Guru Protes Dimutasi di Oi Fo’o

Kota Bima, Kahaba.- Dari 23 tenaga pendidik (guru) yang dirotasi dan mutasi awal bulan Juli lalu, salah satu guru Asikin, yang sebelumnya mengabdi pada SMP Muhamaddiyah Kelurahan Sarae Kota Bima, kini dimutasi di SMPN 15 Kota Bima Kelurahan Oi Fo’o, memprotes keputusan tersebut. Ia menilai ada indikasi kebencian dan ketidaksenangan atas perilaku sebelumnya.

Ilustrasi

Ilustrasi

“Saya menduga mutasi itu murni bukan karena pemenuhan jam sertifikasi, tapi karena kebencian terhadap saya,” duga Asikin kepada kahaba.net Sabtu (6/8).

Oleh karena itu, sambungnya, rekomendasi yang diberikan tim Baperjakat kepada Walikota Bima, sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan rotasi dan mutasi dinilai sewenang-wenang. Sebab, bila alasan karena kebutuhan pemenuhan jam sertifikasi, tidaklah benar.

Asikin mengungkapkan, di SMPN 15 Kota Bima terdapat enam kelas Rombongan Belajar, sedangkan untuk guru bahasa Inggris ada dua. Bila dihitung kebutuhan sertifikasi yang 24 jam, berarti satu guru menangani empat kelas. Sehingga guru bahasa Inggris di SMPN 15 seharusnya dua orang saja.

“Tapi sekarang jumlahnya bertambah satu orang, saya dimutasi disana. Sehingga jumlahnya boros,” ungkapnya.

Menilai adanya diskriminasi tersebut, ia secepatnya akan bersurat secara resmi kepada Walikota Bima, untuk meninjau kembali Surat Keputusan (SK) yang diterbitkan. Kemudian meminta kebijakan untuk dikembalikan di sekolah yang lama, atau sekolah yang sesuai kebutuhan guru Bahasa Inggris.

Sementara itu, Kepala Dikpora Kota Bima H. Alwi Yasin yang dimintai tanggapan menjelaskan, keputusan mutasi dan rotasi murni pemenuhan kebutuhan guru. Di SMPN 15 Kota Bima diperlukan guru handal dalam bidang Bahasa Inggris, agar dapat ditransformasikan kepada siswa-siswi.

“Asikin dipindah bukan karena dendam, tapi murni kebutuhan guru. Sehingga tidak ada alasan untuk menolak, bahkan asikin merupakan ASN yang telah disumpah untuk siap ditempatkan dimana saja,” jelasnya.

Alwi menjelaskan, dari 23 guru yang telah dirotasi dan mutasi, hanya Asikin saja yang protes. Tentunya ini bertolak belakang dengan guru lain yang menerima keputusan tersebut.

Asikin pun diminta untuk tidak cengeng, karena bila dilihat dari luas wilayah Kota Bima, dia hanya berjarak beberapa kilometer saja dari rumah. Sehingga tugas itu harusnya diterima, bukan mempermasalahkan dengan alasan yang tidak jelas.

Mengenai Asikin yang akan mengadukan kepada Walikota Bima, alwi menjawab itu hak setiap ASN, bila merasa puas dalam keputusan.

*Eric

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *