oleh

Syiarkan Islam Cinta Damai, Mahasiswa KKN STIT Gelar Seminar

Kabupaten Bima, Kahaba.- Kasus tindak pidana terorisme di Indonesia belakangan ini tak hanya menimbulkan korban jiwa. Banyak pihak menstigmakan aksi terorisme sebagai bagian dari Islam. Hal ini tentu saja sangat merugikan karena Islam tidak pernah mengajarkan aksi kekerasan dan terorisme.

Syiarkan Islam Cinta Damai, Mahasiswa KKN STIT Gelar Seminar - Kabar Harian Bima
Foto bersama usai Seminar yang digelar Mahasiswa KKN STIT di Desa Campa. Foto: Ady

Sebagai upaya untuk menyiarkan kembali wajah Islam yang cinta damai, Kelompok Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) STIT Sunan Giri Bima menggelar seminar keagamaan di Desa Campa Kecamatan Madapangga, Selasa (29/5).



Seminar ini mengangkat tema Islam Cinta Damai dan Islam Bukan Teroris. Ada dua pembicara yang dihadirkan dalam seminar, yakni Ketua STIT Sunan Giri Bima Syukri Abubakar dan Ketua Majelis Dzikir GP Ansor Kabupaten Bima H Abas Abdollah.

Baca:   MTQ Tingkat Kota Bima Dimulai, 67 Peserta Ambil Bagian

“Lewat seminar ini, kita ingin mengajak masyarakat Desa Campa merefleksikan kembali kasus-kasus terorisme yang pernah terjadi sebagai upaya pencegahan dini,” jelas Ketua Posko KKN STIT Desa Campa A Fandir.

Untuk menangkal pengaruh paham-paham radikal dan kekerasan kata dia, masyarakat sebagai benteng di lingkungan masing-masing harus memperkuat benteng aqidah dan keimanan. Serta membuka wawasan terhadap paham berbahaya tersebut sehingga bisa lebih dini mengenalinya.

Baca:   Pawai Taaruf MTQ Kelurahan Lewirato Meriah

“Kita tahu Desa Campa juga pernah dihebohkan karena diketahui sebagai desa tempat tinggal istri kedua terduga teroris Santoso. Ini harus menjadi pembelajaran bersama agar masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan,” terang dia.

Namun Fandir menegaskan, stigma bahwa Islam mengajarkan kekerasan dan teror sangat tidak benar. Karena Islam yang dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah Islam rahmatan lil alamin membawa rahmat bagi seluruh alam, mengajarkan kasih sayang, cinta damai dan toleransi.

Baca:   Mahasiswa KKN STISIP Baksos di Kelurahan Kolo

Pada seminar itu, Ketua STIT Sunan Giri Bima Syukri Abubakar memaparkan tentang perspektif sejarah pergerakan penentangan dalam kepemimpinan khalifah sebagai cikal bakal gerakan teologi radikal.

Sementara Ketua Majelis Dzikir GP Ansor Kabupaten Bima H Abas abdollah mengurai tentang ambrio kemunculan paham teroris dan ajaran radikalis yang di tengarai bermula dari pemahaman tafsiq, tabdi’ dan takfir.

*Kahaba-03


Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.