Rasional Liberal

Oleh: Arif Munandar. M, Pd*

Arif Munandar

Manusia bukan hanya makhluk intelektual melainkan juga makhluk yang memiliki perasaan, keinginan nafsu-nafsu dan lain sebagainya. Kebahagiaan tidak dapat disamakan dengan kesenangan. Aristoteles menolak hedonisme, akan tetapi ia mengakui bahwa kebahagiaan tidak akan sempurna jika tidak disertai kesenangan hedonis. Selain kesenangan yang sifatnya batiniah maka dalam penyempurnaan kebahagian diperlukan juga kesenangan yang sifatnya lahiriah, kesehatan, kesejahteraan ekonomi, sahabat, keluarga, penghormatan (Karl Max), dan lain sebagainya. Karena pada dasarnya manusia yang kurang dari beberapa hal akan sukar untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi perlu ditekankan kembali bahwa kesenangan dan unsur-unsur lahiriah tidak termasuk hakikat kebahagian itu sendiri melainkan hanya merupakan syarat bagaimana kebahagiaan itu dapat dicapai dan direalisasikan.

Pendidikan mengatur dimensi-dimensi wujudnya, dalam berbagai arah, sehingga memungkinkan memenuhi semua tuntutan dan kebutuhan material dan spiritual manusia. Berkembang secara pantas dengan mendasarkan pada suatu rencana yang disusun dengan tepat dan akurat. Pendidikan harus membangun suatu masyarakat yang tertib dan bebas dari konflik, kelaliman, agresi, kejahilan dan dosa (dimana manusia dapat mencapai kesucian, keluhuran aqliah, mencapai puncak-puncak tertinggi kemanusiaan), mengejar ketertinggalan disegala aspek kehidupan dan menyesuaikan dengan kemajuan global serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pemerintah Pendidikan selamanya berusaha membuat kompas penciptaan paripurna, masa depan sekedar menjadi impian tiap peserta didik (kecuali Tuhan menghendaki skenario yang berbeda) dan ini merupakan perkecualian yang mesti diberikan konsensi. Pendidikan merupakan suatu gagasan/konsep, diberikan ruang, diizinkan berbenturan, bertabrakan, mati alami atau musnah akibat kecelakaan. Demikian adanya gagasan/konsep tidak berasuransi. Temuan-temuan besar dan bersejarah tidak sepenuhnya memuaskan.

Nicolas Copernicus misalnya, memperkenalkan model tatasurya dimana matahari adalah pusat tatasurya (Sebelum itu Hypatia), dan diakui era Galileo Galilei diperjuangkan oleh Tycho Brahe, Issac Newton, Johannes Kepler, kemudian dilanjutkan oleh Giordano Bruno (Filsuf sekaligus matematikawan Italia), Bruno dianggap sesat oleh ingkuisisi (intelejen gereja) dijebloskan dipenjara dan difonis mati (dikejar-kejar sebagai bid’aah). Galileo Galilei (dicongkel matanya).

Jalur pendidikan sebagai wahana yang dilalui peserta didik untuk pengembangan potensi diri dalam suatu proses pendidikan (Formal, Non Formal, In Formal) sebagai salah satu dari sel-sel organisme masyarakat dan berusaha mengembangkan sifat-sifatnya yang lebih tinggi dan daya keingintahuan dengan berani dan sabar, akan menjadi salah satu dari orang-orang yang berjuang untuk perbaikan umat manusia. Masyarakat manusia yang telah direformasi adalah hasil dari para individu yang telah memperbaiki diri.

St. Agustinus semisal mencari jalan rohaniah, Immanuel Kant mengejar metafisika, Paulo Freire sibuk dengan manusia buta huruf, Mao Tse Tung merevolusi cina, Charles Darwin Membuat teori gila, namun pendidikan tetap diberikan arah yang jelas. Tujuan pendidikan adalah mencerdaskan kehidupan dan mengembangkan potensi manusia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa akuntabilitas kepada masyarakat manusia.

Keutamaan yang membuat seseorang tidak menonjolkan diri adalah Kerendahan hati, sekalipun situasi mengizinkan. Suka bekerja keras membuat seseorang mengatasi kecenderungan spontan untuk bermalas-malasan. Ada banyak keutamaan semacam ini. Seseorang adalah manusia yang benar jika memiliki keutamaan, karena hidup yang baik adalah hidup menurut keutamaan (virtuous life). Jika Rene memaklumatkan syahadat ‘aku berfikir maka aku ada’, maka Albert Camus mengisyaratkan ‘aku memberontak maka aku ada’. Pemberontakan metafisis adalah serangan terhadap fitrah sebagai manusia, karena fitrah itu dilawan., berarti fitrah itu ada. Ada banyak dorongan berakar pada watak manusia yang masing-masing memainkan peran penting dalam kesejahteraan dan perkembangannya, berakar dan bersumber dari dalam dirinya. Mustahil hidup tanpa tata tertib batin. Kebebasan merupakan suatu sarana efektif, tapi cara penggunaannya harus dipelajari (dari ataukah untuk).

Egoisme etis melihat dari sudut pandang kepentingan individu, sedangkan paham utilitarianisme melihat dari sudut kepentingan orang banyak (kepentingan bersama, kepentingan masyarakat). Dari situ muncul pertanyaan-pertanyaan yang fundamental, apa dan bagaimana sebenarnya pendidik itu..?, Apakah pemerintah pendidikan, lembaga pendidikan, atau masyarakat/lingkungan..? jawabannya cukup luas, mau jadi apa lulusannya, tidak ada yang bisa memastikan. Esensinya tidak ada lembaga pendidikan tirani atau lembaga pendidkan konglomerat, namun pada kenyataannya kita selalu memiliki persediaan tiran yang tak pernah habis dan stok juragan besar yang berlimpah ruah. Bahkan ide atau gagasan yang lahir prematur hampir bisa dijamin tewas ditengah jalan. Kebenaran tentang pendidikan merupakan pikiran manusia sejak sangat awal, karena kecerdasan merupakan suatu agen rekonstruktif yang tidak pernah berhenti.

*Penulis Dosen STKIP Bima

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *