LPPM STKIP Bima Produksi Garam Beryodium

Kabupaten Bima, Kahaba.- Produksi garam beryodium di tingkat petani saat ini masih sangat jarang dilakukan, termasuk di Kabupaten Bima. Padahal, garam yang dibutuhkan masyarakat harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) yaitu mengandung yodium sekitar 30-80 ppm.

Anggota kelompok petani garam “Dou Sanolo” Desa Sanolo Kecamatan Bolo saat pengemasan garam beryodium. Foto: Ist

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, tim dosen dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STKIP Bima, melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dipercaya untuk melakukan kegiatan pengabdian masyarakat di kelompok petani garam “Dou Sanolo” Desa Sanolo Kecamatan Bolo Kabupaten Bima, untuk memproduksi garam beryodium melalui inovasi Solartermal Salt House (STSH).

Program tersebut menggunakan dana hibah Kemenristekdikti tahun 2018 itu dilaksanakan oleh Ketua pelaksana Agripina Wiraningtyas dari Prodi Pendidikan Kimia, didampingi 2 anggota Ruslan dari Prodi Pendidikan Kimia dan Ahmad Sandi dari Prodi Pendidikan Ekonomi.

“PKM ini bertujuan meningkatkan produksi dan produktivitas lahan tambak garam dengan biaya murah dan berkelanjutan,” ujar Agripina Wiraningtyas, Kamis (18/10).

Bentuk pengabdian masyarakat tersebut kata dia, membantu para petani garam menggunakan metode teknik kristalisasi garam. Sehingga setelah melalui proses tersebut, akan menghasilkan garam berukuran kecil, kemudian dicuci dengan brine untuk menghilangkan pengotor, sehingga diperoleh kristal garam yang putih mengkilat.

Setelah kristal garam ini diperoleh, selanjutnya dikeringkan dalam STSH agar terlindung dari dari polusi dan partikel debu. Lalu kristal garam yang telah kering tersebut disortir menggunakan penyaring untuk mendapat ukuran kristal yang seragam, hingga pada akhirnya masuk ke tahap iodisasi dan pengemasan.

Agripina menegaskan, apabila PKM dapat bersinergi dengan pemerintah daerah dan terus intens dilakukan ke seluruh wilayah yang memiliki lahan garam. Maka pihaknya siap membantu para petani garam untuk meningkatkan produksi garam beryodium melalui inovasi STSH. Agar produksi dan produktivitas lahan tambak garam terus meningkat.

Terbukti hasil dari pengabdian melalui inovasi STSH tersebut kata Agripina, garam beryodium yang telah dikemas dengan baik dan selanjutnya dilempar ke pasaran. Hasil penjualan garam beryodium sebanyak 1 karung (50 kg) Rp 186.876, sedangkan harga penjualan garam kasar sebelumnya dengan ukuran sama hanya seharga Rp 50.000.

“Hasil dari inovasi STSH sangatlah terasa, karena keuntungan yang diperoleh petani garam saat produksi terjadi peningkatan sebesar 400 persen,” tambahnya.

*Kahaba-04

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *