Soal Kematian Pasien, dr. Irma: Golongan Darah Bisa Berubah

Kota Bima, Kahaba.- Menjawab soal meninggalnya pasien RSUD Bima H. Ahmad Hasan Warga Kelurahan Penatoi lantaran diduga kelalaian pemeriksaan darah (Baca. Petugas RSUD Bima Lalai, Pasien Meninggal), dr. Irma yang menangani pasien mengaku jika pihaknya sudah memberikan penanganan sesuai prosedur medis.

dr. Irma didampingi Direktur RSUD Bima drg. H. Iksan. Foto: Bin

dr. Irma didampingi Direktur RSUD Bima drg. H. Iksan. Foto: Bin

Kata dia, soal transfusi darah ke H. Ahmad Hasan, juga sudah melalui proses pemeriksaan sebanyak empat kali. Karena kondisi sakitnya parah dan kondisi auto imunnya kacau, maka menyebabkan perubahan golongan darah.

“Golongan darah memang bisa berubah. Seperti yang dialami H. Hasan, dari darah O, saat diperiksa berubah menjadi darah B, maka ditranfusi darah B. Tapi sebelumnya juga dilakukan pemeriksaan dan pencocokan dengan jenis darah pasien,” ujarnya dr. Irma di Ruangan Direktur RSUD Bima, Kamis (5/3).

Wanita yang didampingi oleh Direktur RSUD Bima dr. Ihsan dan sejumlah petugas Laboratorium setempat menjelaskan, darah dapat berubah karena seseorang terkena penyakit tertentu, tapi hal tersebut sangat jarang terjadi.

Golongan darah O sendiri, punya sebutan sebagi golongan darah yang serba bisa, golongan darah apapun bisa digunakan atau transfuse ke golongan darah O. Sebab golongan darah A, B maupun AB, jika tercampur bisa menghasilkan efek pembekuan darah, mengental atau rusak.

Tapi tidak demikian dengan darah O, karena golongan darah ditentukan oleh aglutinasi protein yang terdapat diatas permukaan sel darah merah, sehingga dengan demikian, apa yang memungkinkan dengan menghilangkan protesin aglutinasi tersebut, agar golongan darah A, B dan AB dapat menjadi golongan darah serba bisa seperti golongan darah O.

“Golongan darah juga bisa berubah karena penambahan atau penekanan pada antigen (substansi yang menentuka golongan darah). Hal ini bisa disebabkan oleh infeksi, penyakit autoimmune (system kekebalan tubuh yang menyerang tubuh senidir) dan kanker,” sebutnya.

Kata dia, selama Lima Tahun dirinya bertugas di RSUD Bima, sudah dua kali menemukan kasus perubahan golongan darah. Dan dua kasus tersebut juga sangat beresiko. Ditangani dan tidak pun, tetap sama memiliki resiko. Sementara untuk penyakit H. Ahmad juga demikian, dari pada beresiko dengan tidak berusaha, maka pihaknya melakukan upaya sesuai ketentuan medis.

“Semuanya memang menjadi kuasa Allah SWT, tapi kami telah berusaha melakukan sesuai petunjuk medis. Jadi, kami kira ini bukan kelalaian dari kami, tapi memang resiko penyakit yang diidap pasien,” tuturnya.

Untuk itu, dirinya juga meminta maaf kepada pihak keluarga pasien yang tertimpa musibah. “Semua orang pasti tidak nyaman dengan kondisi ini. Bukan saja dari keluarga pasien, kami juga merasa tidak nyaman,” tambahnya.

*Bin

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *