oleh

Tahun 2015, Warga Bima yang Cari Kerja Sebanyak 10 Ribu

-Kabar Bima-3 kali dibaca

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Ishaka mengakui, selama data pencari kerja yang dihimpunnya selama tahun 2015 sebanyak 10 ribu orang.

Kepala Disnakertrans Kabupaten Bima Ishaka. Foto: Noval
Kepala Disnakertrans Kabupaten Bima Ishaka. Foto: Noval

“Data ini dihimpun melalui jumlah warga Kabupaten Bima yang datang mengurus pembuatan Kartu Kuning,” ujarnya saat ditemui di Kantornya, Rabu (27/7).

Kata dia, dari jumlah itu, warga Kabupaten Bima yang datang mengurus Kartu Kuning didominasi oleh masyarakat yang tingkat Pendidikannya dari dari SMP dan SLTA. Selebihnya, dari warga Kabupaten Bima yang bergelar Diploma dan Sarjana.

Warga yang rata rata dari tingkat pendidikan SMP dan SLTA, diakuinya, lebih banyak mencari kerja menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) keluar negeri. Seperti Timur tengah dan Asia Pasifik, menjadi IRT dan bekerja dibagian kelapa sawit. Ada pula di dalam negeri, seperti di Kalimantan, untuk bekerja di Kelapa Sawit.

“Tapi ada juga beberapa orang Sarjana yang urus Kartu Kuning untuk pergi keluar negeri dan menjadi TKI,” ungkapnya.

Banyaknya minat warga Kabupaten Bima menjadi TKI, sambungnya, karena terbatasnya lowongan kerja di dalam daerah. Dengan adanya salah satu kebijakan Pemerintah Pusat Nomor 39 tahun 2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja di luar negeri, maka yang berhak merekrut TKI adalah Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta P2TKIS.

“P2TKIS sudah banyak di Bima dan telah beroperasi merekrut warga Bima untuk menjadi TKI,” katanya.

Ditanya langkah Pemda mengantisipasi masalah pengangguran di Daerah, Ishaka menjawab, Pemerintah tetap memperhatikan melali program seperti pembukaan jalan ekonomi Desa. Karena pekerjaan tersebut membutuhkan banyak tenaga kerja.

Tidak hanya itu, Pemerintah juga melaksanakan program tenaga kerja mandiri, guna memberi ruang kreatifitas untuk para pengangguran. Kemudian, program pelatihan tenaga kerja tahun 2015 lalu, melalui pelatihan diberikan alat, seperti Mesin Las, Alat Sepeda Motor dan alat Menjahit.

“Setiap tahun ada sekitar 500 orang yang diakomodir untuk menjadi peserta,” sebutnya.

Dari hasil program tersebut, tambah Ishaka, berdasarkan hasil monitoring dan evaluasi, sekitar 90 persen peserta bisa memanfaatkan bantuan alat dan keahlian yang dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.

*Bin

Komentar

Kabar Terbaru