oleh

Akademisi Sebut Wawali Bima Belum Layak Jadi Pemimpin

-Kabar Bima-1 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Pernyataan Wakil Walikota Bima (Wawali) H. Arahman H. Abidin tentang Lurah Bodoh, saat Rakerda DPD LPM Kota Bima yang tidak dihadiri 37 Lurah dikritik oleh Akademisi STISIP Mbojo Bima, Arif Sukriman. Sebab, pernyataan tersebut tidak patut dikeluarkan saat acara resmi, apalagi oleh seorang pemimpin. (Baca. 37 Lurah tidak Nongol, Wawali: Itu Lurah Bodoh)

Dosen STISIP Mbojo Bima, Arif Sukirman. Foto: Bin
Dosen STISIP Mbojo Bima, Arif Sukirman. Foto: Bin

Menurut dia, Lurah itu panutan masyarakat ditiap lingkungan yang dipimpinnya. Memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan aspirasi warga kepada Pemerintah. Juga sekaligus menjadi corong dalam menyampaikan program dan keberhasilan Pemerintah kepada masyarakat.

“Bila kalimat 37 Lurah itu disebut bodoh dan disampaikan dalam forum resmi, itu tidak bijaksana dan tidak etis disampaikan seorang Wakil Walikota Bima. Apalagi lurah yang tidak ikut hadir tersebut, justeru tidak mendapat undangan dari panitia acara,” ujar, Jumat (22/7).

Kata dia, tugas Lurah itu sangat besar dan berat dalam mengemban amanah Pemerintah. Apalagi Lurah merupakan ujung tombak Pemerintah, bila ada persoalan yang terjadi ditengah masyarakat, sehingga kerap menjadi yang terdepan untuk menengahi dan mengatasi masalah.

“Jangan salahkan Lurah, hanya karena kesalahan kecil. Saya paham jika Wawali kecewa karena Lurah tidak hadir. Tapi kalimat bodoh itu sama halnya menampar wibawa Lurah,” sorot pria yang bergelar Master Hukum itu.

Menurut Dae Moa, pria itu biasa disapa, pemimpin harus memiliki sejumlah kriteria, sehingga layak disebut sebagai pemimpin. Kriteria itu seperti, mempunyai konsep jelas membangun daerah, peka terhadap sosial kemasyarakatan dan yang penting juga memiliki emosi yang stabil. Bila kriteria tersebut dimiliki, maka roh seorang pemimpin telah ada.

“Nah, kalimat bodoh yang dilontarkan Wawali itu merupakan ekspresi rasa kecewa dan marah. Tapi bukan berarti harus melontarkan kalimat bodoh. Jadi bila tidak bisa mengontrol  emosinya dengan baik, Wawali belum layak jadi pemimpin bagi rakyat di Kota Bima,” katanya.

Semoga kedepan, sambung pria yang akrab dengan mahasiswanya itu, Wawali harus mampu memperbaiki sikap dan kontrol emosi. Lebih bijak melihat substansi masalah terlebih dahulu. Jangan mendahulukan emosi, yang bisa merusak hubungan baik antara Kepala Daerah dan bawahan.

“Lurah itu Aparatur Sipil Negara (ASN). Benar mereka adalah bawahan Kepala Daerah, tapi jangan lupa mereka juga manusia biasa yang mempunyai hati dan perasaan,” tandasnya.

Sementara itu, Kabag Humas dan Protokol Setda Kota Bima, Ihya Ghazali yang dimintai tanggapan mengatakan, masalah itu hanya miskomunikasi. Karena berdasarkan laporan dari penyelenggara kegiatan, Lurah sudah diundang semua, tapi belum sempat dicek kembali undangan itu tiba dimasing-masing Kelurahan.

“Jadi kami melihat ini hanya miskomunikasi saja. Kalimat bodoh itu keluar, karena pak Wakil Walikota Bima juga kecewa terhadap Lurah yang tidak hadir pada acara yang penting tersebut,” tuturnya.

Soal penilaian Akademisi Wakil Walikota Bima belum layak jadi pemimpin, Ghazali mengaku pemerintah tidak bisa menghalangi pendapat seseorang, karena semua orang berhak berpendapat.

*Eric

Komentar

Kabar Terbaru