Selain Solo dan Poso, Bima Jadi Atensi Pansus DPR RI

Kota Bima, Kahaba.- Daerah Bima menjadi sasaran kunjungan Panitia Khusus (Pansus) RUU Terorisme DPR RI setelah Solo dan Poso. Tiga daerah ini dianggap tinggi paham radikal dan kerap terjadi aksi terorisme. Karenanya, melalui kunjugan diharapkan ada masukan dari masyarakat untuk perbaikan RUU Terorisme yang sedang digodok.

Mayjen Supiadin. Foto: seputarnusantara.com

Mayjen Supiadin. Foto: seputarnusantara.com

“Kita yang datang ada 4 orang dari Pansus RUU terorisme DPR RI dan kita bagi tiga tim. Tidak hanya ke Bima tetapi ada tiga lokasi. Yakni Poso, Solo dan Bima,” jelas Wakil Ketua Pansus RUU Terorisme DPR RI, Mayjen TNI (Purn) Supiadin Aries Saputra, Jum’at lalu.

Menurut Mantan Pangdam IX/Udayana ini, Bima dipilih sebagai lokasi kunjungan karena beberapa kali pernah terjadi tindakan radikal. Karena itu, pihaknya ingin tahu mengapa daerah Bima yang kecil dan jauh ini terjadi tindakan radikal.

“Kita ingin dengar penjelasan masyarakat. Kita tidak boleh, karena ada tindakan radikal kemudian kita mencap Bima sebagai sarang teroris,” tegasnya.

Jangan sampai kata dia, karena kebetulan pelaku terorisme adalah orang Islam, kemudian menyebut Islam itu teroris. Tetapi tindakan itu dilakukan pribadi dan oknum. Sebab Islam tidak pernah mengajarkan kebencian dan membunuh orang lain.

Perlunya ada perbaikan penanganan terorisme di Indonesia jelas dia, karena undang-undang yang lama dianggap lebih bersifat reaktif. Hanya bisa berlaku ketika terjadi tindakan terorisme. Padahal, pihaknya menginginkan tidak ada lagi aksi terorisme.

“Sehingga kita perlu lakukan pencegahan. Siapa yang berperan, ya masyarakat. Untuk itu, undang-undnag kita ini ke depan diharapkan lebih komprehensif,” terangnya.

Masyarakat mesti dilibatkan sambungnya, karena masyarakatlah yang sehari-hari hidup berdampingan dan tahu persis mana yang mengarah ke radikal dan tidak. Apabila hanya mengandalkan pemerintah dan Polri, Ia yakin penanganan terorisme tidak akan efektif.

Langkah persuasif harus diprioritaskan. Seperti melalui sosialisasi dan program deradikalisasi, terhadap mereka yang terkena paham radikalisme. Deradikalisasi menurutnya, bukan hanya meminta mereka untuk sadar, tetapi memberikan merkea pekerjaan tetap dan mata pencaharian tetap. Sehingga mereka sibuk mencari nafkah untuk anak dan istri mereka, kemudian meninggalkan paham radikal.

*Ady

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *