oleh

Abuya Klarifikasi Tudingan Miring Soal Sigi Na’e

-Kabar Bima-27 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Ketua Yayasan Masjid Al Muwahidin Bima, H. Zainul Arifin angkat bicara terkait kelanjutan pembangunan Sigi Na’e (Masjid Raya) yang ramai dibahas publik selama ini. Pria yang populer dipanggil Abuya ini mengklarifikasi berbagai asumsi miring dan tudingan adanya polemik di tubuh yayasan dan panitia pembangunan masjid.

Kondisi Masjid Al Muwahiddin Bima. Foto: ngguwumbojo.blogspot.com
Kondisi Masjid Al Muwahiddin Bima. Foto: ngguwumbojo.blogspot.com

Misalnya soal wacana rekonsiliasi karena dasar asumsi bahwa antara yayasan, panitia pembangunan dan Pemerintah Kota Bima tidak harmonis. Menurut Mantan Bupati Bima ini, asumsi itu hanya fitnah belaka. Karena tidak pernah ada polemik antara ketiga pihak tersebut, sehingga tidak perlu ada wacana rekonsiliasi.

“Apa yang mau direkonsiliasi, siapa yang polemik? Itu para doktor jangan asal ngomong. Mereka itu hanya ada diperguruan tinggi bukan di jalanan,” kritik Abuya saat ditemui Kahaba.net di kediamannya, Jum’at (29/7) pagi.

Kemudian terkait anggaran pembangunan Masjid yang dituding tidak mampu dipertanggungjawabkan, dibantah keras Abuya. Diakuinya, Laporan Pertanggung Jawaban (LPJ) panitia terkait pembangunan Masjid sangat detail, bahkan lebih lengkap dari LPJ SKPD Pemerintahan.

“Tapi harus diketahui masyarakat, sesuai aturan bahwa panitia tidak punya kewajiban melaporkan penggunaan anggaran kepada pemerintah,” tegasnya.

Abuya juga menyesalkan adanya tudingan anggaran Rp 1 Miliar dari Pemerintah Kota Bima yang dianggap tidak pergunakan dengan baik. Anggaran tersebut memang sudah diterima dan sampai saat ini masih ada. Penggunaanya disesuaikan dengan perencanaan maupun kebutuhan karena panitia memiliki tim tekhnis. (Baca. Tiga Bulan Dana Cair, Masjid Al Muwahiddin Belum ada Perubahan)

H. Zainul Arifin atau yang biasa disapa Abuya saat memberikan keterangan pers. Foto: Bin
H. Zainul Arifin atau yang biasa disapa Abuya saat memberikan keterangan pers. Foto: Bin

“Harusnya tanya orang, jangan asal ngomong kenapa belum dipake. Uang itu memang sudah diserahkan, tapi kan tidak bisa dipakai begitu saja. Harus ada perencanaan. Kita itu punya tim pembangunan yang bekerja. Kalau hanya sekedar pakai, dua menit juga habis. Tapi bukan begitu,” terangnya

Menurutnya, anggaran Rp 1 Miliar itu juga tidak cukup untuk menuntaskan pembangunan. Karena kebutuhan pembangunan lebih banyak dari itu. Makanya, ketika ada pertanyaan yang muncul apa kendala pembangunan saat ini, maka jawabannya hanya soal anggaran.

“Solusinya hanya masalah uang. Kalau uang sudah cukup, pembangunan akan cepat dituntaskan,” jelasnya lagi.

Abuya juga mengingatkan kepada pihak-pihak tertentu agar tidak menjadikan Sigi Na’e sebagai komoditas politik. Kalau memang ada itikad baik untuk membantu kelanjutan pembangunan Sigi Na’e dimintanya kepada semua pihak tidak perlu berkoar-koar dan menyebarkan informasi tidak berdasar.

Terakhir, Abuya mengklarifikasi terkait wacana perombakan yayasan yang digelindingkan sejumlah pihak. Menurutnya, konyol bila ada pihak luar yang berencana merombak yayasan. Karena dalam aturan, yang berhak merombak yayasan itu hanya pembina yayasan.

“Masa akta yayasan yang disahkan oleh Menkumham mau di rombak total, belajar dari mana. Doktor apa mereka itu. Mengerti hukum apa nggak. Saya ingatkan, mereka itu jangan sampai terkontaminasi kepentingan politik seseorang,” ingatnya. (Baca. Nasib Sigi Na’e, Ini Solusi dari Para Doktor)

*Ady

Komentar

Kabar Terbaru