Bantah Tudingan Arogan, Kepala SDN 10: Saya Yang Dicaci Maki Guru Honor Itu

Kota Bima, Kahaba.- Kepala SDN 10 Kota Bima Surya Dwi Wahyuni membantah tudingan arogan dan cerita yang disampaikan guru honorer setempat Eka Marlisa Prihastuty (Lis). Justru, Dwi mengaku saat peristiwa itu, dirinya dicaci maki oleh guru tersebut. (Baca. Guru Diusir Saat Mengajar, Kepala SDN 10 Dituding Arogan)

Kepala SDN 10 Kota Bima Surya Dwi Wahyuni. Foto: Bin

Kepada media ini, Dwi memberikan klarifikasi tentang kejadian tersebut. Ia mengungkapkan, pada hari Senin tanggal 18 Maret 2019, usai upacara pagi dirinya mengontrol semua sudut sekolah sampai ruangan kelas. Mulai dari kelas I sampai kelas VI. Lalu saat tiba di kelas VI lantai atas, tidak ada guru yang mengajar. Kemudian, dirinya memerintahkan kepada guru PNS Nurmah, untuk mengisi ruangan kelas VI a.

“Saya tunggu di atas kelas itu dan saya tidak bergeser dari kelas VI a, didampingi oleh wali kelas VI b. Pada saat berdiri di atas lantai 2 di depan kelas. Saya lalu melihat Lis masuk dari pintu gerbang tepat pukul 08.45 Wita,” katanya, Selasa (19/3).

Akhirnya, Nurmah yang baru lulus PNS diminta untuk masuk ke kelas VI a. Sesaat masuk, kemudian keluar dengan muka sedih dan seperti menahan emosi. Ia bertanya, kenapa takut dengan anak kelas VI. Karena setahunya, kelas itu belum ada guru.

“Nurmah saat saya tanya, menjawab takut. Lalu saya antar Nurmah ke kelas. Rupanya Lis sudah duduk manis dan buka buku. Lis menatap saya dengan tatapan tajam. Setelah itu dia tunjuk saya dan bilang ‘Heh kepala sekolah keluar kamu’. Kalimat caci maki pakai Bahasa Bima juga dilayangkan ke saya. Saat itu ada yang melihat, termasuk Nurmah,” ungkapnya.

Merasa dicaci maki oleh Lis, Dwi kemudian bertanya kenapa melontarkan caci maki kepadanya. Apa yang dilakukannya sehingga harus dicaci maki olehg guru honor tersebut. Karena mengindari suasana yang tidak pantas ditunjukan ke siswa, ia memilih untuk tetap menahan sabar.

Pada waktu itu sambungnya, Lis mengaku diperintahkan untuk mengajar di kelas ini. Kemudian Dwi menimpali, jika sudah ada guru PNS Nurmah, yang sudah ia suruh mengajar di kelas VI a.

“Saya suruh Nurmah duduk di kelas itu. Terserah mau duduk berdua atau bertiga, yang terpenting kelas VI aman terkendali karena kelas siswanya mau ujian nasional,” ucapnya.

Setelah ditunjuk – tunjuk oleh Lis dan memastikan suasana tetap baik, dirinya keluar kelas VI a dan menuju ruangan TU. Meminta kepada semua guru honorer yang tercatat di sekolah ini, untuk hadir tepat waktu.

Dwi pun berani bersumpah jika semua yang disampaikan Lis itu tidak benar. Ia tidak tidak pernah mengusir Lis dari kelas saat mengajar. Apalagi mencaci makinya.

“Demi Allah SWT, saya disumpah pakai Al Quran untuk menjadi kepala sekolah. Saya terus menjaga kesabaran saya dan tidak ingin terprovokasi,” tuturnya.

Mengenai Lis mengajar karena diminta oleh Nurmaidah, ia mengaku tidak tahu. Mestinya, sebagai kepala sekolah Nurmaidah memberitahunya, jika selama mengikuti Diklat Cakep sudah meminta tolong kepada Lis untuk membantunya mengajar di Kelas VI a.

Kemudian soal nama Lis yang dicoret dari tenaga Honorer K2, Dwi juga membantah jika dirinya yang mencoret.

“Itu aturan yang mencoret, karena tentu tidak memenuhi syarat untuk menjadi Honorer K2,” tegasnya.

Dwi menambahkan, dirinya menjadi Kepala SDN 10 sejak tahun 2017. Namun selama dirinya berada di sekolah itu, tidak begitu mengenal Lis.

“Saya tidak begitu kenal, setahu saya Lis tidak pernah masuk mengajar,” tandasnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. esa nurmansyah

    Kepsek bilang ibu lis yang caci maki,, ibu lis bilang kepsek yang caci maki, tapi jika saya pakai logika saya,,, semarah marahx saya sama kepsek pasti saya tunduk dan diam,, apalagi depan siswa,.

    Satu satux harus siswa yang jadi saksi , pilih siswa yang paling nakal karna jika pilih siswa yang pintar pasti dia bela org2 di sekola jadi tabyalah siswa itu satu persatu tapi bukan di sekola melainkan saat dia pulang keluar dari sekolah itu.. Bila perlu jangan tabya tapi suruh cerita kronologix itu baru kita tau pangkal dari cerita tersebut siapa yang benar dan siapa yang salah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *