Lutfi-Feri Hadirkan Perubahan dan Semangat Baru Untuk Warga Penatoi

Kota Bima, Kahaba.- Kehadiran pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bima HM Lutfi – Feri Sofiyan kesekian kalinya di Kelurahan Penatoi Jumat malam (27/4), menjadi catatan sejarah baru untuk warga setempat. Bagaimana tidak, Feri dinilai telah kembali dan mempersatukan warga yang selama ini selalu dicap dengan stigma buruk.

Darussalam saat menyampaikan edukasi politik di Lingkungan Gilipanda Kelurahan Sarae. Foto: Ady

Darussalam, warga Kelurahan Penatoi yang juga konsultan politik pasangan tersebut mengakui Jumat malam kemarin telah menjadi hari yang akan selalu dikenang, tidak saja untuk dirinya. Tapi juga semua warga Kelurahan Penatoi. Kebersamaan malam itu menjadi ekspresi kebatinan yang tidak mampu diungkapkan dengan apapun.

“Malam itu air mata tumpah, atas haru dan bahagia menyaksikan satu yang telah kembali di kampung halaman, yang hampir tak pernah ada lagi dalam kurun waktu yang begitu panjang,” ucapnya.

Selama ini menurut dia, kampung halaman dicap dengan berbagai stigma mulai dari kampung bar-bar hingga kampung “teroris”. Stigma itu begitu melekat hingga semakin hari terkesan diselimuti kecemasan dan kekhawatiran.

“Keramaian di kampung halaman ini kerap terjadi, tetapi sangat berbeda dengan Jumat malam itu.  Selain acara rutinitas kemasyarakatan seputar nikah praktis kampung halaman tak ada lagi keramaian lain, pun jika ada tidak lain seputaran pengebrekan ini dan itu,” tuturnya.

Keheningan Kelurahan Penatoi yang jauh dari hiruk pikuk keceriaan warga telah berlangsung cukup lama. Bahkan hampir pupus harapan akan kebahagiaan dan keceriaan itu bisa dihadirkan kembali. Padahal, Kelurahan Penatoi sebelumnya sebagai kampung para orang-orang kreatif.

Atas kebahagian itu, dirinya mewakili warga setempat menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kota Bima, KPU Kota Bima beserta perangkat Pilkada lainnya yang telah memberikan kesempatan kampung halamannya menememukan kembali keceriaan dan kegembiraan yang hampir pudar ditelan zaman.

Ribuan warga Penatoi tumpah ruah saat sambut Lutfi – Feri. Foto: Ray (Facebook)

Terima kasih juga ia sampaikan khusus kepada Lutfi-Feri yang telah mengabarkan pada dunia bahwa Penatoi telah berubah, Penatoi adalah kampung yang bersahabat, Penatoi kampung yang egaliter, Penatoi kampung yang ramah dan Penatoi bukan lagi seperti stigma-stigma negatif seperti yang selama ini dilabelkan.

“Terima kasih Lutfi-Feri, ini bukan saja soal pidato politikmu yang membius massa, bukan sekedar jargon perubahanmu atau sekedar soal politik Pilkada. Tetapi ini soal kembalinya ekspresi keceriaan dan kebahagiaan warga yang tumpah ruah merayakan malam penuh kebersamaan dan kebahagiaan,” ucap pria yang sering membawa papan putih jika pasangan nomor 2 itu menggelar pertemuan dengan warga.

Kata Darussalam, malam yang dihiasi oleh ribuan cahaya obor mengelilingi kampung halaman malam itu. Hal yang hampir sepuluh tahun belakang tradisi ini hilang. Seolah-olah cahaya obor di Penatoi memberikan satu spirit baru bahwa cahaya keberagaman, kebersamaan dan keceriaan serta kegembiraan itu telah mulai dan hadir kembali di Penatoi.

Lagi-lagi tegasnya, ini bukan sekedar mengulang sepenggal sejarah Pilkada 2008, yang mana pasangan NOLIQU adalah perpaduan antara putra Rontu dengan putra Penatoi seperti Lutfi-Feri yang juga perpaduan dari putra Rontu dan putra Penatoi.

Tetapi ini soal sejarah baru bahwa di Penatoi Lutfi-Feri beserta istrinya mendendangkan lagu-lagu indah, yang tidak hanya menuntaskan dahaga audiens. Tetapi ini menegaskan kembali bahwa di kampung halaman inilah para musisi dan seniman itu lahir dan belajar tentang kesenian musik.  Ratusan musisi lahir dan belajar serta besar dari Penatoi.

Feri Sofiyan saat menyampaikan pidato politik di hadapan ribuan warga Penatoi. Foto: Bin

“Ini bukan hanya sekedar soal memperebutkan kursi Walikota dan Wakil Walikota yang juga kantornya terletak di Penatoi. Tetapi ini soal ekspresi kebersamaan, keceriaan dan kebahagiaan bersama sembari diiringi dengan berbagai lagu-lagu yang mengembalikan cita rasa Penatoi, sebagai kampungnya seniman dan musisi,” paparnya.

Selama ini sambungnya, malam di kampung halaman itu begitu sunyi dan sepi. Bahkan tak jarang diselimuti ketegangan. Tak ada pesta, tak ada alunan musik, tak ada ekspresi kegembiraan dan kebahagiaan bersama. Yang ada sesekali lantunan suara ledakan senapan dalam berbagai pengrebekan ini dan itu.

Namun Jumat malam itu semua telah berubah, kesunyian dan ketegangan telah berganti dengan ekspresi kebersamaan tanpa ada konflik. Ekspresi kebahagiaan dengan gairah goyang bersama penuh dengan persaudaraan serta cahaya obor yang mengembalikan harapan baru.

“Sekali lagi terima kasih Lutfi Feri, terima kasih Umi Elly, terima kasih Kakak Jumriah, terima kasih kepada seluruh pejuang perubahan pecinta dan pendukung Lutfi-Feri yang telah menyampaikan pesan besar akan indahnya kebersamaan dan kebahagiaan bersama,” tuturnya.

Untuk itu tambahnya, dirinya berharap terus teruskanlah hadirkan semangat baru mengembalikan kebersamaan dan keceriaan warga yang hampir pupus di kota ini. Teruskanlah nyalakan semangat baru akan sebuah perubahan yang lebih baik dan lebih indah dengan ribuan cahaya obor disetiap wilayah kota ini.

“Agar kita semakin yakin bahwa perubahan telah dimulai dengan semangat baru di kota ini,” tambahnya.

*Kahaba-01

Bagikan Berita:
Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *