Upaya Internalisasi Nggusu Waru, BRC Gelar Diskusi

Kota Bima, Kahaba.- Masyarakat Bima memiliki nilai budaya dan kearifan lokal yang telah tertanam dan diwariskan para leluhur sejak dulu. Salah satunya prinsip Nggusu Waru yang harus dimiliki pemimpin kita.

Suasana kegiatan diskusi tentang Nggusu Waru di Kantin Yuank. Foto: Ady

Nilai budaya lama ini perlahan mulai luntur dalam kehidupan masyarakat Bima. Sebagai upaya untuk menginternalisasikan kembali Nggusu Waru, Bima Research Center (BRC) menggelar diskusi bertempat di Kantin Yuank Kota Bima, Jum’at (30/3) malam.

Sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang hadir dalam kegiatan ini. Diantaranya, Tokoh Bima-Jakarta Hermawan Saputra, Akademisi Ridwan, Juwaidin, Penulis Sastra Usman D Ganggang, Penggiat Budaya Bima Alan Malingi dan Penggiat Sosial Muhammad Yunus.

Doktor Hermawan Saputra dalam pemaparannya menguraikan panjang lebar 8 kriteria pemimpin yang tercermin dari Nggusu Waru. Menurutnya, Nggusu Waru merupakan sebuah nilai budaya Bima yang sangat tinggi nilainya dan merupakan serapan dari nilai Islam.

Adanya Nggusu Waru kata dia, menegaskan bahwa masyarakat Bima telah jauh lebih dulu menerapkan nilai-nilai kepemimpinan yang begitu luhur. Belakangan orang barat merumuskan kriteria kepemimpinan itu dalam sebuah teori yang nilainya sudah ada di Nggusu Waru.

Diantaranya, pemimpin harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik, peduli dan mampu membesarkan orang lain, pandai berada di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan karakteristiknya, mau belajar dan mau mengubah keadaan serta melakukan sesuatu yang benar.

“Ini pendapat orang di zaman moderen yang mendefinisikan karakter pemimpin. Tapi ternyata Bima punya nilai fundamental sejak lama yakni Nggusu Waru,” jelasnya.

Sementara 8 kriteria pemimpin dari Nggusu Waru yakni Maja Labo Dahu. Dou Ma Bae Ade. Dou Ma Disa Ro Ma Mbani. Dou Ma Ndinga Nggahi Rawi Pahu. Dou Ma Kidi di Woha Dou. Londo Dou, Ma Taho Hidi dan Ntau Ro Wara.

“Nggusu Waru harus menjadi jiwa dan kekuatan orang Bima. Ini yang menjadi tantangan yang harus kita jawab ke depan,” ujar Hermawan.

Akademisi Ridwan memaparkan terkait relevansi hukum Nggusu Waru terhadap adat Bima. Ia berpandangan, Nggusu Waru dari aspek sosiologis merupakan akulturasi budaya Islam dengan budaya Bima.

“Nggusu Waru harus berfungsi sebagai kontrol sosial. Juga sebagai sebuah nilai filosofi kehidupan yang harus menjadi tempat pembelajaran. Maka harus diinternalisasi dalam segala lini kehidupan,” terangnya.

Kemudian Doktor Juwaidin memaparkan bagaimana implementasi Nggusu Waru ke dalam dunia pendidikan. Baginya, pendidikan merupakan pintu masuk yang tepat untuk mengimplementasikan nilai Nggusu Waru.

“Peran pendidikan, bukan sekedar memberikan pemahaman Nggusu Waru pada pemimpin, tetapi menyiapkan generasi kita sejak dini menjadi generasi ideal sesuai nilai Nggusu Waru,” paparnya.

Dari aspek relevansi Nggusu Waru di era milenial, Penulis Budaya Alan Malingi menjelaskan bahwa leluhur kita sebenarnya sudah memberikan nilai implementasi dari Nggusu Waru. Salah satunya tercermin dari bangunan Lare-Lare yang terinspirasi dari konsep Nggusu Waru.

“8 nilai Nggusu Waru itu sangat lengkap. Kita hanya berharap 4 sampai 6 kriteria saja itu sudah luar biasa,” tandasnya.

*Kahaba-03

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *