Persekobi Gagal ke Bali, Komitmen KONI Dipertanyakan

Kota Bima, Kahaba.- Tidak hanya pemain dan pelatih Persekobi yang kecewa dengan tidak diberangkatkannya Persekobi ke Bali (Baca. Gagal ke Bali, Pengurus Dituding tak Mampu Urus Persekobi). Sejumlah anggota DPRD Kota Bima juga mengaku kecewa. Pasalnya, nama Persekobi sudah terlanjur menjadi kiblat sepakbola di NTB.

Ilustrasi

Ilustrasi

Gagalnya Persekobi mewakili Provinsi NTB untuk mengikuti turnamen di Bali, menjadi bukti tidak mampunya KONI mengurus olahraga, termasuk sepakbola.

Anggota DPRD Kota Bima, H. Armansyah, menyayangkan sikap pengurus Persekobi dan KONI menghentikan langkah Persekobi untuk berlaga ke Bali. Menurut dia, sangat aneh jika ada persoalan anggaran di KONI, karena Ketua Umumnya merupakan Wakil Walikota Bima sekaligus Ketua Umum PSSI Kota Bima.

“Cabang olahraga sepabkbola mestinya semakin maju dan berkembang, karena didukung posisi Ketua Umum yang juga Wakil Walikota Bima,” sorotnya.

Jika bicara anggaran, kata dia, tentunya harus disiasati lebih awal. Apalagi agenda seperti di Bali, merupakan agenda tahunan, yang sudah diketahui bakal diselenggarakan. “Ini yang terjadi, Ketua Umumnya tidak bisa mengatasi dan tidak bisa berbuat apa – apa,” tegasnya.

Duta PKS itu mengaku, pada prinsipnya, sebagai legislatif siap mendukung kemajuan olahraga di Kota Bima dengan menyetujui anggaran yang maksimal. Tidak saja saat kompetisi berlangsung, tetapi juga dengan mendorong tersedianya fasilitas olahraga yang memadai. Seperti dukungan lapangan sepakbola dan sesuai harapan para atlet.

Sementara itu, anggota dewan lain, Najamudin juga menyesalkan. Padahal untuk lolos ke turnamen tingkat interzona itu, Persekobi telah bekerja keras hingga mencapai hasil maksimal.

“Kita sangat menyayangkan tidak berangkatnya Persekobi ke Bali hanya karena alasan anggaran. Mestinya KONI memiliki kepedulian yang tinggi terhadap catatan prestasi yang diraih cabang sepakbola kita,” ujarnya.

Menurut dia, pelatih, tim dan manajer Persekobi serta masyarakat pencinta sepakbola wajar saja merasakan kekecewaan karena tim kesayangannya tidak bisa berlaga pada even bergengsi itu.

Sebab, perjuangan ketingkat kompetisi interzone tidak mudah, karena Persekobi harus menyingkirkan para pesaing dari daerah lain di NTB.

“Kalau Persekobi tidak berprestasi mungkin publik tidak terlalu kecewa gagal ke Bali. Tapi mereka telah mengharumkan nama Kota Bima di NTB dan menjadi kiblat sepakbola bagi daerah lain,” ujarnya diiyakan Anggota Dewan lain, Ir. M. Nor dan Agus Wiriawan.

Najamuddin pun mempertanyakan komitmen KONI untuk memajukan dunia olahraga di Kota Bima. Sebab faktanya, dukungan terhadap sepakbola tidak ada. Persoalan anggaran mestinya tidak dijadikan kambing hitam untuk menghambat prestasi olahraga.

“Kompetisi seperti ini kan terjadwal tiap tahun sehingga mestinya bisa disiasati dong anggarannya agar para atlet tidak dikorbankan,” imbuh wakil rakyat dapil tiga ini.

*Erde

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Black

    Jangan semua aspek mesti dinilai dari Uang, masa Prestasi yang bisa mengharumkan nama Kota Bima ditingkat Nasional gagal gara2 gak ada anggaran, gila aja,, neh AIB bagi Pemkot Bima,,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *