Talkshow Media Damai, Bangun Jiwa Kritis Remaja Menggunakan Medsos

Kota Bima, Kahaba.- Penggunaan media sosial saat ini menjadi kebutuhan penting, yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Hanya saja, interaksinya perlu disaring dan diverifikasi. Agar bisa bermanfaat, tidak saja bagi diri sendiri, tapi juga orang lain.

Talkshow Media Damai yang digelar Wahid Foundation. Foto: Bin

Merasa perlu membangun kritisisme pengunaan media sosial bagi remaja, Wahid Foundation menggelar Talkshow Media Damai di Paruga Nae Convention Hall, kemarin. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah pelajar di Kota Bima.

Perwakilan Wahid Foundation Hafizen menjelaskan, talkshow ini bertujuan membangun kritisisme dalam penggunaan media sosial bagi remaja. Karena salah satu hal yang dibutuhkan saat ini adalah critical thinking, kritis dalam berfikir, kritis berselancar di medsos, baik sebagai penerima informasi, maupun yang menyebarkan.

“Media sosial itu variabel yang sangat mempengaruhi dan signifikan bagi cara berpikir remaja,” katanya.

Ia memberi contoh, jika saja seseorang bicara Islam, atau kekerasan atas nama agama, salah satu infromasi yang dikonsumsi oleh orang itu sebelum melakukan tindakannya yakni dari media sosial. Tiba – tiba menjadi pelaku kekerasan tanpa idiolog, tanpa guru secara langsung, hanya modal berselancar di media sosial sja. Lalu orang itu merasa sudah menemukan kebenaran.

Mengantisipasi itu, maka dari kegiatan tersebut pihaknya ingin memiliki pasukan damai di dunia internet. Mereka membordir sosial media dengan konten-konten yang mengarahkan masyarakat untuk tetap menjaga harmoni, menjaga toleransi, tidak saling membenci.

Karena jika tidak disiapkan dari sekarang, ia berpikir kedepan generasi akan menghadapi banyak ujaran kebencian, hasutan – hasutan berdasarkan pada identitas tertentu.

“Jadi kita ingin anak – anak ini bisa punya sikap kritis, tidak menelan mentah – mentah informasi yang diterima. Sebagaimana tadi yang disampaikan peserta, mensaring sebelum share, verifikasi kebenarannya, cari tahu infornya,” inginnya.

lebih dari itu sambung Hafizen, yang paling penting juga untuk dilakukan yakni melihat apakah informasi yang ingin di share tersebut dibutuhkan oleh masyarakat atau tidak, berdampak positif atau negatif.

Dia menambahkan, media sosial itu instrumen. Akan menjadi berbahaya apabila digunakan untuk sesuatu yang desdruktif, sesuatu yang salah dan merusak. Demikian juga sebaliknya. Saat ini saja. Interaksi di media sosial jelang pemilu, terlihat saling menghina dan ujaran kebencian. Jika ini terus dibiarkan, maka akan berbahaya.

“Maka dari kegiatan ini, kita berharap peserta yang hadir bisa kritis dan membagikan konten – konten posistif, mampu membentengi diri dari bahayanya arus informasi dari media sosial,” harapnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *