Konflik Bima: Pesta, Musik dan Kain Kafan

Oleh: Bima Monta*

Bima Monta

Hiburan sudah menjadi kebutuhan dalam hidup umat manusia. Keberadaannya begitu melekat hingga tidak terpisahkan dari rutinitas manusia. Beragam bentuk hiburan hadir dalam kehidupan, bahkan sengaja diciptakan dalam bentuk dan jenis yang beragam. Begitu pentingnya hiburan, menjadikan dicari walaupun pencarinya harus mengeluarkan biaya dan tenaga ekstra.

Dalam konteks kekinian, pilihan hiburan memang beragam, tetapi keberagaman itu tidak mengabaikan hiburan rakyat seperti musik tradisional. Kehadiran musik modern tidak terelakan dalam mengeliminir musik tradisional, tetapi tidak sepenuhnya mampu memberangus hingga punah dari telinga penikmatnya.

Di Bima, Rawa Mbojo yang diiringi biola adalah bukti nyata dari eksisnya musik tradisional. Penikmatnya masih tinggi walau sebatas pada kelas menengah ke bawah. Sementara kalangan menengah ke atas cenderung menyukai musik modern seperti orgen tunggal dan band. Kondisi ini kemudian melahirkan kelas-kelas tersendiri dalam memperoleh hiburan.

Walaupun aliran musik membentuk kelas masing-masing, peluang untuk tukar posisi tetap terbuka. Kalangan menengah ke atas bisa menikmati musik tradisonal dan tindakannya dianggap sebagai perhatian atas identitas budaya. Sebaliknya kalangan menengah ke bawah dapat menikmati musik modern, hal ini yang selanjutnya menciptakan kolaborasi musik modern dengan tradisional sehingga lahirlah biola katipu misalnya.

Tulisan ini sesungguhnya tidak mengupas tentang perkembangan aliran musik di Bima, melainkan dinamika sosial yang ditimbulkan oleh pagelaran musik. Di mana beberapa konflik yang pernah terjadi, lokusnya di tempat hiburan rakyat. Tidak sedikit kejadiannya berakhir dengan pertumpahan darah. Alih-alih mendapatkan hiburan, malah menemui kematian.

Hampir semua kasus konflik pribadi, komunal pada masyarakat Bima itu terjadi disebabkan oleh pergelaaran musik. Masyarakat Bima, ketika berlangsungnya kegiatan seperti pernikahan, tahun baru, pesta kemenangan, dan kampanye saat pemilu selalu menyelenggarakan acara musik. Penyelenggaraannya cenderung menemui masalah lebih-lebih ketika dilaksanakan malam hari sangat rentan memicu konflik. Pemuda yang saling senggol disaat acara joget saja bisa-bisa setelah itu saling bacok. Akibatnya tidak saja melibatkan antara individu yang bertikai, melainkan merembes pada konflik komunal.

Penyelenggaraan yang cenderung tidak melalui mekanisme tertentu misalnya perizinan dari pihak dan menggandeng elemen masyarakat tentu memiliki implikasi terhadap berlangsungnya acara terlebih dari sisi kemananan. Bagi penyelenggara, mengadakan acara musik di malam hari merupakan sebuah prestise. Jadinya sering mengabaikan himbauan dari pihak yang berwajib yang melarang diselenggarakannya acara musik di malam hari. Sebagian kalangan memang merasa hambar jika sebuah acara seperti pernikahan tidak disertai hiburan musik. Abai terhadapnya dalam kehidupan sosial dianggap tidak mampu secara ekonomi. Minimnya peraturan yang mengatur penyelenggaraan sebuah pesta yang melibatkan musik menjadi persoalan yang serius untuk dapat ditindaklanjuti oleh pejabat publik.

Di era milenium ini, musik tidak hanya bisa dinikmati oleh kalangan tertentu saja, melainkan milik semua kalangan. Seiring perkembangan zaman, genre musik pun bermacam-macam seperti rock, reggae, pop, jaz, dan dangdut. Jenis aliran musik juga dapat menciptakan kelas-kelas masyarakat juga. Dangdut merupakan aliran musik yang dominan disukai di Bima.

Motif orang mendatangi dan menghadiri acara musik tidak hanya untuk mendapatkan hiburan semata, melainkan juga pelampiasan dalam menunjukkan keakuan diri, balas dendam, dan membuat keonaran. Terkadang jauh-jauh hari sebelum acara berlangsung, para pemuda mempersiapkan diri dan merencanakan apa saja yang mereka ingin lakukan. Minuman keras sangat lekat dengan rencana mereka. Pesta yang diniatkan berakhir dengan mendapatkan kebahagiaan malah menjadi panggung “mendapatkan” kain kafan. Perilaku yang dipertontonkan menciderai moral kemanusiaan. Jika didasari dari tindakan ini, tidak lah salah apa yang pernah disinggung oleh Darwin bahwa manusia adalah hewan yang bermasyarakat (zoon politicon), dalam artian bahwa manusia bisa melakukan seperti apa yang hewan lakukan, padahal jelas ada nilai pembedanya antara manusia dengan hewan, di mana manusia mempunyai akal untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk.

Musik Dalam Kurikulum Muatan Lokal 

Keberadaan pesta cenderung ditafsirkan sebagai sesuatu yang bersifat glamour, mewah, meriah, hura-hura, dan “liar”. Akibatnya esensi pesta dan hiburan sendiri terabaikan. Pada titik ini diperlukan kolaborasi dari berbagai elemen dalam transmisi nilai bahwa pesta dan musik merupakan instrumen sebagai pewarisan budaya, membangkitkan gairah hidup, sikap saling hormat menghormati, dan cinta kasih.

Pola pikir yang keliru terhadap pesta, sedini mungkin harus segera diluruskan. Nilai dari musik tradisional harus menjadi kembanggaan, karenanya harus diperhatikan kemunculannya dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah. Keunikan sifat dasar manusia dimanfaatkan sebagai jalan untuk mengubah prilaku manusia itu sendiri.

Dalam filsafat antropologi setiap manusia unik. Pengertian unik sebagaimana manusia yang lahir telah dikarunia potensi untuk menjadi berbeda dari manusia lainnya. Inilah potensi dimensi keindividualan yang dimiliki manusia yang harus mendapatkan perhatian khusus. Pendidikan sebagai wahana untuk membentuk karakter manusia dan mengembangkan potensi yang ada pada dirinya agar bisa menjadi kenyataan. Kepribadian yang otonom seperti ini jika tidak ditumbuhkan melalui pendidikan maka seseorang tidak memiliki pendirian serta mudah dibawa oleh massa.

Pendidikan yang berarti sebagai proses transformasi budaya diharapkan pewarisan budaya dari satu generasi kegenerasi lain yang dimuat melalui kurikulum muatan lokal agar siswa sejak dini ditanamkan rasa cinta dan bangga terhadap kebudayaan asli Indonesia. Perhatian tentang musik (tradisional) di sekolah belum mendapatkan porsi yang banyak. Diharapkan dalam hal tujuan isi pendidikan pada kurikulum muatan lokal terdapat beranekaragam pilihan tujuan isi pendidikan berupa aneka mata pelajaran sehingga dapat mengakomodir bakat dan minat siswa.

Musik Sebagai Identitas              

Musik lewat perpaduan irama dan lagu menimbulkan harmonisasi yang bisa membuat manusia lemah menjadi kuat. Musik dan lagu sesungguhnya mengalirkan pesan dan pernyataan perasaan sebagaiman lagu yang dinyanyikan oleh “virgoun” yang berjudul Surat Cinta Untuk Starla, bahkan merupakan identitas untuk melawan penindasan. Pada sisi ini, musik dan lagu daerah Bima dapat diarahkan sebagai identitas penguat generasi bukan ajang untuk mendistorsi nilai budaya itu sendiri.

Di Amerika, Afrika-music diartikan sebagai identitas. Sebagaimana ditulis oleh Douglas Kelner bahwa orang Afrika yang tinggal di Amerika menjadikan musik sebagai bentuk utama perlawanan terhadap penindasan perbudakaan. Salah satu yang menjadi genre musik mereka adalah Rap yang menyuarakan berbagai pengalaman dan kondisi kaum kulit hitam Amerika yang hidup dalam kondisi wilayah kumuh yang sarat kekerasan, dan menjadi sarana yang kuat sebagai ekspresi politik yang menyuarakan kemarahan masyarakat Afrika-Amerika, karena menghadapi penindasan yang makin meningkat dan merosotnya kesempatan untuk maju, di mana kelangsungan hidup menjadi isu penting.

Mengamati pemanfaatan musik sebagai media perubahan, bukan suatu hal yang mustahil apabila musik tradisional Bima seperti Biola dan Rawa Mbojo dijadikan sebagai alat untuk perlawanan sosial, perbaikan moral, dan transformasi nilai dan karakter unggul.Musik biola pada masyarakat bima sangat unik. Memainkannya membutuhkan imajinasi tinggi untuk menghasilkan nada yang khas. Suguhan lagunya pun sarat akan nilai lokalitas, dinyanyikan dengan pantun berbalas pantun sehingga menjadi syair-syair yang indah.

Keberadaan pesta yang mengusung berbagai aliran musik, sudah sepantasnya menjadi sumber kebahagiaan, inspirasi, dan semangat hidup. Melalui penyelenggaraan yang tertib dengan aturan-aturan yang dibuat oleh pejabat publik sepantasya musik Tidak lagi dipandang sebagai pengantar timbulnya konflik individu maupun komunal di tanah Bima. Musik harus dijadikan alat pemersatu, perekat satu sama lain sehingga terbentuk kenyamanan bersama dalam kehidupan bermasyarakat.

*Pegiat di Kambuti Komunitas Mbojo Matunti

 

 

 

 

 

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Same98

    Keberadaan musik (terutama rawa mbojo) dlm berbagai acara dan pesta2 di dana mbojo bukanlah hal yg baru ini saja terjadi tapi sudah menjadi darah daging dlm budaya dou ro dana mbojo. Kehadirannya akhir ini sangat dibatasi hanya karena sering terjadi keributan yg berakhir dgn tindakan kriminal dari oknum2 penonton. Kalu ditilik lagi keributan itu bukan karena acara musiknya itu sendiri tapi menurut hemat saya biang keributan itu bersumber dari penonton yg konsumsi Miras dan Narkoba. Oleh karena itu menurut hemat saya rasanya tdk adil bila acara Biola-gambo yang dibatasi tapi peredaran Miras dan Narkobanya seharusnya yg diberantas. Tengoklah acara semacam ini tahun 1980an ke bawah hadir dgn nuansa menghibur dan menyenangkan. Wassalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *