Atap 3 Kelas SDN Bugis Nyaris Ambruk, Kondisinya Ancam Keselamatan Siswa

Kota Bima, Kahaba.- Suasana proses belajar siswa SDN Bugis Desa Bugis Kecamatan Sape tak bisa berjalan maksimal, terutama pada 3 kelas dari bangunan lama. Pasalnya, atap bangunan itu hanya ditopang oleh 2 tiang pada salah satu kelas. Jika salah satu tiang itu jatuh, maka atap di 3 kelas tersebut pasti ambruk.

Kepala SDN Bugis menunjukan tiang penyangga atap yang nyaris ambruk. Foto: Bin

Masih untung jika atap itu roboh di malam hari atau disaat siswa tidak sedang balajar dan berada di dalam ruangan. Bagaimana jika siswa sedang berada di dalam kelas, maka tentu akan mengancam keselamatan mereka.

Menurut Kepala SDN Bugis Ridwan, bangunan itu tinggal menunggu waktu. Kondisinya begitu menganggu dan membuat khawatir sejak tahun 2016 lalu. Dari 3 lokal ruangan, 1 ruangan yang berada di tengah tidak pernah dipakai lagi untuk belajar. 2 tiang kayu besar dipasang untuk penyangga agar atap tidak jatuh.

“Kalau 1 tiang penyangga saja jatuh, atap 3 ruangan ambruk semua,” katanya, Selasa (23/10).

Penyebab 3 ruangan belajar itu begitu karena gempa. Ditambah lagi kondisi kayu atap yang sudah lapuk. Masalah ini pun sudah disampaikan ke dinas terkait dan pernah dikunjungi. Janji dari hasil kunjungan itu akan direhab pada tahun 2019 nanti.

“Bangunan ini direhab terakhir tahun 2006, termasuk rehab atap. Semoga saja tahun depan janji rehab bisa terealisasi,” harapnya.

Karena satu ruangan kelas yang tidak bisa dipakai kata Ridwan, maka pihaknya terpaksa masih menggunakan 2 ruangan yang cukup berbahaya tersebut. Karena mau bagaimana lagi, di sekolahnya tidak ada ruangan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk belajar.

“Saking tidak adanya ruangan, perpustakaan kita manfaatkan untuk ruang belajar siswa,” ungkapnya sembari menunjuk posisi perpustakaan dimaksud.

Ia menyebutkan, jumlah keseluruhan siswanya sebanyak 281 orang. Sementara kelas yang bisa digunakan hanya 6 ruangan. Dari jumlah siswa sebanyak itu, maka idealnya membutuhkan ruang kelas sebanyak 9 unit.

“Jika dihitung dengan jumlah siswa dan jumlah rombongan belajar, ya harus 9 ruangan. Tapi yang terpakai ini hanya 6 ruangan,” sebutnya.

Karena kondisi ini, Ridwan sangat mengharapkan kepada pemerintah memperhatikan kondisi sekolahnya. Termasuk menambah kamar kecil yang masih kurang dan memperbaiki musholla untuk kepentingan kegiatan keagamaan siswa.

CO Pada Program Pro-InQluEd Sarosa Ardhi Surya saat menggelar pertemuan dengan jajaran SDN Bugis. Foto: Bin

Di tempat yang sama, Ketua Kelas 6 Abdul Munir mengaku sangat khawatir jika belajar di dalam kelasnya. Jika menengok ke atas, maka atap seolah – olah akan jatuh menimpa mereka yang sedang menimba ilmu.

Bocah itu juga berharap ruangannya bisa direhab. Agar ia bersama teman – temannya dan siswa kelas lain bisa belajar dengan nyaman. Tanpa dihantui rasa takut karena atap ambruk.

“Kalau ada rasa seperti gempa sedikit saja kami sudah lari keluar saat belajar,” tuturnya.

Sementara itu, CO Pada Program Pro-InQluEd Sarosa Ardhi Surya yang berkesempatan menyambangi sekolah itu bersama SOLUD Kabupaten Bima dan YAPPIKA-ActionAid untuk melakukan Kajian Kebijakan Pendidikan dan Pemberdayaan Komunitas Sekolah untuk Penyelesaian Persoalan di Sekolah, menjelaskan, kehadiran mereka juga untuk membentuk komunitas sekolah.

Komunitas itu terdiri dari beberapa unsur, antara lain kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua siswa, bahkan keterlibatan pihak pemerintah desa, tokoh agama dan masyarakat. Unsur tersebut diajak dalam satu komunitas sekolah, agar sama-sama mendorong keterlibatan dan memiliki rasa peduli dan memiliki terhadap dunia pendidikan.

“Program ini tidak selamanya ada, setelah program berakhir, harapan kami komunitas sekolah ini tetap berjalan. Keberadaan komunitas sekolah tetap menunjukan kepeduliannya terhadap pendidikan,” jelasnya.

Saat lounching program ini ungkap Sarosa, pihaknya sudah berkoordinasi dengan dinas terkait, menyampaikan ada 10 sekolah yang sekiranya diberikan perhatian. Sebab, 10 SDN menjadi sample, dari 400 sekian sekolah yang ada di Kabupaten Bima.

Sementara SDN Bugis dipilih untuk menjadi perhatian program tersebut, salah satunya jumlah ruangan belajar dan jumlah siswa tidak sesuai dan kondisi bangunannya yang sudah mulai ambruk.

“Terhadap kondisi ini, tentu akan kami dorong sehingga lahir kebijakan pemerintah agar bisa memberikan perhatian. Karena target akhir program ini terwujud pendidikan yang berkualitas dan bisa dirasakan oleh semua anak anak,” terangnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *