Film Layar Lebar Pertama di Bima, Pemerintah Justru Belum Merespon

Kota Bima, Kahaba.- Film La One Cinta Untuk Ina tentu saja bukan karya biasa. Semua pihak yang terlibat di dalamnya merupakan putra dan putri daerah Bima, yang sejak lama larut dengan kegelisahan, lalu dipertemukan dengan energi yang sama untuk mempersembahkan karya terbaik bagi tanah kelahiran. (Baca. Film La One Cinta Untuk Ina, Pertarungan Intrik, Propaganda dan Kejujuran)

Foto Foto Film La One Cinta Untuk Ina. Foto: Facebook La One

Film layar lebar yang akan diputar secara nasional itu tentu saja akan menjadi karya yang luar biasa. Mengisahkan tentang joki cilik, beradu nasib dan keberanian, di tengah intrik, propaganda, hasrat ingin menang dengan melakukan segala cara, dengan segenap warna – warni perbuatan manusia di dalamnya. (Baca. Cuaca Panas, Kendala Utama Proses Syuting Film La One Cinta Untuk Ina)

Dinamika itu pun akan dikemas dengan apik oleh para generasi yang bergelut dengan dunia entertaint Bima. Menyentuh dan mengangkat bagian – bagian yang perlu dipertontonkan pada dunia. Pada akhirnya terbesit harapan, paling tidak ada nilai – nilai kebaikan yang digores dalam layar lebar, dan merubah cara pandang seseorang yang menontonnya.

Dari film ini pun, suka tidak suka, mau tidak mau, daerah juga akan dipromosikan. Keindahan alamnya, budaya, olahraga pacuan kuda dan interaksi sosialnya. Bima pada tahun 1990-an akan disaksikan jutaan mata. Tentu saja dampaknya akan dikenal lebih luas.

Proses syuting Film La One Cinta Untuk Ina pun sudah hampir separuh jalan. Semua kru bekerja mulai pagi, dan mengakhiri semuanya pada malam hari. Target beberapa hari ke depan, jadwal menyelesaikan dari waktu yang ditentukan, tetap menjadi nomor wahid dari hantaman terik yang membakar kulit.

Namun siapa mengira, niat ikhlas para seniman asli Bima itu pun rupanya belum mendapat dukungan penuh dari tuan rumah. Pemimpin di 2 daerah, Kota Bima maupun Kabupaten Bima belum juga merespon untuk melirik dan membantu merampungkan project tersebut, kendati itu sudah disampaikan.

Menurut sutradara Film La One Cinta Untuk Ina Awaluddin Tahir, Film ini layar lebar, bukan film pendek untuk youtube atau sebagainya. Tapi film layar lebar untuk nasional dengan mengangkat tentang Bima. Jadi, suka dan tidak suka Bima akan terpromosikan.

Hanya saja, hingga sejauh ini project itu dikerjakan, respon dari Bupati dan Walikota Bima tak kunjung hadir. Meski, kepada Bupati Bima mereka sudah sowan, tapi belum ada respon.

“Walikota Bima juga sudah berusaha kita temui, tapi tidak berhasil. Tentu juga belum ada respon,” ungkapnya, Senin (9/9) saat ditemui media ini di lokasi syuting.

Awaluddin menuturkan, terus terang jika pendanaan ini menggunakan dana pribadi, bukan juga dari PH Komersil. Murni niatnya tulus ingin mengabarkan Bima kepada dunia.

“Ya mbok sebagai tuan rumah, yang punya Bima ini, harus support finansialnya lah. Kita bicara jujur saja,” katanya.

Di tempat yang sama, Anggota DPRD Kota Bima Anwar Arman yang berkesempatan mengunjungi lokasi syuting juga menyampaikan hal yang serupa. Ini merupakan karya anak Bima, yang produksi dan yang memerankan adalah anak-anak Bima.

“Masa karya – karya yang lain diperhatikan, sementara karya luar biasa untuk mengangkat Bima ini tidak diperhatikan. Jadi tentu saja peran pemerintah ini sangat diharapkan,” ujarnya.

Menurut Anwar, ini bukan film komersial murni. Hanya karena keinginan yang sama dari hati anak-anak Bima untuk memberikan karya terbaik untuk daerah.

“Ini karya besar, dan tidak pernah Bima membuat film layar lebar pertama yang dibuat oleh anak Bima,” terangnya.

Sebagai pemerintah juga sambungnya, tentu ia akan berusaha membantu, apalagi orang – orang yang terlibat di dalamnya, orang – orang yang ia cukup kenal. Dalam waktu dekat, akan kembali sowan ke tuan rumah, dan menyampaikan yang sebenarnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *