Kematian Pendidikan Keluarga

Oleh: Abdul Malik, MA, M.Pd

Opini, Kahaba.- Melihat problem sosial akhir-akhir ini, baik kekerasan horisontal maupun patholigi sosial lainya, menyentakan semua pihak bahwa simpul-simpul peradaban manusia sesungguhnya sedang dalam keadaan rapuh dan lemah. Adalah sekolah dan keluarga yang menjadi simpul harapan selama ini, konon diambang kegagalan dalam mengembangkan amanah memanusiakan manusia.

Abdul Malik, MA, M.Pd, Pemerhati Pendidikan dan Pengajar di IAIN Mataram.

Tidak henti-hentinya dua simpul pendidikan ini dipertanyakan eksistensi dan perannya ketika ranah pendidikan ini mempertontonkan kekerasan massal, tawuran antar pelajar sampai menelan korban, pergaulan bebas dikalangan siswa dengan segala konsekwensinya. Baik itu hubungan sex pra nikah, aborsi kalangan usia sekolah, penyalahgunaan obat-obat narkotika maupu minuman keras. Belum lagi persoalan yang berkaitan dengan kualitas proses, hasil dan outcome pendidikan itu sendiri yang masih jauh dari harapan.

Pendidikan informal (keluarga) dan pendidikan formal (sekolah) sejatinya sama–sama menjadi media transformasi dan penanam nilai yang ampuh bagi pembangunan manusia, akan tetapi akhir-akhir ini justru semakin memperlihatkan ketidakberdayaan dihadapan cenkraman arus globalisasi. Puncaknya dari semua ini, kedua ruang pendidikan itu, tidak lagi mampu memproduksi kebaikan dalam arti menciptakan budaya kebaikan dan kesantunan massal. Jadi, apa yang salah dalam dunia pendidikan sekarang ini? Pertanyaan ini sesungguhnya klasik walaupu akan terus menjadi pertanyaan yang selalu up to data. Karena bagaimanapun jawaban dari pertanyaan tersebut sampai saat ini belum terjawab dengan tuntas.

Satu sisi, kalau ditinjau secara kritis, tidaklah bijak jika semua pathologi sosial khusunya yang melanda usia anak sekolah dewasa ini dibebankan tangunggung jawab kepada sekolah semata. Karena bagaimanapun banyak faktor yang ikut andil dalam hal ini, termasuk di dalamnya adalah rendahnya kualitas peran pendidikan keluarga. Sementara di sisi yang lain ketika banyak keluarga mengalihkan beban pendidikan anaknya kepada sekolah secara totalitas maka pada saat yang sama pula, peran keluarga (orang tua) sebagai pendidik utama dan pertama seakan selesai di situ dan bahkan hilang sama sekali. Paradigma dan fenomena inilah sesungguhnya yang sedang melanda sebagian besar keluarga di tengah hiruk pikuk arus infomasi dewasa ini.

Sepintas memang tidak ada yang salah ketika keluarga melimpahkan otoritas dan wewenangnya kepada sekolah. Akan tetapi dibalik itu semua, secara sadar keluarga dalam hal ini orang tua telah menafikan peran sebagai pendidik utama dan pertama. Kesibukan dan ketidak pamahaman orang tua menjadi alasan utama kenapa  pendidikan keluarga mati. Padahal anak lebih banyak waktunya di rumah dari pada di sekolah, apalagi membangun karakter anak harus berawal dari rumah itu sendiri, dan kemajuan suatu bangsa pun sangat ditentukan oleh nilai-nilai yang tanamkan dan dibangun dalam sebuah keluarga. Justru orang tua (keluarga) sekarang ini berperan tidak lebih sebagai pengantar dan penjemput semata.

Keluarga Kehilangan Trust dan Respect  

Merebaknya masalah yang menimpa kalangan pelajar dewasa ini, dan konflik horisontal lainnya tentu tidak lepas dari hilangnya rasa trust dan respect pada keluarga sebagai sub sistem pendidikan pada pranata yang lebih kecil dalam suatu tatanan masyarakat. Selama kita memisahkan atau menafikan peran keluarga dan sekolah sebagai sesuatu yang integratif, kemudian jika paradigma ini tidak secepatnya dirubah maka jangan bertanya kenapa guru diangggap tidak berhasil, dan kenapa  konflik dan phatologi sosial sangat mudah terjadi. Oleh karena itu, sejatinya keluarga dan sekolah harus berjalan secara simultan dan terintegrasi secara kokoh dalam mendukung sekaligus mempelopori lahirnya transformasi pendidikan berbasis penyadaran dan kemanusiaan.

Sesungguhnya integrasi dan interkoneksi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam mengemban tugas pendidikan secara holistik, sudah sejak lama dicanangkan oleh founding father bangsa ini. Ki Hajar Dewantara misalnya sudah sejak lama menyampaikan konsep integrasi space (ruang) pendidikan ini dengan istilah trilogi pendidikan. Kemudian dari integrasi space (ruang) itu melahirkan integrasi value (nilai). Bagi Ki Hajar, pendidikan yang hanya dilakukan di sekolah sesungguhnya tidak cukup mampu untuk memanusiakan manusia atau membentuk kepribadian manusia seutuhnya. Apalagi dewasa ini, kebanyakan lembaga pendidikan termasuk sekolah kecenderungan dan orientasinya adalah kapitalistik dan merkantilisme, sehingga wajar asas dan tujuannya adalah profit bukan memanusiakan manusia. Menjadi tidak aneh kemudian, ketika banyak problem yang melanda dunia pendidikan saat sekarang.

Menyadari hal ini, maka diperlukan peran masyarakat dan keluarga sebagai space (ruang) pendidikan yang semestinya terlibat secara aktif dan unik. Kenapa aktif dan unik karena setiap keluarga sejatinya dalam mendidikan anak seharusnya tidak sambil lalu, akan tetapi dilakukan dengan serius, terarah (terkoneksi dengan sekolah) dan berkelanjutan walaupun dilakukan dalam kondisi informal. Dikatakan unik karena setiap orang tua (keluarga) memiliki cara dan teknik tersendiri dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan kebutuhan dan tujuan. Oleh karena itu, tidak harus ada keseragaman dalam pendidikan keluarga, semuanya berjalan dengan fleksibel. Keluarga sebagai unit terkecil dan terdekat dari keberadaan individu tentu memberikan andil dan pengaruh yang sangat besar baik secara langsung maupun tidak langsung.

Hubungan erat antara individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat ini dapat dilihat dari teori ekologi yang dikembangkan oleh Urie Bronfenbrenner (1917). Menurut Bronfenbrenner, dalam konteks sosial terdapat sistem lingkungan yang merentang dari interaksi interpersonal sampai pada pengaruh kultur yang lebih luas. Masih menurut Bronfenbrenner (1917) bahwa sebuah keluarga merupakan mikrosistem dari pertautan beberapa sistem lingkungan yang ada. Mikrosistem adalah setting di mana individu menghabiskan banyak waktu. Beberapa bentuk dalam sistem ini antara lain adalah keluarga, teman sebaya, sekolah, dan tetangga.

Dalam mikrosistem ini, individu berinteraksi langsung dengan orang tua, guru, teman seusia, dan orang lain. Manurut Bronfenbrenner, anak bukan penerima pengalaman secara pasif di dalam setting ini, tetapi anak adalah orang yang berinteraksi secara timbal balik dengan orang lain dan membantu mengkonstruksi setting tersebut. Kemudian interkasi dari berbagai macam mikrosistem ini membentuk satu sistem yang lebih luas, dikenal dengan mesosistem.

Sebuah mesosistem adalah kaitan antar-mikrosistem secara aktif. Misalnya terjadi hubungan antara pengalaman dalam keluarga dengan pengalaman di sekolah, antara keluarga dengan teman sebaya, dan seterusnya. Contoh lain hubungan dalam konteks mesosistem ini adalah apabila anak yang diberi kesempatan lebih banyak untuk berkomunikasi dan mengambil keputusan di rumah (keluarga), maka menunjukkan inisiatif dan nilai akademik serta sosial yang lebih baik di sekolah dan masyarakat. Dari sini jelas bahwa peran keluarga dalam pendidikan anak sangat mempengaruhi bagaimana anak tersebut berinteraksi pada level sistem yang jauh lebih luas dan komplit lagi.

Salah satu fakta yang menunjukan bahwa pendidikan keluarga itu mati adalah hilangnya trust dan respect anak kepada orang tua (keluarga). Dewasa ini kecenderungan hilanganya rescpect dan trust semakin menguat dan meluas ditengah masyarakat, baik di keluarga maupun sekolah. Padahal pendidikan yang efektif itu adalah berawal dari transformasi rasa hormat (respect) dan kepercayaan (trust) terlebih dahulu. Dampaknya kemudian transformasi nilai-nilai luhur yang dicita-citakan terhambat dan bahkan sulit terjadi. Oleh kerena itu, jangan heran ketika anak-anak kehilangan teladan sampai terjadinya lost generation.

Anak-anak sekarang yang didengar itu bukan lagi keluarga dan sekolah, akan tetapi lingkungan yang tidak hanya ada disekitarnya (mikrosistem dan mesosistem) tetapi lingkungan yang jauh lebih luas dan komplit atau makrosistem. Disinilah kemudian, keluarga tidak bisa lagi mendelegasikan semua tugas kepada sekolah tanpa memainkan perananya, tidak bisa lagi keluarga menjalankan fungsi edukasinya secara sambil lalu dan tak terukur.

Tugas keluarga sekarang ini, sesungguhnya semakin luas dan komplit sebagaimana luas dan komplitnya pengaruh lingkungan yang ada sekarang ini. Adalah Stephen R. Covey mengungkapkan bahwa tugas keluarga yang mendesak itu adalah, pertama, Modelling, orangtua merupakan model atau panutan anak-anaknya yang pertama dan utama. Orangtua memengaruhi secara kuat perkembangan bagi sang anak. Baik hal negatif maupun positif. Kedua, Mentoring, artinya kemampuan untuk menjalin atau membangun hubungan, menanamkan kasih sayang kepada orang lain. Ketiga, Organizing, keluarga juga merupakan analogi dari perusahaan kecil yang memerlukan kerjasama tim, dalam menyelesaikan segala masalah dan tugas keluarga. Kempat, Teaching, orangtua sebagai guru di lingkungan keluarga. Orangtua mengajarkan kepada anak-anaknya tentang hukum dan nilai dasar kehidupan. Dengan demikian, kalau saja keluarga dapat memainkan peranannya ini dengan sungguh-sungguh maka tugas keluarga sebagai benteng terakhir penjaga peradaban akan dapat diwujudkan. Semoga.

*Penulis adalah Pemerhati Pendidikan dan Pengajar di IAIN Mataram

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *