjaan yang praxisnya pada ketenangan dan keindahan. Berarti syarat supaya tenang dan indah semuanya harus beretika. Mari kita lihat orgen, hanya satu alat musik, piduannya dengan pakaian super ketat, minuman, mabuk, ujung-ujungnya tawuran dan berantam. Ini yang kita katakan seni dan etika? Ayolah bung jangan lelucon terus ya.

Ketiga, estetis. Keindahan dari sebuah seni merupakan hal penting. Keindahan ini tidak hanya menyangkut diri sendiri, tetapi juga orang lain, alam dan menurut Tuhan. Kalau dari orgen tunggal itu sering terjadi caci maki, saling bunuh, saling melukai, saling membenci dan sebagainya lalu indahnya orgen itu dimana? Kalau beberapa unsur diatas atau salah satu unsur diatas tidak dipenuhi.Tolong jangan dikatakan orgen sebagai seni. Cari saja kosa kata yang lain yang bisa mewakili itu.

Orgen Tunggal dan Kran Kejahatan yang Dibuka Lebar

Musik orgen selalu dibutuhkan pada momen sunatan, bahkan untuk memeriahkan acara ketika seseorang ingin naik haji (bisa dibilang sebagai bentuk syukuran). Aneh memang kondisi tersebut! Selain itu, untuk acara pernikahan. Kalau untuk pernikahan sudah jelas pasti akan di pesan untuk memeriahkan sekaligus mengundang kematian dan kebencian. Memecahkan gendang teliga para tetuah dan sesepuh-sesepuh di desa tersebut, mengganggu tidur nyenyak seorang bayi, membuat lalu-lintas tidak stabil, sampai darah mengalir dan permusuhan yang berkepanjangan. Itulah hasil dari orgen tunggal. Kita harus jujur untuk menguarakan itu, sebab kenyataannya (empiris) memang begitu.

Saya bukan tidak sepakat dengan orgen tunggal. Namun pertimbangan penulis terletak pada tataran teoretik, manfaat, dan kejahatan yang dihasilakn oleh orgen tunggal. Kalau lebih banyak bencananya daripada anugrahnya buat apa di pertahankan dan dilestarikan. Toh itu bukan musik asli dari negeri Bima kok. Lalu bagaimana sebaiknya. Kita daur ulang bialo dan gambus supaya menjadi musik yang fress. Kita kolaborasikan alat musik tersebut dengan alat musik yang lain. Kalau pemerintah tidak memulai maka komunitas-komunitas yang harus memulai. Masalah suka atau tidak suka adalah persoalan waktu saja. Selain suka dan tidak sukanya. Sebenarnya kecintaan seseorang itu konstruksi dari lingkungan. Semisalnya, kita biasa untuk makan nasi, ketika kita disuruh makan gandum pasti kita mengatakan tidak suka. Namun apabila gandum itu di suplai terus menerus dan dibarengin dengan perlahan meniadakan nasi maka lama-kelamakan orang akan suka dengan gamdum.

Orgen tunggal, hanya karena modal musik yang disco serta dibarengi dengan goyangan para biduan yang erotis dan sexy. Barang ini bisa menggantikan posisi tawar musik gambus, biola, rebana, kasidah yang eksis beberapa abad yang lalu. Ini aneh sekaligus membingungkan bagi Penulis. Sebagai manusia biasa hal yang bersifat erotis-sexy memang perlu. Tapi, pertimbangan kemanusiaan adalah yang utama. Dari keadaan tersebut diatas, semua orang khawatir terhadap kematian dan luka-luka yang di hasilkan dari musik orgen tunggal ini. Persoalannya kenapa ini masih di maklumi dan dilestarikan? Mari kita sama-sama tarik nafas dalam dan mengelus dada.

Apakah Musik Gambus dan Biola Bisa Menjamin tidak Adanya Patologi Sosial?

Penyanyi maupun pemain musik gambus dan biola adalah orang yang berkarakter. Berkarakar maksudnya, kalau penyanyinya tidak benar-benar tau tentang pantun Bima dan kalau pemain musiknya tidak benar-benar mengusai secara metafisik alat musik tersebut maka estetik dari musik tersebut tidak ada. Sederhananya begini, musik tradisional itu masih mempunyai sisi humanis-metafisik daripada musik orgen yang lebih menitikberatkan pada hedonis-erotis. Selain itu, mengenai menjamin, semuanya harus di uji materil. Kalau kita melirik sejarah pada waktu maraknya musik gambus dan biola dulu, maka kita akan temukan betapa sedikitnya patologi sosial yang dihasilkan dari adanya pentas musik tersebut. Kalau tidak percaya tanya pada orang tua kita masing-masing yang merasakan atau melihat langsung musik-musik tersebut saat itu. silahkan coba untuk bertanya!

Orgen Tunggal dan Sebuah Gaya Modernitas.

Mungkin kita menganggap musik orgen sebagai simbol perayaan terhadap modern. Maksudnya begini, orgen adalah musik versi kekinian sedangkan musik gambus dan biola merupaakan representasi ketertinggalan (tradisional). Berarti konsekuensinya, kita mencari music yang baru untuk melupakan musik yang lama. Dalam kritik modernitas semuanya tidak bisa berlaku universalitas. Dalam arti begini, definisi tradisional itu siapa yang memberikan? Definisi modern itu siapa yang menafsirkan? Seni dalam kacamata modernitas hanya seputar pada ketenangan dan kesengaan diri sendiri bukan tentang ketenangan dan kesenangan diri dengan alam, semesta, dan Tuhan. Bermusik pada level ketenangan antara diri, alam dan Tuhan inilan yang tidak ditawarkan oleh musik orgen. Sedangkan musik tradisional seperti gambus dan biola masih menawarkan ini meskipun dibutuhkan analisis tersendiri untuk mengkaji itu. Modern dan tidak seseorang itu bukan pada apa yang di kerjakan namun lebih pada cara pandang kita terhadap sesuatu.

Akhirnya, tidak semua bisa kita definisikan sebagai seni. Seni mempunyai aturan main. Setidaknya dia harus memenuhi salah satu atau semua dari unsur logis, etis dan estetis. Karena itu merupakan pertimbangan timbal balik, bukan pertimbangan searah. Maksundya, seni tidak hanya menyoal diri sendiri dan kelompok tapi juga menyangkut masyarakat luas dan keterkaitan dengan alam dan Tuhan. Dan kalau yang didefinisikan sebagai seni (dalam hal ini orgen tunggal) lebih banyak menimbulkan kegaduan daripada keselarasan dan keharmonisan kita tinggalkan itu dan menggantinya dengan yang lain.

Ka iyo aina ka Au, ka Ncara ma Ncara, ka Ncihi ma Ncihi

*Penilus Ketua Umum Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia Cabang Daerah Istimewa Yogyakarta (DPC PERMAHI DIY) periode 2014-2016, Pengamat Hukum, Sosial dan Budaya / Pemuda asal Bima NTB / Wakil Direktur LPBH-NU Kota Yogyakarta 2017-2019.

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *