oleh

MUI: Petasan Bukan Cara Menyambut Ramadhan

-Kabar Bima-3 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Suara petasan seolah menjadi identitas menyambut dan mengakhiri bulan Ramadhan. Di tiap sudut, acapkali petasan diapresiasi sebagai bentuk kegembiraan umat muslim merayakan hari kemenangan tersebut.

Ilustrasi
Ilustrasi

Namun, cara – cara eforia seperti itu dinilai berlebihan dan tidak sepatutnya dilakukan. Karena tentu akan menganggu kenyamanan orang lain.

“Sebagian masyarakat sudah salah menafsirkan bagaimana semestinya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan yang penuh magfirah,” ujar Sekretaris Majelis Ulama Indonesi (MUI) Kota Bima, H. Ahmad, SAg.

Menurut dia, membunyikan petasan kemudian membangunkan sahur dengan cara yang tidak santun dan lainnya, bentuk kegembiraan menyambut Ramadhan yang berlebihan. “Petasan di bulan Ramadhan merupakan bukti bahwa warga sudah salah persepsi dalam menyambut dan menjalani ibadah dibulan Ramadhan,” sorotnya.

Memang, diakuinya, Islam menganjurkan umatnya untuk menyambut Ramdhan dengan suka cita. Namun tidak diekspresikan dengan kegaduhan. “Kegembiraan mestinya diimplementasikan dalam bentuk ibadah. Bukan menganggu ketenangan orang lain,” katanya.

Mengantisipasi hal-hal semacam itu, MUI bersama Pemerintah Kota (Pemkot) Bima dan Instansi terkait sudah berkoordinasi. “MUI Kota Bima juga sudah mengeluarkan surat edaran yang berisi berbagai anjuran dan larangan dalam bulan Ramadhan ini,” tuturnya.

*DEDY

Komentar

Kabar Terbaru