oleh

Kemenag Bima Dialog dengan Tokoh Lintas Agama, Bahas Merawat Persatuan Umat

-Kabar Bima-2 kali dibaca

Kabupaten Bima, Kahaba.- Menyikapi persoalan yang terjadi di Wamena Papua, agar tidak meluas di sejumlah daerah termasuk di Bima, Kemenag Kabupaten Bima menggelar kegiatan Dialog Tokoh Lintas Agama dengan berbagai kalangan masyarakat dan profesi Kabupaten Bima Tahun 2019, di kantor setempat, Selasa pagi (1/10).

Dialog Merawat Kerukunan Umat yang digelar Kemenag Kabupaten Bima. Foto: Bin

Kegiatan dengan mengangkat tema “Merawat Persatuan Umat Dalam Bingkai NKRI” itu dihadiri Ketua FKUB, Perwakilan TNI Polri, Kepala Kesbangpol Kabupaten Bima dan sejumlah tokoh agama serta tokoh masyarakat Kabupaten Bima.

Kepala Kemenag Kabupaten Bima H Syahrir menyampaikan, kerukunan umat beragama di Bima dan NTB telah berjalan sesuai dengan harapan dan keinginan bersama. Saling menghargai, memberikan kebebasan untuk orang lain menjalankan ibadah, menerima dan menghargai perbedaan yang ada juga sudah berjalan dengan sangat baik.

Kendati demikian, tetap masih banyak tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut tentunya tidak cukup dilakukan oleh pemerintah, tetapi harus melibatkan semua komponen anak bangsa.

“Tantangan dimaksud seperti kehidupan beragama masih sangat rentan dengan konflik. Seperti konflik sosial yang masih terjadi dan merembet ke urusan agama,” ungkapnya.

Seperti yang terjadi di Wamena, menurut Syahrir peristiwa itu tidak dilatarbelakangi oleh masalah etnis dan agama. Tapi dengan perkembangan media sosial, lalu digiring ke urusan etnis dan agama. Untuk itu, dari pertemuan semoga bisa disikapi bersama.

“Kita di Bima, jangan sampai persoalan itu juga terjadi. Pertemuan ini kita mendiskusikan masalah yang terjadi di Wamena, guna mengantisipasi agar tidak meluas di daerah,” katanya.

Syahrir juga mengungkapkan, tantangan yang masih harus dihadapi juga yakni tetap adanya kelompok yang terindikasi radikal, yang pemahaman dan idielogi menjurus ke terorisme. Ini pun harus diantisipasi bersama agar tidak terjadi di Bima.

Dari sejumlah tantangan itu, beberapa solusi yang harus dilakukan yakni penguatan pemahaman agama, kemudian memposisikan diri untuk mengadvokasi dan pembelaan, bukan justru memprovokasi. Lalu, menempatkan diri sebagai sentral komunikasi umat, dan bisa memberikan informasi yang benar untuk masyarakat.

“Saya kira jika 4 hal ini bisa dilakukan, maka NKRI akan tetap berjalan sesuai harapan,” ujarnya.

Selain itu sambung Syahrir, yang perlu dilakukan juga yakni peningkatan harmoni sosial. Beberapa konflik sosial saat ini, disebabkan ketidakmampuan untuk membangun harmonisasi sosial. Maka dari pertemuan ini, perlu disusun langkah-langkah strategis untuk dirumuskan, dalam rangka meningkatkan kerukunan umat beragama.

Kepala Kesbangpol Kabupaten Bima Edy Taruna Jaya mengutarakan harapannya agar semua elemen bisa menyikapi persoalan ini dengan bijak, agar tidak berimbas di daerah. Tentu dialog seperti ini harus dilakukan.

Terkait warga Bima di Wamena, Edy mengakui pemerintah telah membangun koordinasi dan komunikasi dengan intelejen TNI Polri di daerah. Guna mencari tahu kemudian berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTB, untuk berkomunikasi dengan Provinsi Jayapura.

“Dari hasil koordinasi tersebut, sudah banyak warga Bima yang dievakuasi. Warga Bima juga tetap dalam perhatian Pemerintah,” ungkapnya.

Ketua MUI Kabupaten Bima H Abdurrahman Haris menjelaskan, solusi yang menurutnya bisa menjadi formula dalam menyelesaikan semua persoalan hidup ini yakni kedisiplinan dalam menjalankan ajaran agama. Jika tidak berbohong, maka kehidupan akan damai.

“Makanya, jujurlah terhadap ajaran agama, hilangkan segala bentuk kebohongan,” imbaunya.

Yang kedua menurutnya, semua harus patuh menjalankan aturan yang diatur dalam kesatuan NKRI. Kemudian dilanjutkan dengan penegakan hukum oleh aparat selaku perangkat negara yang dilaksanakan dengan baik, maka kehidupan dengan kerukunan dan keberagaman ini akan berjaka damai.

“Selama ini saya melihat, masyarakat Bima punya jiwa toleransi yang sangat besar, dan semua mengakui itu. Warga yang berbeda agama, tetap bisa menjalankan ibadahnya dengan aman dan damai,” terangnya.

Dari pertemuan ini, Abdurrahman Haris berharap semoga yang dipaparkannya di atas bisa dijalankan dengan baik. Agar kerukunan ini bisa berjalan baik, dan kejadian di Wamena tidak merembes ke sejumlah daerah lain. Termasuk di Bima.

*Kahaba-01

Komentar

Kabar Terbaru