Islam (di) Bima-Nusantara, Tasawuf, Cinta-Kasih

Oleh: Mawardin*

Mawardin

“Islam Nusantara” adalah sebuah ijtihad yang dikumandangkan oleh para ulama dan cendekiawan muslim terkemuka di tanah air. Dalam diskursus Islam Nusantara maupun yang lain (misalnya Islam Berkemajuan, Islam Terpadu, dan sebagainya) sejatinya punya frekuensi yang sama: Satu Islam. Aqidahnya sama. Rukun Iman, Rukun Islam pun sama. Sama pula Tuhan, kitab suci dan Nabi serta kiblatnya.

Namun, seiring dinamika ruang dan waktu, dalam proses penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia hingga zamrud khatulistiwa, maka ekspresi keberagamaan dan varian identitas religio-kultural beranekaragam sesuai pergumulan historis, interaksi sosial, artikulasi politik dan aras kebudayaan setempat.

Corak keanekaragaman yang dimaksud lebih pada mu’amalah, dan praktek kehidupan serta semesta pergaulan keseharian. Misalnya, dalam hal tata krama, tata boga, tata busana, dan tata negara. Corak religio-kultural muslim di Arab, tentu berbeda dengan muslim di Afrika, muslim di Cina, muslim di India dan muslim di Tanah Melayu atau Asia Tenggara, dan muslim di kutub dunia lain. Begitu pula secara spesifik di Indonesia tercinta. Sekali lagi, esensi keislamannya, sama.

Dalam tata keberislaman khas Nusantara, kita bisa menyebut contoh tradisionalisme Islam yang berkembang, seperti tahlilan, yasinan, manaqiban, tabarruq, ziarah kubur, upacara tujuh bulanan kehamilan, khitanan, selamatan, syukuran, adalah bentuk dari ritual peribadatan muslim beraroma nusantara. Kemudian pada saat bulan Ramadhan, terdapat tradisi lebaran, mudik, ngabuburit, imsya’, halal bi halal, dan sebagainya.

Semua itu berjalan harmoni, berkat ijtihad para Ulama yang mentransformasikan nilai-nilai Islam dalam tata hidup dan kehidupan sehari-hari. Tentu saja ulama yang otoritatif dan berkompeten, menafsir kitab suci, merenungi kesemestaan alam dan sosial, percikan hikmah ilmu laduni, kemudian dari hasil kontemplasi tersebut lahirlah ijtihad bermuatan aturanuntuk menjawab kompleksitas tantangan zaman kekinian maupun kedisinian di bawah ridho Ilahi demi kebaikan umat.

Dari situlah, lahirlah Islam Nusantara, barangkali untuk menyikapi kekerasan global terutama sengkarut konflik Timur Tengah, tragedi Yerusalem, juga suhu politik nasional akibat politisasi, kapitalisasi dan eksploitasi agama, dan kecenderungan pembacaan teks kitab suci secara literal dan skripturalis di kalangan bigot dan radikalis-ekstremis.

Kalau dilacak, bahwa konsep dan gagasan Islam Nusantara secara tradisi dan substansi, sejatinya sedari lama melekat dalam sikap keberislaman kelompok muslim yang diasosiasikan dengan Nahdlatul Ulama (NU). Namun, gema Islam Nusantara cukup terasa hentakannya tatkala organisasi yang didirikan oleh K.H. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926 itu, menggunakan tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” dalam Muktamar ke-33 pada tanggal 1-5 Agustus 2015 di Jombang, Jawa Timur.

Kini, Islam Nusantara kembali dipercakapkan di ruang-ruang diskursus, tak terhindarkan pula ketegangan di media sosial yangmengganggu kemesraan antar sesama. Banyak kalangan yang memberikan apresiasi sebagai bentuk formula pemikiran keagamaan yang berorientasi keadaban dan cinta damai, khas Nusantara. Tidak sedikit pula yang mengkritik, mengada-ada, atau “bid’ah”, katanya.

Walaupun “produk” Islam Nusantara ini identik dengan NU, sebenarnya apa yang menjadi visi, nilai dan pesan-pesan yang terkandung dalamnya adalah wacana dan gerakan bersama, terutama Ormas Islam yang mengakar di Indonesia sebagai gagasan alternatif di tengah cuaca panas perilaku keagamaan pasca Arab Spring hingga terjadi fragmentasi internal yang akut, ditambah aneka konser politik.Maksudnya, artikulasi Islam Nusantara lebih pada pengarus-utamaan Islam moderat guna membendung semarak radikalisme Islam yang bermental takfiri, dan ultra-konservatif serta gagap dalam menatap serba-serbi kebudayaan.

Kalau kita tengok, Muhammadiyah misalnya, yang memperkenalkan“Islam berkemajuan”, adalah semacam peneguhan gerakan pembaruan (tajdid) yang menjadi ciri khas dari organisasi yang didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlanpada tahun 1912 ini. Namun, seperti dikatakan oleh Din Syamsuddin, Islam memiliki watak universal. Karakter universalitas itu, harus dikuatkan, tanpa harus meninggalkan yang partikuler atau lokalitas.Artinya, Ormas Persyarikatan Muhammadiyah yang berhaluan modernis, walau menggelorakan pembaharuan dan purifikasi, tapi tidak “terlalu” membumihanguskan tradisi lokal, sepanjang itu dipandang sebagai entitas kebudayaan semata, bukan lantas diangkut sebagai ritus ibadah.

Hal senada tercermin pada Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)yang mengintegrasikanwajahkeislaman dan keindonesiaan. Organisasi kemahasiswaan tertua yang didirikan oleh Lafran Pane pada tahun 1947 iniberikhtiar bagaimana menjadi muslim sekaligus Indonesia: Islam khas Indonesia, di atas landasan nilai-nilai Pancasilasebagai titik temu (kalimatun sawa). Kalau kita membaca dan memahami Nilai-Nilai Dasar perjuangan (NDP) HMI atas prakarsa Nurcholis Madjid, sangatlah bertautan dengan konsep Islam Nusantara.

Intinya adalah, bagaimana kita menjadi muslim yang bisa bertatap jiwa dengan spirit Pancasila dan UUD 1945, berkomitmen menjaga NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Sebab eksistensi kita sebagai bangsa dan negara kerap diganggu oleh pihak-pihak yang menebar ideologi transnasional atas nama agama, terlebih cara-cara yang digunakan oleh kelompok radikal cenderung pro kekerasan manakala tidak sepaham dengan mereka.

Tengok saja, “Islam” versi ISIS, Boko Haram, Al-Qaeda, JAD dan sejenisnya yang suka berbuat kekerasan terhadap golongan di luar mereka. Jangan sampai manuver kelompok garis keras itu mendominasi wacana Islam di ruang publik global. Disinilah relevansi kehadiran Islam Nusantara yang moderat, cinta-kasih, inklusif, progresif, toleran, dan rahmatan lil ‘alamin.

Takada masalah dengan pengistilahan itu, lihatlah semataakrobatik linguistik. Islam Nusantara dapat dibaca sebagai respons intelektual yang disarikan oleh ulama khos lewatpembacaan terhadap firman kitabi (firman Allah di dalam kitab suci), firman afaqi (firman Allah yang terbentang di alam semesta berupa fenomena alam dan sosial), dan firman nafsani(firman Allah berupa sesuatu yang ditransfer ke dalam qalbu orang yang dicintai dan dikasihi-Nya, Waliyullah).

Konteks pemaknaannya sangat terbuka bagi interpretasi yang beragam, namun pada pokoknya, Islam Nusantara bisa bermakna “Islam (di) Nusantara”. Artinya Islam Nusantara merujuk pada potretgeografis dan demografis, sosio-antropologis dan positioning penduduk yang tinggal di Bumi Nusantara sebagai gugusan pulau yang kini bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dalam kaitan dengan dakwah penyebaran Islam di berbagai wilayah di Indonesia, terdapat ragam ekspresi pula sebagai hasil dari dialog kebudayaan. Misalnya, Islam di Bima, Islam di Lombok, Islam di Jawa, Islam di Makassar, Islam di Banjar, Islam di Minang, Islam di Aceh, dan sebagainya. Namun bukan untuk saling menegasikan, melainkan saling memperkaya sebagai kekayaan khazanah Islam di Nusantara.

Islam Nusantara khas Bima: Dari Kesadaran Tasawuf menuju Cinta-Kasih

Sejarawan Peter Carey (1986) menyebut Bima sebagai daerah kesultanan di Bumi Nusantarabagian Timur yang tersohor karena ketaatannya pada Islam. Muslim Bima punya watak khas yang bersahutan dengan nilai-nilai luhur nusantara. Corak keislaman-kenusantaraan MuslimBimaawal-mulalebih dominandipengaruhi oleh ajaran Sufisme.Islam bergenre sufisangat mencerahkan akal dan nurani, cenderung bercakap-cakap tentang cinta-kasih, sehingga digandrungi orang Bima masa itu, karena sangat menekankan pada isi ketimbang daging, yang batin ketimbang yang lahir.

Tangga-tangga menggapai kesadaran langit, dari syariat,tarekat, hakikat dan makrifat dalam ajaran sufi benar-benar punya daya tarik tersendiri. Lalu terbentuk kesadaran bumi untuk memantulkan cita rasa humanistik, sehingga ada perjumpaan dengan penganut agama lain sekalipun. Indahnya toleransi.

Peran Sufi dalam geliat Islamisasi di Bima tercermin pada peran Sunan Prapen dari Giri dalam penyebaran Islam di NTB. Dari Pulau Lombok, trah seorang wali songo itu melanjutkan dakwah ke Pulau Sumbawa, termasuk Bima.

Penyebar Islam yang lain seperti Datu ri Bandang dan Datuk ri Tiro di abad ke-17 juga menabur benih-benih Islam bercorak tasawuf di Bima. Para sufi ini jualah yang mengislamkan Gowa-Makasar dan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, seperti tercatat dalam Ensiklopedi Bima (Muslimin Hamzah, 2004), bahwa ada rantai spiritual Bima dengan Sulawesi Selatan karena praktek Tarekat Saman atau Khalwatiyah sangat dominan di sana.

Bahkan, beberapa bangsawan di lingkungankesultanan Bima pun menjadi pengamal tarekat. Namun dalam perkembangannya, sinergi kesultanan dengan ulama-ulama khoskurang greget lagi, begitu pula tasawuf dan sufisme diprasangkai dan diserang oleh Salafis-Wahabis. Belum lagi propaganda dinasti Saud sekutu wahabi, yang mengantagoniskan eksistensi kaum tarekat di dunia Islam. Gelombang wahabisme kemudian mulai menjebol benteng keislaman di Bima yang semula bernafas moderat jadi radikal, bahkan tragisnya kasus penembakan terhadap polisi sempat marak akibat ulah kaum irhabis, walau hanya sebagian kecil saja. Tawuran antar kampung pernah pula jadi tontonan yang memilukan, akibat absensinya tradisikeberislaman sebagai wahana aktualisasi jiwa-jiwa yang gelisah nan keras agar mereka dapat menyalurkan energinya secara produktif dan berimplikasi spiritual.

Namun nuansa sufistik di Bima sejatinya tidak mengeropos secara masif. Buktinya, eksistensi dan peran kerohanian para ulama sufi seperti KH. Muhammad Hasan yang mengembangkan tradisi ketabiban, dan tempat para jiwa-jiwa yang resah berkonsultasi, juga KH. Ramli Ahmad yang mencetak generasi-generasi Qur’anik, pondok “ngaji tua” Sehe Boe di Dompu. Belum lagi muncul generasi muslim jaman now yang mengembangkan tasawuf modern (seperti term Buya Hamka), yang disenyawakan dengan kearifan lokal Bima.

Kita berharap tasawuf Bima bisa menjadi oase di tengah kegersangan spiritual belakangan ini. Bahkan tasawuf bisa menjadi titik konvergensi lintas golongan muslim. Dan Islam Nusantara sangat ketemu dengan tasawuf. Berkebalikan dengan Wahabis-Salafis yang membenci khazanah tasawuf, tarekat dan sufisme. Pihak pemuka adat Bima nampaknya tetap bersinergi dengan ulama, misalnya untuk memperingati maulid NabiMuhammad SAW yang dikemas dalam upacara Hanta Ua Pua, Doa Dana, budaya Rimpu, Sarungan dan sebagainya. Inilah kira-kira jendela untuk menatap sesungguhnya Islam Nusantara itu.

Pesona Syekh Abdul Gani Al-Bimawi

Proyeksi pemikiran Islam Nusantara bisa dibilang sebagai kontinyuitas dari ‘roh’ Syekh Abdul Gani Al-Bimawi yang menitis pada murid, cucu murid hingga cicitnya dalam atmosfir dakwah keumatan, kebangsaan, kemanusiaan dan kemodernan. Tali-temali historisnya bisa diurai dari mata rantai jaringan ulama nusantarayang tak bisa dipisahkan dari peranan mahaguru Abdul Gani Al-Bimawi, yang memainkan peran penting dalam perkembangan pendidikan dunia Islam pada paruh abad ke-19.

Ulama besar asal Bima-NTB iniselalu didatangi oleh diaspora Nusantara ke Madrasah Haramayn, Mekkahuntuk berguru. Maka, tepatlah kalau dikatakan beliau sebagai salah satu moyang ulama Nusantara. Hal ini disebut olehZamakhsyari Dhofier, dalam buku “Tradisi Pesantren: Studi tentang Pandangan Hidup Kyai”, bahwaAbdul Gani Al-Bimawi dalam genealogi intelektual kyai-kyai besar di Jawa, adalah guru hampir semua ulama.

Melalui para muridnya, Abdul Gani Al-Bimawi mengembangkan Ahlu Sunnah Waljamaah di Jawa.Salah satu muridnya yang ngetop adalah Syekh Nawawi Al-Bantani. Dari Syekh Nawawi Al-Bantani kemudian lahir muridnya bernama Syaikhona Kholil Al-Bangkalani. Dan Syaikhona Kholil Al-Bangkalani punya murid, KH. Hasyim Asy’ary, kakek KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), sang begawan yang mempopulerkan istilah pribumisasi Islam, yang senada dengan maksud Islam Nusantara.

Betapa leluhur kita sudah mewariskan pusaka berharga. Tak perlu dipertengkarkan lagi semarak Islam Nusantara itu. Bukan saling mendikotomikan, tapi bersinergi secara relasional. Saatnya tampil sebagai promotor perdamaian, bercakap-cakap tentang cinta-kasih melintasi sekat-sekat agama, suku, golongan dan termasuk pilihan politik. Proporsionalitas dan hikmat kebijaksanaan dalam mengartikulasikan sikap keagamaan perlu dimiliki dan diinternalisasikan dalam jiwa, memutar turbin pembaharuan, tapi tetap merawat tradisi sebagai modalitas kultural. Syekh Abdul Gani Al-Bimawi beserta jajaran ulama nusantara sebagai sumber teladan dan inspirasi, lalu tasawuf sebagai rahasia hidup, output-nya adalah akhlak, menuju masyarakat yang penuh cinta-kasih.

*Penulis adalah Warga Persyarikatan Muhammadiyah, Aktivis HMI, Peneliti Pusat Studi Konflik Agama dan Budaya (PUSKAB) NTB

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *