oleh

Al Kaida Idap Hidrosefalus, Merintih di Ranjang IGD RSUD Bima

-Kabar Bima-0 kali dibaca

Kota Bima, Kahaba.- Badan Al Kaida panas, kepala yang sudah membesar digeser ke kiri dan kanan, beri isyarat jika sakit yang tak terkira. Orang tuanya nampak tegar temani, membasuh bulir-bulir air mata anak keduanya yang sesekali jatuh membasahi pipi.

Al Kaida saat dirawat di IGD RSUD Bima. Foto: Bin

Muhammad Al Kaida, buah cinta Hermansyah dan Emi hari ini, Minggu (31/3) harus dirawat kembali di IGD RSUD Bima. Beberapa bulan yang lalu pernah dirawat, karena panas tinggi dan kejang – kejang. Hari ini pun badannya merasakan yang sama. Hanya saja, anaknya terus merasakan sakit di bagian kepala.

Emi saat ditemui media ini di ruangan IGD RSUD Bima menceritakan, anaknya yang sudah berusia 3 tahun itu lahir normal dengan berat 3,3 kg. Sekitar usia 4 bulan badannya subur dan gemuk. Kepalanya juga ikut membesar.

“Karena khawatir melihat perkembangan badan dan kepalanya yang tak biasa. Kami membawanya ke RS Sondosia,” cerita perempuan asal Desa Bontokape itu.

Saat dirawat di rumah sakit tersebut kata Emi, hasil diagnosa dokter mengungkapkan jika Al Kaida mengidap Hidrosefalus. Kemudian disarankan untuk ke RS Sanglah Bali untuk dioperasi.

Tak pikir panjang, dengan keterbatasan dan dibantu oleh berbagai pihak. Al Kaida kemudian dirujuk ke Bali dan dioperasi. Hanya saja, menurut pengakuan dokter setempat, kepalanya sudah mengeras dan tidak bisa mengecil.

“Setelah operasi kami kembali ke Bima. Al Kaida menjalani hari – hari layaknya anak kecil pada umumnya. Namun beberapa bulan yang lalu, badannya diserang panas dan kejang – kejang,” ungkapnya.

Al Kaida saat dirawat di IGD RSUD Bima. Foto: Bin

Pulang dari Bali kata Emi, sudah 2 kali anaknya tersebut keluar masuk rumah sakit. Namun kali ini, dokter RSUD Bima menyarankan agar Al Kaida dirujuk kembali ke RS Sanglah Bali agar mendapatkan peratawan yang lebih memadai.

Mendengar itu, Emi merasa belum sanggup karena kendala biaya. Sebab, suaminya hanya buruh tani yang menggantungkan hidup dari membantu para petani lain.

“Biaya operasi memang tidak ada, tapi biaya hidup selama di sana, dan biaya obat yang harus dibeli di luar RS Sanglah Bali yang menjadi beban pikiran,” katanya.

Selama ini, Emi mengakui memang dari pemerintah desa tidak ada yang membantu. Tapi oleh istri Kepala Desa Bontokape, pernah membantunya dulu dari hasil urungan warga setempat.

Untuk keinginan membawa kembali buah hatinya ke RS Sanglah Bali, Emi pun menaruh harapan besar kepada pemerintah daerah. Semoga saja, ada jalan untuk bisa meringankan beban yang diderita oleh Al Kaida.

*Kahaba-01

Komentar

Kabar Terbaru