Pakai Rimpu Sehari dalam Sepekan, Dispar Akan Dorong Dibuatkan Perwali

Kota Bima, Kahaba.- Kesuksesan Pawai Rimpu karena mencetak rekor baru tidak hanya berhenti disitu. Rencananya, Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Bima akan mendorong pemerintah agar dibuatkan Peraturan Walikota (Perwali), untuk pemakaian rimpu sehari dalam sepekan. (Baca. Pecahkan Rekor Dunia, Pawai Rimpu 20.165 Warga Kota Bima Dapat Piagam MURI)

Plt Kepala Dispar Kota Bima Sunarti. Foto: Bin

Plt Kepala Dispar Kota Bima Sunarti menjelaskan, dari hasil kegiatan yang telah memecahkan rekor MURI itu lebih banyak menilai positif, daripada negatif. Karena memang, pemerintah memiliki komitmen yang kuat untuk menggali kembali budaya-budaya sudah yang terkikis perkembangan zaman. (Baca. Jangan Hanya Kejar Rekor MURI, Rimpu Harus Jadi Identitas Kearifan Lokal)

“Pro kontra terhadap suatu kegiatan wajar, itu dinamika. Itu tetap akan jadi bahan evaluasi kami sebagai penyelenggara,” katanya, saat ditemui media ini di ruangannya, Senin (14/10).

Menuerut dia, budaya Rimpu merupakan budaya Bima yang identik dengan wanita yang menutup aurat, dan itu sudah dilakukan sejak zaman dahulu. Hanya saja saat ini perlu dihidupkan lagi, dengan cara mendorong pemerintah untuk membuatkan peraturan.

“Kami memang punya ide itu, dan akan saya naikan telaahan staf kepada Walikota Bima untuk dibuatkan Perwali. Jadi di dalam satu pekan, baik bagi pegawai, pihak swasta, sekolah maupun masyarakat luas, ada 1 hari di mana aktivitas itu dalam balutan rimpu. Mungkin bisa pada hari jumat atau hari yang tentukan,” inginnya.

Bila perlu kata dia, pemerintah memulai terlebih dahulu, melalui dari dinas yang dipimpinnya. Untuk memberi contoh dan mengajak untuk bisa melakukan hal yang sama. Karena Rimpu ini juga nyaman untuk dikenakan.

“Tembe Nggoli untuk Rimpu itu tidak panas. Kalau sarung lain mungkin tidak tahan dengan cuaca panas ini. Tapi Tembe Nggoli ini, akan sejuk disaat panas, dan hangat disaat dingin,” ungkapnya.

Sunarti pun merasa sangat yakin, keinginannya untuk menerapkan busana Rimpu sehari dalam sepekan itu akan didukung penuh oleh Walikota dan Wakil Walikota Bima. Tinggal nanti, Walikota Bima mengeluarkan instruksi sebagai penguat regulasi tersebut.

Ia pun mengapresiasi kritik yang konstruktif dari Akademisi STISIP Mbojo Bima, Syarif Ahmad. Solusi yang diinginkan untuk Rimpu itu memang sejak awal telah dipikirkan olehnya untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari – hari.

“Insya Allah, ini tentu menjadi harapan kita bersama, agar Rimpu kembali kearifan lokal dan menjadi identitas daerah yang kuat,” jelasnya.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.

1 komentar

  1. Air minum

    Terlalu panas gunakan rimpu ibu ku….sekarang hijaukan dulu tanaman seperti jaman h.qurais ini gersang Krn tidak air…. Air sudah di rampok oleh perusahaan yang tidak memiliki hati nurani membagikan. Ssbagian buat masyarakat… Mana dokumen pemberdayaan Atua pemerintah ini hanya dia diri… Kami ke hausan apalagi klo gunakan rimpu

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *