SMAN 1 Terbukti Terima Suap Saat Terima Siswa Baru

Kota Bima, Kahaba.- Penyuapan sebagai pelicin untuk memuluskan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 1 Kota Bima telah terbukti. Itu berdasarkan hasil interogasi yang tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari jajaran Dinas Dikpora Kota Bima terhadap panitia dan juga Kepala sekolah setempat. (Baca. SMAN 1 Diduga Terima Siswa Baru Dari Uang Suap)

SMAN 1 Kota Bima

SMAN 1 Kota Bima

“Benar telah terjadi penyuapan dengan dalih penyetoran uang sumbangan sekolah kepada pihak panitia. Dari orang tua siswa yang sebelumnya dinyatakan tidak lulus, lalu kemudian dinyatakan lulus pada pengumuman kedua,” ungkap Kepala Dikpora Kota Bima, H. Alwi Yasin kepada kahaba.net Senin (11/7).

Diakuinya, jumlah uang setoran sebagai pemulus untuk kembali diterima di Sekolah itu senilai Rp 3 juta persiswa. Jadi terbukti, SMA yang dulunya menjadi favorit, kini telah menjadi sekolah paling tidak jujur di Kota Bima. (Baca. SMAN 1 Wajar Dapat Predikat tidak Jujur)

“Apapun dalih yang dilakukan pihak panitia sekolah melalui permintaan sumbangan, demi meraih keuntungan materi, demi memuluskan siswa diterima kembali merupakan perbuatan memalukan dan mencoreng dunia pendidikan,” tegasnya.

Kejadian yang menimpa SMAN 1 dapat dijadikan pelajaran bagi sekolah lain, untuk tidak melakukan praktek tidak terpuji dan tidak patut dicontoh demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan dalih sumbangan pembangunan.

“Saya peringatkan kepada seluruh sekolah agar tidak melakukan pemungutan liar dalam bentuk apapun kepada wali murid dan siswa. Karena praktek tersebut sudah tidak diwajibkan lagi. Sekolah selalu digelontorkan oleh pihak pusat, melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu pelaksanaan pembangunan,” tandasnya.

Ditambahkan Alwi, karena kejadian tersebut mencoreng dan memberikan dampak buruk dalam dunia pendidikan khususnya di Kota Bima, Dikpora segera mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar Kepala Sekolah beserta panitia segara diganti.

“Saya rasa ini sudah kesalahan fatal, dan telah menjadi aib dalam dunia pendidikan,” tambahnya.

*Eric

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. arin

    sekolahku sayang, sekolahku malang. pantas daftar nama peserta yang lulus PPDB tidak di posting di website SMAN 1 Kota Bima ternyata ada kong kalikong panitia.sebaiknya informasi sekolah di posting di website sebagai informasi

  2. Pertanda gagalnya seorang pemimpin daerah adalah ketika dia tidak menindak tegas bawahan yg melakukan pelanggaran, sehingga mengakibatkan hancurnya sebuah daerah dalam masa kepemimpinannya…

  3. parewa

    apabila alat bukti sudah lebih dari cukup langsung saja di berikan sangsi dan tidak ada fitnah serta saling mengklaim seperti komentar di berita sebelumnya
    kita generasi muda tidak menginginkan pendidikan ternodai dengan hal-hal seperti ini, maju tidaknya suatu daerah tergantung SDM nya maju tidaknya SDM tergantung pendidikannya
    jadi simpulkan sendiri bagaimana kalau dunia pendidikan “RUSAK”

    • LA MANDALA

      #EDWARD : ANDA BIJAKLAH, APA ANDA TIDAK LIHAT PARAGRAF PERTAMA BERITA DIATAS. BAHWA DIKPORA SUDAH BAP DAN DIKPORA MENGATAKAN TERBUKTI. APA KURANG JELAS..???

  4. yus

    kira2 wali kota berani gk ya bawa ke ranah hukum, krna menyuap adalah bagian dari pidana, ya……kayaknya gk berani, paling dicopot dari jabatan lalu di mutasi ke sekolah lain, udh lumrah, dimana2 mungkin kaya gitu.

  5. Ibnu Rachmat

    saya rasa, sumbangan seperti ini tidaklah serta merta keluar dari walimurid jika tidak ada nominal minimal yang ditentukan oleh pihak panitia sekolah tsb. hal seperti tidak cuma di Bima, ini mungkin juga terjadi di kota lain di Indonesia. walimurid tentunya tidak menuntut kualitas selangit, kualitas utama pada pendidikan ini terletak pada si pendidik itu sendiri. tak perlu berdalih akan fasilitas selangit untuk menghimpun sejumlah dana yang justru akan memberatkan calon walimurid, karena tak semua calon walimurid yang anak-anaknya cerdas dan berprestasi memiliki keberlimpahan secara finansial. dan saya rasa gaji guru PNS bersertifikasi sudah sangat cukup memakmurkan gaya hidup bapak/ibu guru semua. dan tak perlulah berujar “kalo nggak berkenan menyumbang, silakan cari sekolah lainnya”.

    ini telah menjadi rahasia umum, di dunia pendidikan di Indonesia. stop komersialisasi pendidikan!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *