Sepakat Dengan Penjelasan Syahwan Soal Air, Haris: Perlu Diperkuat dengan Perda

Kota Bima, Kahaba.- Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kota Bima Abdul Haris menyampaikan komentar soal penjelasan Muhammad Syahwan mengenai kondisi krisis air di Kota Bima. Hanya saja, perlu ada regulasi berupa peraturan daerah, untuk memperkuat. (Baca. Krisis Air di Kota Bima, 6 Perusahaan Air Harus Bertanggungjawab)

Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kota Bima Abdul Haris. Foto: Bin

“Pikiran Syahwan itu banyak benarnya, dan saya sepakat. Pengeboran dengan jarak yang dekat, memang perlu dibuatkan Perda, untuk penyempurnaan nanti,” katanya, Selasa (20/10).

Kendati kekhwatiran yang disampaikan Syahwan itu wajar, namun menurutnya itu jangka panjang. Karena tetap kubikasi air yang diambil saat ini masih bisa terpantau oleh daya dukung lingkungan. Jadi, tidak sebanyak dan sehebat yang dikhawatirkan.

“Boleh sih khawatir, kalau nanti pada akhirnya banyak sekali usaha seperti itu, sehingga turun air permukaan tanah. Jadi kekhawatiran itu boleh lah untuk menyadarkan kita,” ujarnya.

Haris juga menegaskan, kekeringan saat ini bukan semata – mata karena perusahan air minum. Tapi karena pengaruh elnino atau kemarau panjang. Dan itu terjadi di seluruh Indonesia, bukan saja di Bima.

Mengenai kontribusi perusahaan air minum untuk warga disaat krisis air seperti ini menurut Haris, sebagian besar hampir semua perusahaan yang datanginya memiliki CSR, dan itu dilaksanakan. Bentuknya, bisa berupa memberikan air kepada warga untuk acara doa dan nikah. Tidak hanya itu, dalam bentuk uang, juga jika ada warga yang datang bawa proposal kegiatan, juga dibantu.

“Hampir semua melakukannya, dan itu sudah ada perjanjian dalam dokumen UKL UPL,” terangnya.

Untuk distribusi air ke wilayah kekeringan saat ini menurut dia, tinggal diminta saja oleh warga mengalami krisis air. Dirinya merasa akan tetap diberikan. Ketua RT atau lurah yang melihat warganya krisis air, tinggal berkoordinasi dengan perusahaan air minum.

“Saya kira orang orang kaya itu tidak akan terlalu berat untuk memberikannya, asalkan diminta saja,” ujarnya.

Pada kesempatan itu dirinya juga memohon juga masyarakat tetap menciptakan suasana kondusif untuk usaha yang ada di Bima. Karena harus diakui, daerah juga membutuhkan investasi untuk mengurangi pengangguran di Bima.

*Kahaba-01

Komentari Berita Via Facebook
Komentar adalah tanggapan pribadi, bukan mewakili kebijakan redaksi kahaba.net. Kami berhak mengubah atau tidak menayangkan komentar yang mengandung spam atau kata-kata berbau pelecehan, intimidasi, dan SARA.
  1. bima

    Tidak ada hubungan kekeringan air dengan pengeboran air dalam…..karena kekeringan yang terjadi sekarang ini merupakan akumulasi dari penggundulan hutan yang secara masif dilakukan di gunung-gunung di era yang lalu menjadikan hutan menjadi lahan yang dikelola masyarakat hanya untuk kepentingan suara seperti di ncai kapenta…..solusi hanya satu yaitu reboisasi atau penghijauan….di semua titik gunung kota bima….

  2. Sasi

    Ia benar mas awalnya dari hutan… Tapi klo Maslah pengambilan air tidak di atur terus di lepas begitu saja para perusahaan ini senaknya… Apa tidak ada kewajiban mereka buat masyarakat… Ini kita bahas tentang pengambilan air tanah… Tetap hutan harus di lestarikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *