Kehidupan Ama Sao Menyayat Hati, Kakek di Jatibaru ini Tinggal di Gubuk Reot

Kota Bima, Kahaba.- Kisah hidup kakek Yusuf Rume (80) di Kelurahan Jatibaru mengundang pilu. Pria yang tinggal di RT 15 RW 05 itu harus menghabiskan usia senjanya di gubuk tua yang sudah sangat tidak layak ditempati.

Ama Sao saat duduk di gubuk reotnya. Foto: Hardi

Saat dikunjungi media ini Jum’at pagi (8/3), kondisi Ama Sao, sapaan akrabnya, begitu menyayat hati. Kondisi kakinya yang cacat ditambah penglihatan yang sudah terganggu, membuat dia hanya berdiam diri di dalam gubuk yang sudha penuh lubang tersebut.

Ama Sao hidup sebatang kara, istrinya sudah lama meninggal. Dari istrinya tersebut, Ama Sao tak diberi rezeki untuk memiliki penerus hidup. Melihat kondisi rumah Ama Sao, begitu menyayat hati.

Saat dikunjungi oleh awak media Jum,at (8/3), seorang keluarga Siti Si’ah (40) mengatakan, rumah yang berukuran kecil itu sudah dihuni Ama sao berpuluh-puluh tahun lamanya. Namun hingga detik ini, belum ada sedikitpun bantuan yang telah diterima dari pemerintah.

“Beliau hanya tinggal seorang diri, kondisi seperti ini sudah lama,” ujar Siti.

Ia mengaku, Karena tidak memiliki anak, Ama Sao hanya tinggal seorang diri di gubuk tua beralaskan sehelai tikar dan berdindingkan bambu lapuk dan berlubang. Setiap hari, Ama Sao hanya menunggu uluran dari tetangga.

“Ketika waktu makan, saya akan datang antarkan makanan dan minuman untuknya. Selain itu, dari tetangga juga beberapa kali sering membawakan makanan,” ungkapnya.

Kata dia, Ama Sao sejak lama membutuhkan bantuan dan uluran tangan dari Pemerintah Kota Bima, untuk memperbaiki tempat tinggal dan kebutuhan lain. Agar hidup yang tersisa ini bisa dilanjutkan.

*Kahaba-07

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Muhammad mar'in

    Terima kasih banayak kahaba.net telah mendengar tangisan kemelaratan masyarakat. memang harus berita seperti ini yg mesti di publikasikan…

    Good job…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *