Anak Tidak Boleh Berorganisasi?

Oleh: Muhammad Omar Qilya Al-Rizis*

Muhammad Omar Qilya Al-Rizis

Jenjang sekolah adalah tempat dimana kita mengenyam pendidikan, mulai dari sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah atas. Para pelajar akan mengenal kata ektrakurikuler dan organisasi pada saat mereka bersekolah, yang biasanya mereka akan mulai mendengar ketika beranjak masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP). Para pelajar berhak untuk menentukan pilihannya masuk suatu organisasi atau tidak.

Banyak sekali pilihan organisasi di sekolah, mulai dari PMR, PRAMUKA, TEATER, dan yang paling ngehits adalah OSIS. Banyak pelajar yang ingin masuk ke suatu organisasi dan banyak juga pelajar yang tidak ingin masuk organisasi.

Ada juga anak yang ingin masuk ke organisasi tetapi tidak bisa, karena ada beberapa alasan yang menuntutnya untuk tidak boleh masuk ke organisasi. Contohnya adalah dilarang oleh orang tua dengan alasan “Tidak ada manfaatnya kamu masuk organisasi, buang buang waktu, tenaga, pikiran mending kamu belajar matematika, fisika, kimia yang lebih bermanfaat ketimbang organisasi yang gak jelas untuk masa depan!” coletahan tersebut biasa kita dengar ketika orang tua kita melarang untuk mengikuti organisasi.

Bukan hanya orang tua tapi sering kali juga ada guru yang melarang kita untuk ikut berorganisasi dengan alasan ”Kalian gak usah ikut organisasi nanti pelajaran kalian terbengkalai dan kalau udah terbengkalai nanti nilai kalian turun dan juara kalian juga turun” atau ada juga guru yang tidak menyukai anak-anak yang berorganisasi, sehingga sering meninggalkan pelajaran hanya untuk kepentingan organisasi dan guru tersebut memberi nilai yang rendah terhadap anak anak yang mengikuti organisasi.

Banyaknya pengaruh mulai dari orangtua, guru terhadap buruknya organisasi membuat anak anak sekarang tidak mau masuk organisasi. Tidak semunya yang tidak masuk organisasi dipengaruhi oleh orangtua atau guru mereka, ada juga yang memang malas tidak mau masuk organisasi karena dasarnya tidak ada sifat sosial dalam diri mereka.

Apakah benar alasan dan argumentasi mereka terhadap organisasi berdampak buruk bagi anak anak?. Sejatinya organisasi adalah wadah yang dimana terdapat anggota dan ketua untuk mengurusi atau menyelesaikan suatu permalasahan, sehingga para anggota dituntut untuk menyelesaikan suatu masalah dengan profesionalisme, detail, dan tepat.

Di dalam organisasi juga, anak anak akan dilatih untuk memecahkan suatu masalah dan bagaimana mengambil sikap jika pendapat kita tidak diambil dalam pemecahan suatu masalah sehingga anak anak terbiasa dalam pengambilan keputusan, bersikap dewasa atau saling menghargai, juga akan terbiasa berbicara dan mengemukakan pendapat di muka umum. Sehingga tidak ada namanya rasa minder, tidak percaya diri, malu dan lain lain dalam diri seorang anak yang berorganisasi.

Anak-anak yang memiliki kegiatan di luar pendidikan formal melatih dirinya untuk inisiatif. Inilah sebab anak-anak memiliki pribadi inisiatif yang tinggi dan memiliki jiwa sosial, serta mereka akan merasa diperlukan dalam organisasi yang membuat pribadi mereka berguna.

Tuntutan dalam suatu organisasi membuat anak anak cenderung kreatif, karena kreatifitas akan muncul ketika waktu yang terdesak atau istilahnya ”the power of  kepepet”. Selain itu, anak-anak dalam organisasi belajar memimpin diri sendiri sehingga ketika mereka bergaul dengan teman-temannya, anak yang berorganisasi akan kelihatan berbeda jiwa leadershipnya dan biasanya akan menjadi patokan bagi teman-teman yang lain.

Jadi anak-anak akan memiliki pribadi yang lebih baik, jika mereka masuk organisasi dan memang pribadi seperti ini, tidak akan  langsung muncul pada saat sekarang tetapi pribadi pribadi tersebut akan tertanam dalam diri mereka dan akan muncul di kemudian hari. Biasanya pribadi-pribadi tersebut akan lebih berguna di hadapan publik, ketimbang ilmu pendidikan formal yang mereka dapatkan.

Itulah mengapa seharusnya anak anak tidak boleh dilarang dalam beroganisasi. Tetapi ingat, itu semua akan tertanam dalam diri kalian jika kalian mengikuti organisasi dengan fokus dan terlibat aktif di dalamnya.

*Ketua Forum Anak Kota Bima dan Duta Duta Anak 2017

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *