oleh

SMAN 1 Terbukti Terima Suap Saat Terima Siswa Baru

-Kabar Bima-18 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Penyuapan sebagai pelicin untuk memuluskan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di SMAN 1 Kota Bima telah terbukti. Itu berdasarkan hasil interogasi yang tertuang dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dari jajaran Dinas Dikpora Kota Bima terhadap panitia dan juga Kepala sekolah setempat. (Baca. SMAN 1 Diduga Terima Siswa Baru Dari Uang Suap)

SMAN 1 Kota Bima
SMAN 1 Kota Bima

“Benar telah terjadi penyuapan dengan dalih penyetoran uang sumbangan sekolah kepada pihak panitia. Dari orang tua siswa yang sebelumnya dinyatakan tidak lulus, lalu kemudian dinyatakan lulus pada pengumuman kedua,” ungkap Kepala Dikpora Kota Bima, H. Alwi Yasin kepada kahaba.net Senin (11/7).

Diakuinya, jumlah uang setoran sebagai pemulus untuk kembali diterima di Sekolah itu senilai Rp 3 juta persiswa. Jadi terbukti, SMA yang dulunya menjadi favorit, kini telah menjadi sekolah paling tidak jujur di Kota Bima. (Baca. SMAN 1 Wajar Dapat Predikat tidak Jujur)

“Apapun dalih yang dilakukan pihak panitia sekolah melalui permintaan sumbangan, demi meraih keuntungan materi, demi memuluskan siswa diterima kembali merupakan perbuatan memalukan dan mencoreng dunia pendidikan,” tegasnya.

Kejadian yang menimpa SMAN 1 dapat dijadikan pelajaran bagi sekolah lain, untuk tidak melakukan praktek tidak terpuji dan tidak patut dicontoh demi meraup keuntungan sebanyak-banyaknya, dengan dalih sumbangan pembangunan.

“Saya peringatkan kepada seluruh sekolah agar tidak melakukan pemungutan liar dalam bentuk apapun kepada wali murid dan siswa. Karena praktek tersebut sudah tidak diwajibkan lagi. Sekolah selalu digelontorkan oleh pihak pusat, melalui dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk membantu pelaksanaan pembangunan,” tandasnya.

Ditambahkan Alwi, karena kejadian tersebut mencoreng dan memberikan dampak buruk dalam dunia pendidikan khususnya di Kota Bima, Dikpora segera mengusulkan kepada Pemerintah Daerah agar Kepala Sekolah beserta panitia segara diganti.

“Saya rasa ini sudah kesalahan fatal, dan telah menjadi aib dalam dunia pendidikan,” tambahnya.

*Eric

Komentar

Kabar Terbaru