Pacuan Kuda, Even Tahunan Kota Bima dan Diatur Perda

Kota Bima, Kahaba.- Rencana pelaksanaan Pacuan Kuda dalam waktu dekat ini oleh Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Kota Bima mendapat tanggapan beragam dari masyarakat. Tak sedikit yang mengkritik karena dilaksanakan di tahun politik, tetapi banyak pihak juga mendukung karena tidak ada kaitannya dengan politik.

Pacuan Kuda Tradisional. Foto Travel – Kompas.com

Menurut Anggota DPRD Kota Bima Samsurih, even Pacuan Kuda tidak bisa disangkut pautkan dengan urusan politik. Adapun kekuatiran karena saat ini tahun politik baginya sangat tidak tepat menjadi alasan dan pertimbangan.

“Politik dan Pacuan Kuda itu dua hal yang berbeda. Jangan dikait-kaitkan. Kekuatiran pihak yang tidak setuju itu tidak tepat,” kata Samsurih di Kantor DPRD Kota Bima, Senin (30/4).

Pertimbangan mendasar paling penting yang harus diketahui masyarakat kata dia, Pacuan Kuda sudah masuk dalam even tahunan Kota Bima dan telah diagendakan satu tahun sebelumnya. Selain itu, alokasi anggaran untuk even bernilai budaya ini telah ditetapkan melalui Perda APBD Kota Bima 2017 pada Dinas Pariwisata.

“Jadi dasar regulasinya jelas sebagai acuan pelaksanaan. Tidak bisa hanya karena kekuatiran menjadi alasan tidak dilaksanakan Pacuan Kuda karena even ini sudah terjadwal setahun sebelumnya,” jelas Duta PAN ini.

Hal senada disampaikan Pengurus Pordasi Kota Bima Nazamuddin. Menurutnya, Pacuan Kuda dan politik tidak ada korelasinya karena anggaran even budaya ini sudah digelontorkan melalui APBD.

Kendati ada saran pelaksanaan Pacuan Kuda usai Pilkada lanjutnya, tidak bisa jadi pertimbangan karena akan terjadi diskriminasi. Mengingat ada kegiatan lain yang sudah dilaksanakan dengan sumber anggaran sama dari dana hibah.

“Sebaiknya kalau kegiatan bersumber dari dana hibah maunya dilaksanakan usai Pilkada, maka tidak boleh hanya sebagian, harus semuanya,” ujar Nazamuddin yang juga Anggota DPRD Kota Bima ini.

Kekuatiran pihak yang tidak setuju karena ini tahun politik dan ada Calon Wakil Walikota yang menjadi Ketua Pordasi Kota Bima, dinilainya sangat tidak beralasan. Karena Pacuan Kuda merupakan kegiatan yang sudah diagendakan satu tahun sebelumnya.

“Adapun keterlibatan Pak Feri Sofiyan sebagai Ketua Pordasi Kota Bima dan panitia pelaksana di dalamnya karena memang berlatar pencinta kuda. Bahkan jauh sebelum momen politik,” kata dia.

Mestinya kata Nazamuddin, semua pihak mendukung karena biasanya even Pacuan Kuda dilaksanakan di Kabupaten Bima. Namun tahun ini mampu dilaksanakan di Kota Bima. Semangat ini harusnya disambut secara menyeluruh oleh masyarakat, terutama para pencinta Pacuan Kuda.

“Pacuan kuda bukan hanya bicara budaya, tetapi efeknya juga berdampak pada ekonomi masyarakat kalau dilaksanakan di Kota Bima,” ujarnya.

*Kahaba-03

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *